Polemik Ritual Adat Lampung, Jokowi: Jangan Semua Hal Dikaitkan dengan Politik
Presiden ke-7 RI Joko Widodo menegaskan prosesi menginjak kepala kerbau saat menerima gelar adat Lampung tidak memiliki muatan politik. Foto : Istimewa
SOLO, SabangMerauke News - Presiden ke-7 RI Joko Widodo menegaskan prosesi menginjak kepala kerbau saat menerima gelar adat Lampung tidak memiliki muatan politik. Ritual tersebut merupakan bagian tradisi masyarakat adat Lampung sejak ratusan tahun. Jokowi mengajak seluruh masyarakat menghormati keberagaman budaya sebagai kekayaan bangsa Indonesia.
Jokowi menyampaikan penjelasan itu saat ditemui awak media di kediamannya kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, Selasa. Ia menilai prosesi adat tersebut murni bentuk penghormatan dari masyarakat adat Lampung. Jokowi meminta publik menghentikan berbagai tafsir politik terhadap ritual tersebut.
“Ya itu bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung. Bentuk penghormatan dari Istana Kedaton Kerajaan Lampung,” ujar Jokowi.
Jokowi mengaku merasa terhormat menerima gelar adat dari Kedatun Keagungan Lampung melalui prosesi resmi tersebut. Ia menilai penghargaan budaya semestinya dipahami sesuai nilai adat setempat. Pembahasan politik dinilai tidak memiliki keterkaitan dengan prosesi budaya tersebut.
“Saya merasa terhormat diberikan penghargaan. Jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering tidak sambung,” tegasnya.
Jokowi juga mengingatkan pentingnya menjaga keberagaman adat istiadat sebagai identitas bangsa Indonesia. Kekayaan budaya dinilai menjadi warisan berharga lintas generasi hingga masa mendatang. Seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menghormati tradisi daerah masing-masing.
“Kita harus terus menghargai adat istiadat, menghargai kearifan lokal, menghargai kebudayaan karena budaya Indonesia sangat beragam,” ucap Jokowi.
Saat ditanya mengenai kemunculan kepala kerbau putih dikaitkan lambang banteng moncong putih, Jokowi hanya tersenyum. Ia kembali menegaskan prosesi tersebut merupakan ritual adat turun-temurun masyarakat Lampung. Tradisi itu telah berlangsung berkali-kali selama ratusan tahun.
“Itu ritual adat. Sekali lagi itu ritual adat yang sudah ratusan kali dilakukan,” kata Jokowi sambil tertawa.
Jokowi menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa dari Kedatun Keagungan Lampung pada akhir Juni lalu. Prosesi berlangsung di Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, dengan tata cara adat lengkap. Sejumlah tokoh adat hadir memimpin seluruh rangkaian prosesi pemberian gelar tersebut.
Tokoh adat Lampung Mawardi Rahma Harirama bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur turut memberikan penjelasan. Menurutnya, prosesi muakhi telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Lampung sejak ribuan tahun. Ritual tersebut memiliki makna spiritual sekaligus filosofi pembentukan karakter manusia.
Mawardi menjelaskan kepala kerbau menjadi simbol pengendalian sifat buruk dalam kehidupan manusia sehari-hari. Prosesi menginjak kepala kerbau menggambarkan upaya menundukkan kesombongan, ketamakan, iri hati, serta hawa nafsu. Makna tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kepentingan politik praktis.
“Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat sombong, iri dengki, tamak, serta sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik,” ujar Mawardi.
Penjelasan Jokowi serta tokoh adat diharapkan menghentikan berbagai spekulasi mengenai prosesi pemberian gelar tersebut. Tradisi adat Lampung memiliki nilai budaya, filosofi, serta penghormatan terhadap penerima gelar. Masyarakat diharapkan memandang ritual tersebut sesuai konteks budaya tanpa membawa kepentingan politik.(R-04)

