Energi Mengamuk, IHSG Hijau Saat Data Ekonomi Memburuk
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit usai tiga hari melemah. Hari ini, Rabu, 1 Juli 2026, menjadi awal semester kedua penuh kejutan. Indeks ditutup naik 0,92 persen ke level 5.695,12. Penguatan belum mencerminkan pemulihan menyeluruh.
IHSG sempat bergerak sangat liar sepanjang perdagangan. Indeks dibuka dekat level 5.640. Tekanan sempat membawa indeks turun ke 5.607. Aksi beli kemudian mendorong indeks menyentuh 5.737. Penguatan akhirnya menyusut menjelang penutupan.
Sebanyak 391 saham menguat sepanjang perdagangan. Sebanyak 263 saham melemah. Sebanyak 305 saham bergerak datar. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp10,25 triliun. Volume perdagangan mencapai 17,05 miliar saham.
Sektor energi menjadi motor penguatan terbesar. Sektor ini melesat 2,61 persen. Sektor bahan baku naik 2,60 persen. Infrastruktur ikut bertambah 1,39 persen.
Sejumlah saham energi mencatat lonjakan tinggi. BBRM melonjak 28,7 persen. RATU melesat 20,1 persen. CUAN bertambah 17 persen. Kenaikan tersebut mengangkat indeks sepanjang sesi kedua.
Kelompok bahan baku ikut memberi tenaga. MBMA naik 10,4 persen. IFSH menguat 9,9 persen. ALKA bertambah 8,3 persen. Rotasi dana terlihat mengarah ke saham komoditas.
Sebaliknya, saham perbankan masih mengalami tekanan. BJBR anjlok 8,5 persen. ARTO turun 4,1 persen. BTPS melemah 2,6 persen. Tekanan juga terjadi pada bank berkapitalisasi besar.
BBRI turun 2,2 persen. BBNI melemah 1,9 persen. BMRI terkoreksi satu persen. BBCA menjadi pengecualian. Saham itu naik sekitar 0,9 persen.
Saham dengan kontribusi terbesar berasal dari BREN. TLKM ikut mendorong penguatan indeks. BRPT serta MBMA juga memberi tambahan tenaga. Di sisi lain, BBRI menjadi penekan terbesar sepanjang perdagangan.
Pelaku pasar masih memilih langkah hati-hati. Aktivitas transaksi belum kembali normal. Nilai perdagangan masih berada di bawah rata-rata harian. Kondisi itu menunjukkan minat beli belum merata.
Tekanan pasar datang dari data ekonomi domestik. Aktivitas manufaktur kembali mengalami kontraksi. PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 selama Juni. Angka tersebut lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.
Neraca perdagangan juga memberi kejutan. Indonesia mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar Amerika Serikat selama Mei. Defisit muncul setelah surplus berlangsung selama enam tahun.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penyebab utama defisit berasal dari perdagangan migas. "Defisit terutama berasal dari komoditas migas, terutama hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng Hartono.
Nilai impor tumbuh sangat tinggi. Impor naik 22,16 persen dibanding tahun lalu. Ekspor justru turun 5,73 persen. Selisih keduanya memicu defisit perdagangan.
Tekanan juga muncul dari inflasi. Inflasi bulanan mencapai 0,44 persen. Inflasi tahunan naik menjadi 3,34 persen. Angka tersebut melampaui perkiraan pasar. Inflasi inti ikut meningkat menjadi 2,76 persen.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar belum sepenuhnya percaya diri. Penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh saham tertentu. Sebaran kenaikan belum merata pada seluruh sektor.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menilai pasar saham nasional masih memerlukan pembenahan. "Kalau merah terus-terusan, ada sesuatu yang harus dijawab," ujar Hasan Fawzi.
Data sepanjang tahun juga belum menggembirakan. IHSG masih melemah lebih dari 34 persen sejak awal 2026. Selama Juni saja, indeks turun hampir delapan persen. Tekanan datang dari sentimen global dan domestik.
Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai pelemahan lebih dipicu sentimen pasar dibandingkan fundamental emiten. "Sekitar 80 persen emiten masih mencatat laba. Kondisi fundamental masih cukup baik," kata Muhammad Wafi.
Menurut Wafi, tiga faktor memberi tekanan besar. Pertama, penilaian MSCI terhadap arus informasi. Kedua, kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen. Ketiga, nilai tukar rupiah masih bergejolak.
Wafi memproyeksikan IHSG masih memiliki peluang menguat pada paruh kedua 2026. Ruang kenaikan tetap terbatas. Ketidakpastian terkait evaluasi MSCI masih membayangi pasar.
Investor juga diminta mencermati sejumlah agenda global. Pasar menunggu data tenaga kerja swasta Amerika Serikat. Pelaku pasar juga menanti pidato pejabat bank sentral Amerika Serikat. Data manufaktur Negeri Paman Sam ikut menjadi perhatian.
Jika data Amerika Serikat menguat, dolar berpotensi kembali menguat. Imbal hasil obligasi Amerika Serikat juga bisa meningkat. Kondisi tersebut dapat memberi tekanan baru terhadap pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.
Penguatan IHSG pada perdagangan Rabu memberi harapan baru. Jalan pemulihan masih panjang. Investor masih menunggu bukti penguatan ekonomi sebelum kembali meningkatkan aksi beli. R-02

