Usai Dua Bupati Ditangkap, KPK Bongkar Dugaan Kebocoran Operasi Senyap
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Komisi Pemberantasan Korupsi menyelidiki dugaan kebocoran informasi operasi tangkap tangan di Langkat dan Kuantan Singingi. Dugaan tersebut muncul setelah dua kepala daerah terjaring operasi senyap dalam pekan sama. KPK memastikan evaluasi segera dilakukan demi memperkuat kerahasiaan setiap proses penyelidikan.
Komisi antirasuah menilai dugaan kebocoran menjadi perhatian serius selama proses penindakan kasus korupsi berlangsung. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menegaskan evaluasi menyeluruh segera dilakukan terhadap seluruh mekanisme operasi tertutup. “Soal dugaan kebocoran informasi ini menjadi perhatian serius dan bahan evaluasi agar tidak terulang,” ujar Budi Prasetyo.
Evaluasi tersebut dilakukan setelah muncul dugaan informasi operasi lebih dahulu diketahui sejumlah pihak di lapangan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat efektivitas operasi penindakan terhadap pelaku tindak pidana korupsi. KPK masih mengumpulkan seluruh informasi sebelum menyimpulkan penyebab dugaan kebocoran tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menjelaskan sumber informasi masih didalami secara menyeluruh. Dugaan sementara mengarah kepada pihak-pihak yang sebelumnya dimintai klarifikasi penyidik sebelum operasi berlangsung. “Mungkin orang-orang yang diminta klarifikasi memberikan informasi ke pihak lain,” kata Achmad Taufik Husein.
Achmad menjelaskan tim penyidik memang turun langsung menuju lokasi saat operasi dimulai secara tertutup. Kehadiran penyidik berpotensi dikenali masyarakat maupun pihak tertentu selama berada di lapangan. Situasi tersebut membuka peluang informasi operasi tersebar lebih cepat dibanding perkiraan penyidik.
Menurut penyidik, sebagian petugas kemungkinan telah dikenali masyarakat karena pernah bertugas pada wilayah sama sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang sedang diperiksa dalam evaluasi internal KPK. Pendalaman dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan operasi berjalan lebih tertutup pada masa mendatang.
Dalam sepekan terakhir, KPK melaksanakan dua operasi tangkap tangan secara beruntun di dua daerah berbeda. Operasi tersebut berlangsung di Kabupaten Langkat serta Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Dua kepala daerah kemudian ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan bukti permulaan cukup.
Kasus Langkat bermula saat Bupati Syah Afandin menghubungi seorang bernama Yaqub pada malam hari. Pertemuan direncanakan usai menghadiri agenda Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia atau APKASI. Rencana tersebut akhirnya berubah setelah muncul informasi keberadaan tim KPK di wilayah Langkat.
Sekitar pukul sebelas malam, sopir Syah Afandin menghubungi Yaqub agar perjalanan segera dibatalkan sementara. Informasi keberadaan tim KPK membuat rombongan memilih mengubah arah perjalanan menuju lokasi lain. Penyidik akhirnya menghentikan kendaraan saat bergerak menuju Kota Binjai.
Saat penggeledahan kendaraan berlangsung, penyidik menemukan uang tunai senilai Rp100 juta dalam mobil tersebut. Uang itu ditemukan tersimpan di bawah jok kursi penumpang depan saat pemeriksaan dilakukan. Temuan tersebut kemudian diamankan sebagai barang bukti untuk kepentingan proses penyidikan lanjutan.
KPK menegaskan penyelidikan dugaan kebocoran berjalan bersamaan dengan proses hukum terhadap seluruh tersangka. Evaluasi internal juga disiapkan demi memperkuat sistem pengamanan informasi operasi mendatang. Langkah tersebut diharapkan menjaga efektivitas operasi senyap dalam pemberantasan korupsi di berbagai daerah.(R-04)

