Rupiah Makin Loyo! Tinggal Selangkah Lagi Sentuh Rp18.000 per Dolar AS
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Mata uang Garuda bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS setelah dibuka di zona merah sejak pagi. Tekanan datang dari penguatan dolar AS, kontraksi sektor manufaktur di Indonesia, serta perlambatan ekspor nasional.
Pada awal perdagangan, rupiah turun sekitar 0,39 persen menuju Rp17.952 per dolar AS. Pelemahan terus berlanjut. Sekitar pukul 09.10 WIB, rupiah kembali turun hingga berada di kisaran Rp17.968 per dolar AS.
Sejumlah lembaga juga mencatat angka serupa. Ada data yang menunjukkan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.965 hingga Rp17.987 per dolar AS. Perbedaan terjadi karena waktu pencatatan transaksi berbeda.
Tekanan terhadap rupiah muncul sejak pasar dibuka. Dolar Amerika Serikat bertahan menguat pada indeks sekitar 101,3. Kondisi tersebut membuat mayoritas mata uang Asia ikut tertekan.
Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam. Peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, yuan China, yuan offshore, yen Jepang, serta ringgit Malaysia ikut bergerak di zona merah.
Dari dalam negeri, pelaku pasar langsung mendapat tambahan sentimen negatif. Data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia turun ke level 46,9.
Angka tersebut menandakan aktivitas manufaktur masih berada pada fase kontraksi. Capaian itu juga menjadi posisi terendah sejak Juni 2025.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru. Aktivitas industri dinilai belum kembali pulih setelah menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
Pasar juga menunggu rilis data perdagangan Indonesia. Konsensus Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekspor hanya mencapai sekitar 3,5 persen secara tahunan.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya. Pada Mei 2026, ekspor masih tumbuh sekitar 21,98 persen.
Jika realisasi ekspor berada di bawah perkiraan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan bertambah besar. Perlambatan ekspor dapat memengaruhi arus devisa masuk ke Indonesia.
Di luar negeri, perhatian investor tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Laporan tersebut menjadi acuan penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.
Pelaku pasar memperkirakan penciptaan lapangan kerja Amerika Serikat mencapai sekitar 114 ribu sepanjang Juni. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Mei yang mencapai sekitar 172 ribu pekerjaan baru.
Ekspektasi terhadap langkah The Fed masih menjadi perhatian utama pasar. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mempertahankan aset berbasis dolar AS.
Lukman Leong, Analis Mata Uang DOO Financial Futures, menilai penguatan dolar menjadi penyebab utama pelemahan rupiah.
"Rupiah masih berpotensi melemah setelah data lowongan pekerjaan Amerika Serikat lebih kuat dari perkiraan. Tekanannya diperkirakan terbatas karena pasar menunggu inflasi dan neraca perdagangan Indonesia," katanya.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Pandangan serupa juga datang dari Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas.
Lionel memperkirakan depresiasi rupiah berada pada rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Prediksi tersebut muncul sebelum tekanan bertambah pada awal sesi perdagangan.
Pergerakan rupiah offshore bahkan sempat menyentuh kisaran Rp18.022 per dolar AS pada perdagangan intraday. Posisi tersebut memperlihatkan tekanan eksternal terhadap mata uang domestik masih cukup kuat.
Selain dolar AS, investor juga mencermati arah imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Perubahan imbal hasil tersebut sering memengaruhi arus modal menuju negara berkembang.
Pelaku pasar juga memantau perkembangan kebijakan moneter global. Ketidakpastian arah suku bunga membuat permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi.
Di dalam negeri, perhatian beralih pada data inflasi Indonesia. Angka tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk membaca kekuatan konsumsi masyarakat.
Neraca perdagangan juga ikut menjadi perhatian. Surplus perdagangan dinilai mampu membantu menjaga pasokan devisa dan menopang stabilitas nilai tukar.
Bank Indonesia diperkirakan tetap menjaga stabilitas rupiah melalui langkah sesuai kondisi pasar. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting bagi pelaku usaha dan investor.
Pelemahan rupiah juga memberi dampak terhadap berbagai sektor. Importir menghadapi biaya lebih tinggi, sedangkan eksportir berpotensi memperoleh tambahan keuntungan dari selisih kurs.
Bagi dunia usaha, pergerakan rupiah menjadi salah satu indikator penting. Nilai tukar memengaruhi harga bahan baku, biaya produksi, hingga keputusan investasi.
Hari pertama Juli menjadi pembuka semester II dengan tekanan cukup besar. Pelaku pasar masih menunggu sejumlah data ekonomi sebelum menentukan arah investasi berikutnya.
Selama dolar AS bertahan kuat, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, serta perkembangan ekonomi Amerika Serikat bakal menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. R-02

