Harga Sawit Sumut Melejit, Petani Senyum! TBS Kini Tembus Rp3.881 per Kg
Ilustrasi petani sawit sedang memanen buah sawit. (sumber: istimewa)
SUMUT, SabangMerauke News- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kembali bergerak naik. Awal Juli membawa kabar menggembirakan bagi petani di Sumatera Utara. Nilai jual sawit kini menyentuh level tertinggi periode terbaru.
Harga terbaru berlaku pada periode 2 hingga 7 Juli 2026. Penetapan dilakukan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumatera Utara. Kenaikan juga terjadi pada harga crude palm oil (CPO).
Penguatan harga ini memberi tambahan harapan. Petani mendapat peluang pendapatan lebih besar. Aktivitas perdagangan sawit diperkirakan ikut meningkat.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada TBS. Harga kernel juga mengalami penguatan. Kondisi tersebut memperlihatkan tren positif sektor sawit Sumatera Utara. "Harga sawit periode ini mengalami kenaikan," tulis data resmi Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumatera Utara.
Harga TBS perusahaan bermitra mencapai Rp3.881 per kilogram. Nilai tersebut berlaku selama periode 2 sampai 7 Juli 2026. Angka itu lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
Pada periode sebelumnya, harga TBS berada di Rp3.781 per kilogram. Selisih kenaikan mencapai Rp100 setiap kilogram. Kondisi tersebut menjadi kabar baik bagi pelaku usaha perkebunan.
Kenaikan harga terjadi seiring membaiknya pasar minyak sawit. Permintaan tetap tinggi pada awal Juli. Harga komoditas ikut terdorong naik.
Pergerakan harga ini juga menjadi perhatian petani. Banyak pekebun mulai menghitung potensi pendapatan tambahan. Musim panen kali ini terasa lebih menjanjikan.
Kenaikan TBS diikuti penguatan harga CPO. Harga minyak sawit mentah mencapai Rp15.427 per kilogram. Sebelumnya, harga tercatat Rp15.230 per kilogram.
Harga kernel juga bergerak naik. Nilainya kini mencapai Rp13.334 per kilogram. Periode lalu masih berada pada Rp12.713 per kilogram.
Kenaikan dua komoditas tersebut menjadi penopang utama harga TBS. Hubungan ketiga komoditas saling memengaruhi. Nilai jual sawit akhirnya ikut terdongkrak.
Pelaku industri berharap tren positif berlanjut. Stabilitas harga dinilai penting bagi seluruh rantai usaha. Mulai dari petani hingga perusahaan pengolahan."Harga CPO dan kernel ikut meningkat," tulis laporan resmi pemerintah provinsi.
Produktivitas tanaman masih menjadi penentu utama harga. Tanaman yang memasuki usia produktif menghasilkan nilai lebih tinggi. Harga tertinggi muncul pada kelompok usia matang.
Tanaman berusia tiga tahun dihargai Rp3.267 per kilogram. Usia empat tahun mencapai Rp3.483. Usia lima tahun naik menjadi Rp3.604.
Tanaman enam tahun memperoleh Rp3.711. Usia tujuh tahun berada di Rp3.686. Tanaman delapan tahun mencapai Rp3.814.
Usia sembilan tahun memperoleh Rp3.850. Kelompok usia 10 hingga 20 tahun mencapai Rp3.881. Harga tertinggi tercatat pada usia 21 tahun sebesar Rp3.885.
Memasuki usia lebih tua, harga mulai menurun. Usia 22 tahun berada di Rp3.848. Usia 23 tahun menjadi Rp3.795. Tanaman usia 24 tahun dihargai Rp3.677. Sementara usia 25 tahun berada pada Rp3.569. Penurunan terjadi seiring produktivitas tanaman.
Harga sawit juga berbeda pada setiap kabupaten. Perbedaan dipengaruhi lokasi dan biaya distribusi. Faktor kualitas turut memengaruhi nilai jual.
Kabupaten Mandailing Natal mencatat harga tertinggi. Nilainya mencapai Rp3.360 per kilogram. Angka tersebut menjadi yang terbesar pada periode ini.
Labuhanbatu Selatan berada di posisi berikutnya. Harga mencapai Rp3.150 per kilogram. Padang Lawas serta Serdang Bedagai sama-sama menyentuh Rp3.050.
Langkat mencatat Rp2.905 per kilogram. Asahan berada di Rp2.900. Tapanuli Selatan mencapai Rp2.910. Padang Lawas Utara memperoleh Rp2.920. Labuhanbatu berada di Rp2.850. Tapanuli Tengah mencapai Rp2.860.
Simalungun mencatat Rp2.845. Deli Serdang berada di Rp2.830. Pakpak Bharat memperoleh Rp2.820. Labuhanbatu Utara mencapai Rp2.800. Batu Bara berada di Rp2.780. Seluruh daerah masih berada pada kisaran Rp2.700 hingga Rp3.300.
Kenaikan harga memberi ruang tambahan pendapatan. Nilai jual hasil panen menjadi lebih menarik. Petani memiliki peluang memperoleh keuntungan lebih baik.
Meski demikian, biaya produksi tetap menjadi perhatian. Harga pupuk dan ongkos angkut masih cukup tinggi. Efisiensi menjadi langkah penting bagi pekebun.
Pelaku usaha berharap tren positif bertahan lama. Permintaan ekspor masih menjadi penentu utama. Pergerakan harga global ikut memengaruhi pasar domestik.
Awal Juli menjadi sinyal positif bagi industri sawit. Harga TBS, CPO, dan kernel sama-sama menguat. Kondisi tersebut membawa optimisme baru bagi sektor perkebunan Sumatera Utara. R-02

