Kepala Desa Nyaris Sesak Dikepung Api Saat Padamkan Karhutla di Malam Lebaran Pulau Topang
Kebakaran di Pulau Topang, Kecamatan Rangsang, Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Memasuki hari keempat Idul Fitri, suasana malam di Pulau Topang, Kecamatan Rangsang, yang seharusnya masih dipenuhi hangatnya silaturahmi dan tawa keluarga, mendadak berubah menjadi kepanikan. Pada Selasa malam (24/3/2025) sekitar pukul 20.00 WIB, warga dikejutkan oleh kobaran api yang tiba-tiba membumbung tinggi di tengah gelapnya malam.
Api terlihat cepat menjalar, melahap lahan semak belukar di Jalan Pemuda, Dusun 3 Sejahtera. Cahaya merah menyala yang memecah sunyinya malam Lebaran membuat sebagian warga berhamburan keluar rumah. Sebagian berlari mendekat untuk memastikan keadaan, sebagian lainnya segera menghubungi perangkat desa dan saling memberi kabar kepada tetangga.
Di saat banyak warga masih berada di rumah-rumah keluarga untuk bersilaturahmi, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) justru datang tanpa aba-aba.
Kepala Desa Topang, Syamsuharto, yang saat kejadian berada di kediamannya, mengaku langsung bergerak cepat menuju lokasi begitu mendapat informasi dari warga. Tanpa menunggu lama, ia bersama masyarakat setempat bahu-membahu melakukan upaya pemadaman secara manual menggunakan peralatan seadanya.
“Mendapat kabar adanya kebakaran, saya langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Rabu pagi (25/3/2026).
Semangat kebersamaan yang biasanya terasa dalam suasana Lebaran malam itu berubah menjadi solidaritas dalam menghadapi musibah. Warga saling membantu memadamkan api agar tidak meluas ke area lain yang lebih berisiko, termasuk mendekati permukiman.
Di tengah suasana Lebaran yang masih terasa hangat di Pulau Topang, perjuangan memadamkan kobaran api pada malam itu tidaklah mudah. Jumlah warga yang turun membantu pemadaman sangat terbatas.
Namun, bagi Kepala Desa Topang Syamsuharto, kondisi tersebut tetap ia pahami sebagai bagian dari situasi hari raya yang membuat sebagian masyarakat masih berada dalam suasana silaturahmi bersama keluarga.
Meski demikian, di balik keterbatasan itu, ia tetap memilih bergerak cepat. Bersama anggota Linmas, ia segera membawa mesin robin menuju lokasi kebakaran begitu menerima laporan dari warga. Tanpa menunggu banyak bantuan, mereka berupaya memadamkan api yang terus merambat di tengah gelapnya malam.
Namun ditengah kejadian itu tidak ada pihak kepolisian yang hadir karena diketahui sedang berada di luar wilayah dimana seharusnya siaga dalam operasi lebaran. Bahkan ia merasakan sesak karena dikepung oleh api dan asap.
“Saya bersama Linmas langsung membawa mesin robin ke tempat terbakar setelah mendapatkan informasi. Tidak banyak yang datang karena masih dalam suasana Lebaran. Bhabinkamtibmas juga sedang tidak ada di tempat karena diinformasikan berada di Medan. Saya hampir sesak dan lemas karena terkepung api dan terhirup asap pekat,” tuturnya.
Situasi di lapangan saat itu tidak hanya menuntut tenaga, tetapi juga keberanian. Kobaran api yang cepat merambat di lahan kering membuat jarak pandang terbatas, sementara asap tebal menyelimuti area sekitar. Bahkan, Syamsuharto sendiri mengaku sempat merasakan sesak napas karena berada terlalu dekat dengan kepungan api.
Yang lebih membuatnya prihatin, di tengah perjuangan memadamkan api tersebut, masih ada warga yang memilih merekam peristiwa kebakaran dan menyebarkannya ke media sosial, alih-alih turut membantu proses pemadaman.
“Saya sudah sangat sesak saat dalam kepungan api, namun banyak yang malah memviralkan dengan mengambil video tanpa ada upaya melakukan pemadaman,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Dari hasil penanganan di lapangan, diketahui lahan yang terbakar merupakan kebun kelapa dan semak belukar yang telah lama tidak terurus. Kondisi vegetasi yang kering serta tiupan angin malam diduga mempercepat penyebaran api. Bahkan, kawasan tersebut juga dikenal sebagai habitat buaya sehingga menambah risiko bagi warga yang melakukan pemadaman secara manual.
“Hampir sejam kami mematikan apinya. Diduga api berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan di semak belukar yang kering dari kebun yang tidak terurus. Di sana juga merupakan sarang buaya. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar dua hektare,” jelasnya.
Meski api berhasil dipadamkan, upaya penanganan tidak berhenti sampai di situ. Keesokan paginya, pemerintah desa bersama sejumlah warga kembali turun ke lokasi untuk melakukan pendinginan guna memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala.
“Pagi harinya kami bersama sejumlah warga kembali ke lahan tersebut untuk melakukan pendinginan dengan memanfaatkan air parit agar api tidak menyala kembali,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah suasana kemenangan Lebaran sekalipun, kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran tetap harus dijaga. Dan di Pulau Topang malam itu, semangat gotong royong—meski dengan keterbatasan tetap menjadi kekuatan utama menghadapi bencana.
Peristiwa kebakaran lahan yang terjadi di Pulau Topang ternyata bukan satu-satunya insiden yang mengusik suasana Lebaran di wilayah Kecamatan Rangsang. Di waktu yang hampir bersamaan, kebakaran juga dilaporkan terjadi di Desa Tebun dan Desa Tanjung Kedabu. Situasi ini membuat masyarakat yang seharusnya masih menikmati hangatnya silaturahmi Idul Fitri terpaksa turun langsung ke lapangan untuk berjibaku memadamkan api.
Dengan peralatan seadanya, warga bahu-membahu menghadapi kobaran api yang perlahan merambat di lahan kering. Mesin robin, ember, hingga air parit menjadi andalan masyarakat dalam upaya pemadaman. Semangat gotong royong pun kembali terlihat, meski dilakukan di tengah suasana hari raya yang semestinya diisi dengan kebersamaan bersama keluarga.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana ancaman kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan serius di wilayah Kecamatan Rangsang. Bahkan di tengah momentum Lebaran sekalipun, warga tetap harus siaga menghadapi risiko yang bisa datang kapan saja.
Peristiwa kebakaran yang terjadi hampir bersamaan di beberapa desa itu sekaligus menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan bersama serta peran seluruh pihak dalam mencegah terjadinya karhutla, terutama pada musim kering dan di kawasan lahan yang telah lama tidak terkelola. (R-01)

