Harimau Sumatera Terkam Anak 12 Tahun, Tim BBKSDA Perkuat Mitigasi di Pelalawan
Tragedi satwa liar kembali terjadi di Kabupaten Pelalawan, Riau, setelah seorang bocah berusia 12 tahun meninggal akibat serangan Harimau Sumatera. Foto : Istimewa
PELALAWAN, SabangMerauke News - Tragedi satwa liar kembali terjadi di Kabupaten Pelalawan, Riau, setelah seorang bocah berusia 12 tahun meninggal akibat serangan Harimau Sumatera. Insiden berlangsung di kawasan camp pekerja PBPH-HTI PT Madukoro Lestari Tasik Estate saat korban berada dekat kamar mandi. BBKSDA Riau langsung mengerahkan tim mitigasi guna menyelidiki penyebab serangan sekaligus mencegah kejadian serupa.
Seorang bocah bernama Jerlin Zalukhu kehilangan nyawa akibat serangan Harimau Sumatera pada Selasa dini hari. Peristiwa berlangsung sekitar pukul 04.30 WIB di kawasan camp pekerja perusahaan hutan tanaman industri. Korban sempat diseret predator sebelum ditemukan meninggal beberapa meter dari lokasi awal.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengungkapkan hasil investigasi awal memperlihatkan kronologi kejadian cukup jelas. “Korban diserang sekitar pukul 04.30 WIB saat berada di luar kamar mandi camp pekerja,” ujar Supartono, Jumat. Tim segera bergerak menuju lokasi usai menerima laporan dari perusahaan.
Informasi lapangan menunjukkan korban sedang menemani kakaknya mencuci peralatan makan menjelang subuh. Harimau diduga masuk melalui pagar pelindung belakang camp dalam kondisi rusak serta terbuka. Situasi tersebut memberi celah predator mendekati area permukiman pekerja tanpa hambatan berarti.
Korban ditemukan sekitar sepuluh meter dari belakang camp dengan luka serius pada bagian leher. “Korban kemudian ditemukan sekitar 10 meter di belakang camp dengan luka pada bagian leher kiri dan kanan,” kata Supartono. Tim memastikan lokasi langsung diamankan demi kepentingan investigasi lanjutan.
Tim BBKSDA Riau kemudian berkoordinasi bersama manajemen perusahaan menyusun langkah penanganan lapangan secara menyeluruh. Proses mencakup observasi lokasi, pengumpulan bukti, serta olah tempat kejadian perkara secara rinci. “Tim mitigasi sedang berkoordinasi dengan pihak perusahaan untuk menyusun rencana observasi lapangan,” ucap Supartono.
Hasil pemetaan memperlihatkan camp pekerja berada dekat kawasan habitat alami Harimau Sumatera di Pelalawan. Lokasi berjarak sekitar 5,3 kilometer dari Taman Nasional Zamrud serta 5,7 kilometer dari kawasan RER. Posisi tersebut meningkatkan potensi interaksi satwa liar dengan aktivitas manusia.
Petugas menemukan jejak Harimau Sumatera mengelilingi area camp sesaat setelah proses identifikasi lapangan selesai dilakukan. Jejak memiliki panjang sekitar 16 sentimeter dengan lebar mencapai 15 sentimeter. Jarak langkah terjauh kaki depan serta belakang diperkirakan mencapai 120 sentimeter.
Laporan kemunculan Harimau Sumatera terus berdatangan hingga Jumat petang dari sekitar kawasan kejadian tersebut. BBKSDA Riau segera memasang camera trap guna memantau pergerakan satwa liar secara berkelanjutan. “Saat ini tim sedang melakukan pemasangan camera trap di sekitar lokasi kejadian,” ujar Supartono.
Tim menduga kemunculan predator berkaitan keberadaan satwa mangsa peliharaan di dalam kawasan camp pekerja. Satwa tersebut dinilai menarik perhatian Harimau Sumatera mendekati lingkungan aktivitas manusia setiap hari. “Petugas dan manajemen PT Madukoro Lestari melakukan penyitaan terhadap satwa mangsa tersebut,” tegas Supartono.
BBKSDA Riau mengimbau pekerja serta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terutama saat malam hingga menjelang subuh setiap hari. Aktivitas seorang diri di sekitar habitat Harimau Sumatera diminta dihentikan demi mengurangi potensi serangan. Sistem pengamanan camp juga wajib diperiksa rutin serta segera melaporkan kemunculan satwa liar kepada petugas.
Supartono menegaskan penanganan dilakukan secara terukur demi menjaga keselamatan manusia sekaligus kelestarian Harimau Sumatera. “Tim BBKSDA Riau akan terus melakukan upaya penanganan secara terukur bersama pihak terkait,” tutup Supartono. Investigasi masih berlangsung sambil memperkuat mitigasi pada kawasan rawan konflik manusia dan satwa liar.(R-04)

