Perusahaan Udang Kaesang Anak Jokowi Berutang Rp 2,8 Triliun, Ini Rinciannnya
PT Panca Mitra Multiperdana Tbk mengajukan restrukturisasi kredit setelah menghadapi tekanan likuiditas cukup berat. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - PT Panca Mitra Multiperdana Tbk mengajukan restrukturisasi kredit setelah menghadapi tekanan likuiditas cukup berat. Emiten pengolah udang nasional tersebut memiliki kewajiban perbankan mencapai sekitar Rp2,8 triliun. PT Harapan Bangsa Kita milik Kaesang Pangarep tercatat sebagai pemegang saham sebesar 7,27 persen.
PMMP berdiri sejak 2004 dan berkembang menjadi salah satu eksportir udang terbesar Indonesia. Perusahaan berkantor pusat di Surabaya dengan fasilitas produksi berada di Situbondo serta Tarakan. Kapasitas produksi mencapai 25 ribu ton setiap tahun didukung fasilitas penyimpanan dingin berkapasitas 46 ribu ton.
Perusahaan pernah menempati posisi kedua eksportir udang nasional berdasarkan volume ekspor pada 2019. Produk PMMP dipasarkan menuju Amerika Serikat, Jepang, Eropa, serta sejumlah negara tujuan lainnya. Pasar ritel dan layanan makanan internasional menjadi sasaran utama penjualan perusahaan selama bertahun-tahun.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, kewajiban kredit PMMP mencapai sekitar Rp2,8 triliun. Pinjaman tersebut berasal dari sejumlah bank nasional serta lembaga pembiayaan ekspor dengan nilai besar. Manajemen menegaskan, “Saldo tersebut di atas di luar utang bunga.”
Kredit terbesar berasal dari Bank Permata dengan nilai sekitar Rp953,4 miliar beserta fasilitas tambahan. Perusahaan juga memiliki pinjaman kepada Bank Central Asia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, serta Bank SMBC Indonesia. Pinjaman lain berasal dari Bank Maspion Indonesia dan Bank Resona Perdania dengan nilai ratusan miliar rupiah.
Tekanan likuiditas membuat perusahaan mengalami keterbatasan modal kerja untuk menjaga aktivitas operasional tetap berjalan. PMMP mengungkapkan kebutuhan modal kerja mencapai sekitar 15 juta dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut setara sekitar Rp269 miliar menggunakan kurs dalam dokumen keterbukaan informasi perusahaan.
Kondisi tersebut memaksa perusahaan mengurangi kapasitas produksi secara signifikan selama beberapa waktu terakhir. Saat ini hanya satu fasilitas pengolahan di Situbondo tetap beroperasi memenuhi kebutuhan ekspor. Permintaan pelanggan dipenuhi melalui pembelian produk jadi dari perusahaan lain.
Manajemen menjelaskan mekanisme pembelian dilakukan menggunakan sistem pembayaran setelah hasil ekspor diterima perusahaan. “Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima,” tulis manajemen. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga arus kas tetap berjalan di tengah tekanan keuangan.
Penurunan aktivitas produksi turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja dalam operasional perusahaan. Sejak 2024, PMMP mengakhiri hubungan kerja terhadap puluhan staf serta pekerja harian. Selain itu, puluhan pegawai lainnya memilih mengundurkan diri selama proses penyesuaian operasional berlangsung.
Di tengah tekanan tersebut, perusahaan berharap restrukturisasi kredit mampu memperbaiki kondisi keuangan secara bertahap. Langkah itu diharapkan membuka ruang pemulihan modal kerja serta meningkatkan kembali kapasitas produksi. Proses restrukturisasi juga menjadi perhatian pelaku pasar mengingat posisi PMMP sebagai eksportir udang nasional.(R-04)

