Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.850 per Dolar AS, Pasar Menanti Arah The Fed dan Arus Modal Asing
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan dengan tekanan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Setelah menutup perdagangan sebelumnya dalam zona hijau, mata uang Garuda berbalik melemah ke level Rp17.850 per dolar AS. Pergerakan tersebut menjadi cerminan tarik-menarik sentimen global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.
Data perdagangan pagi menunjukkan rupiah terkoreksi sekitar 0,08 persen dibanding penutupan Senin, 29 Juni 2026, saat mata uang domestik menguat ke posisi Rp17.835 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) naik ke kisaran 101,24, menandakan greenback kembali memperoleh tenaga di pasar global.
Perubahan arah rupiah tidak berdiri sendiri. Pasar internasional sedang menunggu kepastian langkah bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve yang diperkirakan menjadi penentu utama arus modal dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Pelaku pasar juga memusatkan perhatian pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Laporan ADP dan Nonfarm Payrolls diperkirakan memberi gambaran kondisi ekonomi Negeri Paman Sam sekaligus menjadi acuan arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Berdasarkan proyeksi pasar, peluang The Fed mempertahankan suku bunga masih lebih besar dibanding menaikkannya. Meski demikian, ruang kenaikan suku bunga masih terbuka sehingga membuat investor memilih berhati-hati dalam mengambil posisi.
Tekanan terhadap rupiah sempat mereda setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai melunak. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali berjalan normal setelah Amerika Serikat dan Iran memilih menahan eskalasi konflik menjelang putaran negosiasi lanjutan.
Situasi tersebut sempat mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman. Saat ketegangan mereda, investor mulai kembali melirik aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.
Meski begitu, penguatan dolar AS pada awal perdagangan Selasa kembali membatasi ruang penguatan rupiah. Mata uang Asia bergerak beragam dengan tekanan juga dialami won Korea Selatan, yen Jepang, baht Thailand, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong.
Won Korea Selatan bahkan menembus level psikologis KRW1.500 per dolar AS setelah derasnya aksi jual investor asing di pasar saham negara tersebut. Kondisi tersebut memperlihatkan arus modal global masih sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia bergerak lebih stabil berkat pembelian bersih investor asing di pasar saham Malaysia. Indonesia memperoleh penyangga berbeda melalui pasar obligasi pemerintah.
Arus masuk dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) mencapai sekitar US$346 juta pada 26 Juni 2026. Dana tersebut menjadi bantalan penting di tengah aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia yang tercatat sekitar US$49,4 juta pada perdagangan sebelumnya.
Dari dalam negeri, pemerintah berupaya menjaga optimisme pelaku pasar melalui koordinasi bersama Bank Indonesia, DPR, dan Dewan Ekonomi Nasional guna memperkuat stabilitas ekonomi nasional menghadapi ketidakpastian global.
Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan, menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih dalam jalur yang terkendali meski tekanan global belum sepenuhnya mereda. "Defisit APBN hingga Mei 2026 masih sekitar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto dan diperkirakan tetap berada di bawah batas tiga persen hingga akhir tahun," ujar Juda Agung.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi investor. Stabilitas APBN masih menjadi salah satu indikator utama dalam membaca kemampuan pemerintah menjaga ekonomi di tengah pelemahan nilai tukar.
Meski demikian, tantangan bagi rupiah belum sepenuhnya berakhir. Sejak awal kuartal kedua 2026, rupiah tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia, mencapai sekitar 4,78 persen. Posisi tersebut berada di bawah yen Jepang dan won Korea Selatan.
Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi defisit transaksi berjalan dan pelebaran defisit fiskal atau yang sering disebut sebagai twin deficits. Kombinasi tersebut membuat pasar lebih sensitif terhadap setiap perubahan sentimen global.
Pemerintah mencoba memperkuat likuiditas melalui penempatan dana sekitar Rp281 triliun di sektor perbankan hingga akhir 2026. Tambahan dana sekitar Rp100 triliun juga dipersiapkan guna menjaga stabilitas sistem keuangan.
Selain itu, kebijakan mempertahankan harga gas bumi tertentu bagi sektor industri diharapkan mampu menjaga daya saing manufaktur sekaligus menahan tekanan biaya produksi nasional.
Secara teknikal, sejumlah analis masih melihat peluang penguatan rupiah apabila mampu menembus level Rp17.800 per dolar AS. Target berikutnya berada di kisaran Rp17.770 hingga Rp17.700 per dolar AS. Sebaliknya, apabila tekanan kembali meningkat, level Rp17.900 menjadi batas penting sebelum menuju area psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, menjadi ujian baru bagi rupiah. Arah dolar AS, data ekonomi Amerika Serikat, arus modal asing, serta kebijakan ekonomi domestik akan menjadi penentu apakah mata uang Garuda mampu kembali bangkit atau justru melanjutkan tekanan dalam beberapa hari mendatang. R-02

