Fenomena Mengejutkan! Sekolah Islam di Kanada Meledak di Tengah Isu Islamofobia
Ilustrasi sekolah muslim yang ada di Kanada. Foto: SM News/Create by AI
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Lonjakan kekhawatiran terhadap Islamofobia di Kanada menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya minat orang tua Muslim menyekolahkan anak-anak mereka di institusi pendidikan berbasis Islam. Di tengah meningkatnya laporan kejahatan kebencian terhadap Muslim, sekolah Islam kini tidak hanya dilihat sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang aman untuk menjaga identitas dan keyakinan generasi muda.
Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya sekolah Islam yang bermunculan di berbagai wilayah Kanada. Orang tua Muslim mulai mempertimbangkan kembali sistem pendidikan negeri yang dinilai belum sepenuhnya mampu melindungi anak-anak mereka dari diskriminasi maupun tekanan sosial yang berpotensi mengikis identitas keagamaan.
Kepala Edmonton Islamic Academy (EIA), Abraham Abougouche, menegaskan bahwa keberadaan sekolah Islam bukan berarti menjauhkan diri dari Kanada. Justru sebaliknya, ia menekankan bahwa para siswa, guru, dan staf tetap memiliki komitmen kuat sebagai warga negara Kanada. Pernyataan ini menjadi penting di tengah stigma yang kerap mengaitkan pendidikan Islam dengan eksklusivitas.
Menurut Abougouche, identitas sebagai Muslim dan sebagai warga Kanada harus berjalan beriringan. Ia mengakui bahwa menjaga keseimbangan tersebut bukan perkara mudah. Asimilasi yang berlebihan, kata dia, bisa berisiko menghilangkan jati diri seseorang sekaligus memutus hubungan dengan akar budaya dan agama.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan banyak keluarga Muslim lainnya. Mereka menilai sistem sekolah negeri yang cenderung sekuler berpotensi menjauhkan anak dari nilai-nilai Islam. Di sisi lain, adanya pengalaman diskriminasi membuat sebagian orang tua merasa perlu mencari alternatif pendidikan yang lebih aman secara emosional dan spiritual.
Data dari Islamic Schools Association of Canada menunjukkan jumlah siswa di sekolah Islam swasta terus meningkat. Bahkan, banyak sekolah mengalami lonjakan pendaftar hingga harus menerapkan daftar tunggu panjang. Kondisi ini menandakan adanya pergeseran preferensi di kalangan komunitas Muslim dalam memilih pendidikan.
Edmonton Islamic Academy menjadi salah satu contoh sukses. Didirikan pada 1987, sekolah ini kini menampung sekitar 1.400 siswa. Tak hanya itu, pihak sekolah juga tengah melakukan ekspansi besar-besaran senilai sekitar C$80 juta untuk mengakomodasi lebih dari 1.500 calon siswa yang masih menunggu giliran.
Namun, pertumbuhan ini juga memicu persaingan. Sejumlah lembaga Islam lainnya mulai membangun sekolah baru, termasuk proyek besar yang digagas oleh Omar Ibn Al Khattab Centre di Edmonton. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendidikan berbasis Islam terus meningkat.
Di balik ekspansi ini, isu Islamofobia tetap menjadi latar belakang utama. Sejumlah laporan menyebutkan adanya peningkatan kasus ujaran kebencian terhadap Muslim. Bahkan, ada cerita tentang guru di sekolah negeri yang meminta siswa Muslim untuk “kembali ke negara mereka,” sebuah pernyataan yang memperkuat kekhawatiran orang tua.
Meski demikian, pemerintah dan institusi pendidikan negeri tidak tinggal diam. Beberapa dewan sekolah di Ontario, Manitoba, dan British Columbia telah mengadopsi kebijakan anti-Islamofobia. Upaya ini menunjukkan adanya kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, meskipun implementasinya masih menjadi tantangan.
Sekolah Islam sendiri tetap diwajibkan mengikuti kurikulum resmi yang ditetapkan pemerintah provinsi. Hal ini memastikan bahwa standar pendidikan seperti matematika, sains, dan ilmu sosial tetap terpenuhi. Namun, sekolah-sekolah ini juga berusaha kreatif memasukkan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran.
Sebagai contoh, pelajaran sains tentang siklus air di beberapa sekolah dikaitkan dengan konsep bahwa air adalah berkah dari Tuhan. Sementara itu, pelajaran matematika sering menyoroti kontribusi ilmuwan Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkuat identitas sekaligus meningkatkan rasa bangga terhadap warisan Islam.
Selain itu, banyak sekolah Islam memperpanjang jam belajar agar siswa dapat mempelajari Al-Qur’an secara lebih mendalam. Dalam beberapa kasus, siswa bahkan ditargetkan menghafal surah setiap tahun. Aktivitas ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan spiritualitas siswa.
Namun, tidak semua pihak melihat tren ini secara positif. Sejumlah sosiolog dan pendidik khawatir bahwa meningkatnya segregasi sosial dapat mengurangi interaksi antar kelompok. Kekhawatiran ini muncul karena beberapa siswa cenderung hanya bergaul dengan sesama Muslim, yang berpotensi menghambat integrasi sosial.
Meski begitu, pihak sekolah Islam berupaya menjaga keseimbangan. Mereka tetap menjalin hubungan dengan sekolah non-Muslim dan membuka ruang interaksi antar siswa dari latar belakang berbeda. Abougouche menyebut pendekatan ini sebagai upaya menciptakan “gelembung perlindungan” yang tetap memungkinkan siswa berinteraksi dengan dunia luar.
Dalam praktiknya, kehidupan di sekolah Islam mencerminkan perpaduan antara identitas keagamaan dan budaya Kanada. Siswa bisa menikmati makanan khas seperti poutine saat makan siang, lalu melaksanakan salat berjamaah di masjid sekolah. Bagi Abougouche, kombinasi ini adalah simbol bahwa menjadi Muslim dan warga Kanada bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Fenomena berkembangnya sekolah Islam di Kanada menunjukkan dinamika kompleks antara identitas, keamanan, dan integrasi sosial. Di tengah meningkatnya Islamofobia, sekolah-sekolah ini hadir sebagai alternatif yang tidak hanya menawarkan pendidikan, tetapi juga perlindungan identitas. (R-05)

