Rupiah Tertekan Lagi, Defisit Dagang Jadi Pemicu Utama Pelemahan
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah kembali kehilangan tenaga pada penutupan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Nilai tukar mata uang Indonesia melemah ke level Rp17.994 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi yang terlemah dalam beberapa waktu terakhir dan nyaris menyentuh batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Tekanan muncul saat mayoritas mata uang Asia justru bergerak menguat. Kondisi ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat bergerak sangat dekat dengan level Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan akhirnya sedikit tertahan setelah indeks dolar Amerika Serikat berbalik turun menjelang rilis data ketenagakerjaan atau Nonfarm Payrolls.
Indeks dolar AS turun menuju level 101 setelah sebelumnya menguat. Pelemahan dolar memberi ruang penguatan bagi yen Jepang, ringgit Malaysia, baht Thailand, dolar Singapura, peso Filipina, yuan China, yuan offshore, serta won Korea Selatan. Rupiah justru bergerak berlawanan arah.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi berbagai sentimen domestik. "Kepercayaan pelaku pasar menghadapi ujian cukup berat," kata Ibrahim.
Faktor yang paling banyak mendapat perhatian pelaku pasar adalah defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026. Defisit mencapai US$1,61 miliar setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama lebih dari enam tahun.
Perubahan tersebut dipandang menjadi sinyal perlambatan sektor perdagangan luar negeri. Selama ini, surplus neraca dagang menjadi salah satu penopang utama stabilitas nilai tukar rupiah.
Defisit muncul akibat lonjakan impor yang jauh lebih besar dibandingkan ekspor. Nilai impor tumbuh lebih dari 22 persen secara tahunan hingga mencapai US$24,81 miliar.
Kenaikan paling tinggi berasal dari impor migas. Nilainya melonjak lebih dari 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas juga ikut meningkat hampir 15 persen.
Di sisi lain, ekspor Indonesia justru mengalami kontraksi sekitar 5,7 persen. Penurunan terjadi pada komoditas migas maupun nonmigas. Ekspor minyak mentah praktis tidak lagi memberikan kontribusi, sedangkan ekspor gas alam turun tajam.
Selain defisit perdagangan, pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi lain. Data manufaktur Indonesia menunjukkan aktivitas industri masih melemah sepanjang Juni 2026.
Purchasing Managers' Index atau PMI manufaktur Indonesia berada pada level 46,9. Angka tersebut mencerminkan sektor manufaktur masih berada dalam fase kontraksi.
Permintaan terhadap produk industri dalam negeri ikut menurun. Pesanan baru juga mengalami perlambatan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal berikutnya.
Ibrahim Assuaibi menyebut sejumlah faktor domestik ikut memengaruhi kepercayaan investor. Mulai dari kondisi fiskal, inflasi, hingga perkembangan pasar modal nasional. "Sentimen negatif datang dari berbagai sisi ekonomi domestik," ujarnya.
Perhatian investor juga tertuju pada posisi cadangan devisa Indonesia. Hingga saat ini, cadangan devisa tercatat sebesar US$144,9 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar 5,5 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Meski masih berada di atas standar internasional, pelaku pasar mulai mencermati kecepatan penyusutan cadangan devisa. Bank Indonesia dinilai masih aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal pemerintah.
Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat BBB. Fitch juga mengingatkan penurunan cadangan devisa dapat memengaruhi penilaian terhadap kualitas utang Indonesia apabila terus berlanjut.
Dari luar negeri, perhatian investor mengarah pada kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Pasar masih menunggu sinyal lanjutan mengenai arah suku bunga Federal Reserve.
Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, belum memberikan petunjuk tegas mengenai langkah berikutnya. Pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan bersikap hati-hati setelah mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen.
Selain itu, data Nonfarm Payrolls Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama. Laporan tersebut dipandang dapat memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan mata uang global dalam beberapa hari ke depan.
Hingga penutupan perdagangan, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia juga melemah ke level Rp17.994 per dolar AS. Pergerakan tersebut menegaskan tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi domestik maupun global. R-02

