Rupiah Tersungkur Empat Hari, Dolar AS Makin Sulit Dibendung
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Mata uang Garuda kembali ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Pelemahan itu memperpanjang tren negatif selama empat hari berturut-turut.
Rupiah ditutup di kisaran Rp18.055 per dolar Amerika Serikat. Nilainya terkoreksi sekitar 0,31 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Posisi itu menjaga rupiah tetap berada di atas level psikologis Rp18.000.
Sejak pembukaan perdagangan, tekanan sudah terlihat jelas. Rupiah dibuka di sekitar Rp18.060 per dolar AS. Pelemahan sempat bertambah hingga menyentuh Rp18.095.
Menjelang penutupan pasar, tekanan sedikit mereda. Rupiah memangkas sebagian kerugiannya pada sesi akhir. Namun penguatan kecil itu belum mengubah arah pergerakan harian.
Pasar menilai tekanan kali ini bukan sekadar persoalan domestik. Faktor global dan dalam negeri saling bertemu. Kombinasi tersebut memperberat ruang gerak rupiah.
Perhatian investor kini tertuju kepada Bank Indonesia. Pergantian kepemimpinan bank sentral masih menjadi sorotan utama. Pelaku pasar menunggu arah kebijakan berikutnya.
Pengunduran diri Perry Warjiyo memunculkan fase transisi baru. Bank Indonesia kemudian menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti. Penunjukan itu dilakukan sebagai pejabat Gubernur sementara.
Destry memastikan kebijakan moneter tetap berjalan normal. Stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama bank sentral. Seluruh keputusan tetap diambil secara kolektif.
"Stabilitas pasar harus dijaga melalui koordinasi yang konsisten," ujar Destry Damayanti.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi investor. Pasar membutuhkan kepastian lebih dari sekadar pergantian jabatan. Kepercayaan menjadi modal utama menjaga stabilitas rupiah.
Dari luar negeri, tekanan datang melalui penguatan dolar AS. Indeks dolar bertahan di kisaran level tertinggi bulanan. Kondisi itu memperbesar daya tarik aset berbasis dolar.
Pelaku pasar juga menunggu hasil rapat Federal Reserve. Pertemuan berlangsung selama dua hari. Keputusan diumumkan setelah rapat berakhir.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat meningkat. Peluang kenaikan sekitar 25 basis poin semakin besar. Harapan itu mendorong permintaan terhadap dolar.
"Investor global masih memilih aset yang dianggap lebih aman," kata seorang analis pasar keuangan.
Menurutnya, penguatan dolar bukan fenomena sesaat. Pasar sedang mengantisipasi kebijakan moneter lebih ketat. Arus modal kemudian bergerak mengikuti sentimen tersebut.
Tekanan tidak hanya dirasakan Indonesia. Sejumlah mata uang Asia juga bergerak melemah. Namun rupiah termasuk yang mengalami tekanan lebih besar.
Dolar Taiwan ikut kehilangan nilai terhadap dolar AS. Dolar Singapura dan ringgit Malaysia juga terkoreksi. Yuan China serta baht Thailand mengalami pelemahan serupa.
Sebagian mata uang Asia masih mampu bertahan. Won Korea Selatan berhasil mencatat penguatan. Rupee India dan peso Filipina juga bergerak positif.
Perbedaan tersebut menunjukkan respons pasar tidak seragam. Setiap negara menghadapi tantangan berbeda. Faktor domestik menjadi pembeda utama.
Di dalam negeri, pasar keuangan masih bergejolak. Indeks Harga Saham Gabungan kembali berakhir di zona merah. Aksi jual investor asing turut membebani sentimen.
Tekanan pada pasar saham ikut memengaruhi rupiah. Arus keluar dana asing meningkatkan permintaan dolar. Nilai tukar kemudian bergerak semakin lemah.
Pelaku usaha kini mencermati perkembangan secara hati-hati. Importir menghadapi biaya lebih tinggi akibat dolar mahal. Sementara eksportir memperoleh keuntungan kurs lebih besar.
Analis mengingatkan pelaku pasar menghindari keputusan emosional. Fluktuasi nilai tukar masih berpotensi berlanjut. Investor disarankan memperhatikan fundamental ekonomi.
Bank Indonesia diperkirakan tetap aktif menjaga stabilitas pasar. Intervensi akan disesuaikan dengan kebutuhan. Langkah tersebut penting menjaga kepercayaan investor.
Pasar kini menunggu dua kepastian besar sekaligus. Pertama, arah kepemimpinan permanen Bank Indonesia. Kedua, keputusan suku bunga Federal Reserve.
Selama dua faktor itu belum terjawab, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Rupiah masih menghadapi tekanan dari berbagai arah. Dolar Amerika Serikat tetap menjadi penguasa utama pasar valuta asing.
BERITA TERKAIT :
-
Gubernur BI Mundur
Rupiah Kembali Tersungkur, Sentimen Dalam Negeri Jadi Sorotan Investor
-
Gubernur BI Mundur
Semua Mata Uang Asia Menguat, Rupiah Malah Terjun Bebas
-
Gubernur BI Mundur
Merah Sendiri! IHSG Jatuh Saat Bursa Asia Semakin Menguat

