Tes Urine Mendadak Bongkar Skandal Narkoba di Kantor Camat Bantan, Tiga ASN Terjerat!
Ilustrasi tes urine. Foto : Istimewa
Bengkalis, SABANGMERAUKE NEWS - Tiga aparatur pemerintah di Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, tersandung kasus narkotika usai hasil tes urine mendadak menunjukkan positif zat terlarang. Aparat kepolisian langsung bergerak cepat melakukan pemeriksaan intensif terhadap ketiganya. Kasus ini memicu sorotan serius terhadap integritas aparatur negara.
Pengungkapan bermula dari operasi mendadak Satuan Reserse Narkoba Polres Bengkalis, Kamis, 16 April 2026. Sebanyak 60 pegawai yang terdiri dari ASN, PPPK, dan staf kantor camat menjalani tes urine. Hasilnya, tiga pegawai PPPK berinisial R, B, dan D dinyatakan positif Methamphetamine dan Amphetamine.
Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar, menegaskan ketiga oknum tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif. “Penyidik masih mendalami kasus ini, termasuk menentukan langkah hukum selanjutnya,” ujarnya, Jumat, 17 April 2026. Penentuan status, termasuk kemungkinan penahanan atau rehabilitasi, akan diputuskan berdasarkan hasil penyidikan.
Langkah tegas ini disebut sebagai bagian dari strategi preventif sekaligus penegakan hukum di lingkungan pemerintahan. Fahrian menekankan pentingnya deteksi dini untuk mencegah penyalahgunaan narkoba semakin meluas. “Ini komitmen menciptakan lingkungan kerja yang bersih dari narkotika,” tegasnya.
Camat Bantan, Aulia Fikri, menyatakan pemeriksaan ini merupakan langkah nyata perang terhadap narkoba. Ia menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir penyalahgunaan narkotika di lingkungan kerja. “Pemeriksaan akan dilakukan berkala agar disiplin pegawai tetap terjaga,” ujarnya.
Kasus ini sekaligus membuka fakta bahwa ancaman narkotika telah menyasar aparatur pemerintahan. Upaya bersih-bersih internal menjadi sorotan publik sebagai langkah populis menjaga kepercayaan masyarakat. Pemerintah daerah didorong memperketat pengawasan serta pembinaan pegawai.
Polres Bengkalis memastikan proses hukum berjalan profesional dan transparan dengan koordinasi lintas instansi. Penanganan tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga rehabilitasi bagi pengguna. Hal ini dilakukan untuk menekan angka penyalahgunaan narkoba secara berkelanjutan.
Selama operasi berlangsung, situasi tetap aman dan kondusif tanpa hambatan berarti. Namun, kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh aparatur negara. Integritas dan kedisiplinan dinilai menjadi benteng utama melawan ancaman narkotika di birokrasi.(R-04)

