Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000, Harga Minyak Bikin Pasar Keuangan Gemetar
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Rupiah menutup pekan dengan langkah tertatih. Nilai tukar berakhir di Rp17.943 per dolar Amerika Serikat. Tekanan global kembali menguasai ruang perdagangan domestik.
Pelemahan rupiah mencapai 0,16 persen pada penutupan Jumat. Angka itu memperlihatkan pasar masih berhati-hati. Investor memilih mengurangi risiko di tengah ketidakpastian dunia.
Akar persoalan belum berpindah dari pasar energi. Harga minyak mentah bertahan di level tinggi. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia.
Harga minyak Brent memang turun pada perdagangan sore. Penurunan mencapai sekitar 1,97 persen. Brent tetap bertahan di kisaran US$98,72 per barel.
Level tersebut masih dianggap mahal oleh pelaku pasar. Harga energi tinggi memperbesar biaya impor. Risiko terhadap neraca perdagangan ikut meningkat.
Tekanan tidak berhenti di pasar valuta asing. Pasar obligasi global juga ikut bergejolak. Investor meminta imbal hasil lebih tinggi.
Bloomberg Global Treasury Index mencatat lonjakan imbal hasil rata-rata. Angkanya mencapai 3,68 persen. Posisi itu tertinggi sejak krisis keuangan global 2008.
Pergerakan tersebut mengirim sinyal tegas. Modal global semakin selektif mencari tempat aman. Negara berkembang ikut merasakan dampaknya.
Pelaku pasar kemudian melepas sebagian surat utang. Harga obligasi turun selama perdagangan berlangsung. Imbal hasil otomatis bergerak naik.
Fenomena serupa terlihat pada Surat Utang Negara Indonesia. Hampir seluruh tenor mengalami kenaikan yield. Tekanan muncul sepanjang sesi perdagangan.
Yield SUN tenor sepuluh tahun naik menjadi 7,36 persen. Kenaikannya mencapai 2,1 basis poin. Instrumen acuan itu kembali kehilangan tenaga.
Kenaikan lebih tajam terlihat pada tenor tiga belas tahun. Yield melonjak 8,3 basis poin. Posisinya berakhir di kisaran 7,40 persen.
Surat utang tenor delapan tahun ikut terdorong naik. Imbal hasil mencapai 7,37 persen. Kenaikan tercatat sebesar 3,4 basis poin.
Tenor pendek juga gagal bertahan. Yield dua tahun naik menjadi 7,15 persen. Pasar memperlihatkan tekanan hampir merata.
Kondisi tersebut memperlihatkan investor meminta kompensasi lebih tinggi. Risiko global dianggap belum mereda. Arus dana tetap bergerak sangat hati-hati.
Tim Riset Bloomberg Technoz menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi tekanan eksternal. Harga minyak masih menjadi faktor dominan. Pasar juga mencermati risiko fiskal Indonesia.
"Pelaku pasar masih mengukur dampak harga energi terhadap ruang fiskal nasional," tulis Tim Riset Bloomberg Technoz.
Kenaikan harga minyak membawa konsekuensi luas. Beban subsidi energi berpotensi meningkat. Pengeluaran pemerintah ikut menghadapi tekanan.
Tekanan fiskal juga dapat memengaruhi persepsi investor. Stabilitas anggaran terus dipantau. Ruang pembiayaan menjadi perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, biaya impor energi ikut bertambah. Permintaan dolar Amerika Serikat meningkat. Rupiah akhirnya kehilangan sebagian kekuatannya.
Pasar global masih bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian. Konflik geopolitik belum sepenuhnya mereda. Harga komoditas tetap sulit diprediksi.
Bank sentral berbagai negara juga menjaga kebijakan ketat. Suku bunga global bertahan tinggi. Arus modal terus berpindah mengikuti tingkat keuntungan.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang tertekan. Rupiah berada dalam kelompok itu. Pergerakannya sangat dipengaruhi sentimen global.
Meski demikian, pelemahan rupiah belum berdiri sendiri. Banyak mata uang regional mengalami tekanan serupa. Investor memilih aset dengan risiko lebih rendah.
Pasar kini menunggu arah baru harga minyak. Investor juga mengamati perkembangan pasar obligasi dunia. Dua faktor itu akan menentukan langkah rupiah berikutnya.
Pergerakan nilai tukar pekan depan diperkirakan masih fluktuatif. Sentimen global belum menunjukkan perubahan besar. Pelaku pasar tetap menjaga posisi secara hati-hati.
"Volatilitas pasar masih tinggi sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko," tulis Tim Riset Bloomberg Technoz.
Selama harga minyak bertahan tinggi, tekanan belum selesai. Pasar obligasi masih berpotensi bergejolak. Rupiah pun harus menghadapi ujian berikutnya. R-02

