IHSG Ditutup Turun 1,28 Persen ke Level 5.820, Saham Big Caps Jadi Penekan Utama
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Lantai perdagangan saham pada Senin, 29 Juni 2026, menghadirkan kejutan bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 75,34 poin atau 1,28 persen ke level 5.820,79, setelah sempat dibuka menguat hingga menyentuh 5.942 pada awal perdagangan.
Perubahan arah terjadi sangat cepat. Optimisme pagi berganti aksi jual dalam waktu singkat, membuat mayoritas saham berkapitalisasi besar kehilangan tenaga hingga penutupan. Perjalanan IHSG sepanjang hari memperlihatkan tekanan yang datang dari berbagai arah.
Investor sempat menyambut positif pembukaan perdagangan, meski sentimen global belum sepenuhnya stabil. Sekitar dua puluh menit setelah pasar dibuka, aksi ambil untung mulai mendominasi. Indeks perlahan masuk zona merah, bahkan sempat mendekati level psikologis 5.800 sebelum akhirnya bertahan di posisi penutupan.
Data perdagangan memperlihatkan aktivitas transaksi jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata beberapa pekan terakhir. Nilai transaksi hanya berkisar Rp8,7 triliun hingga Rp9,1 triliun, melibatkan lebih dari 15 miliar lembar saham dalam sekitar 1,2 juta kali transaksi.
Sepinya aktivitas perdagangan memperlihatkan banyak investor memilih bertahan sambil menunggu arah baru pasar. Kondisi tersebut memperbesar tekanan saat aksi jual muncul pada saham-saham dengan kapitalisasi besar.
Sebanyak 449 hingga 467 saham mengalami penurunan harga. Saham yang menguat hanya sekitar 214 hingga 228 emiten, sedangkan lebih dari 149 saham bergerak datar.
Tekanan paling besar datang dari sektor infrastruktur, barang baku, dan keuangan. Indeks sektor infrastruktur turun lebih dari 1,6 persen, disusul sektor barang baku sekitar 1,4 persen, sementara sektor keuangan kehilangan lebih dari 1,1 persen.
Kelompok saham unggulan LQ45 juga ikut melemah. Indeks LQ45 turun 10,71 poin atau sekitar 1,84 persen menuju level 573. Koreksi tersebut menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada saham lapis kedua, melainkan juga emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penyumbang terbesar pelemahan indeks. Harga saham BBCA turun sekitar 4 persen, memberikan tekanan lebih dari 23 poin terhadap IHSG. Selain BBCA, sejumlah saham berkapitalisasi jumbo ikut memperdalam koreksi. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi penekan berikutnya, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang juga turun sekitar 4 persen.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS), hingga PT Astra International Tbk (ASII) sama-sama bergerak di zona merah sehingga memperberat tekanan terhadap indeks komposit.
Tidak hanya saham perbankan, beberapa emiten unggulan lain mengalami koreksi cukup dalam. Saham ESSA Industries Indonesia turun lebih dari 8 persen, XLSmart (EXCL) melemah sekitar 4 persen, sedangkan Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) kehilangan hampir 3 persen.
Saham Sarana Menara Nusantara (TOWR), Solusi Sinergi Digital (WIFI), serta AKR Corporindo (AKRA) juga bergerak negatif sepanjang perdagangan. Di tengah dominasi tekanan jual, hanya sektor properti yang berhasil bertahan di zona hijau dengan kenaikan sekitar 0,6 persen.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai kombinasi tekanan eksternal dan domestik membuat pelaku pasar memilih bersikap sangat hati-hati. "Mengawali pekan ini, tekanan eksternal dan internal masih membayangi pasar sehingga investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," ujar Maximilianus, Senin, 29 Juni 2026.
Menurut Nico, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memang mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan eskalasi, meski proses menuju perdamaian masih menyisakan banyak ketidakpastian.
Risiko terhadap keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, tahapan pencabutan sanksi, serta keberlanjutan pembicaraan damai masih menjadi faktor yang terus diperhitungkan investor global.
Situasi tersebut ikut memengaruhi harga minyak dunia dan meningkatkan premi risiko di pasar keuangan. Selain konflik geopolitik, investor juga mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.
Data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) Amerika Serikat masih memperlihatkan tekanan harga relatif tinggi. Data tenaga kerja juga menunjukkan kondisi ekonomi Amerika tetap kuat setelah angka Initial Jobless Claims turun menjadi sekitar 215 ribu. Kondisi tersebut memperbesar peluang Federal Reserve mempertahankan sikap ketat terhadap suku bunga.
Menurut Muhammad Zaidan, ekonom Panin Sekuritas, data ketenagakerjaan Amerika Serikat memperlihatkan ekonomi negeri tersebut masih cukup solid sehingga memberi ruang bagi bank sentral mempertahankan kebijakan hawkish. Di dalam negeri, investor juga memilih menunggu sejumlah indikator ekonomi penting yang akan diumumkan pada pekan ini.
Perhatian pasar tertuju pada data PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, serta neraca perdagangan. Ketiga indikator tersebut akan menjadi acuan untuk membaca kondisi ekonomi nasional sekaligus arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
Maximilianus menilai investor domestik masih memilih mengurangi risiko hingga muncul kepastian baru. "Pelaku pasar lebih memilih menunggu perkembangan berikutnya. Selama belum terlihat perubahan yang memberi dampak cepat terhadap pasar, strategi wait and see masih menjadi pilihan," kata Maximilianus.
Fenomena tersebut terlihat jelas dari nilai transaksi harian yang terus menyusut sepanjang Juni. Dibandingkan rata-rata pekan terakhir bulan sebelumnya, aktivitas perdagangan turun lebih dari tiga puluh persen.
Mayoritas transaksi tetap berpusat pada saham-saham bank besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI. Ketiga emiten tersebut menyumbang lebih dari separuh total nilai transaksi sepanjang perdagangan Senin.
Di kawasan Asia, arah pasar justru bergerak beragam dengan dominasi penguatan. Bursa Shanghai, Hang Seng, Nikkei, Straits Times, TOPIX, SET Thailand, serta Taiwan Weighted Index berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau.
Sebaliknya, IHSG bergabung bersama beberapa indeks yang masih melemah seperti KOSPI Korea Selatan, Shenzhen Composite, KLCI Malaysia, dan Ho Chi Minh Index Vietnam.
Perbedaan arah tersebut memperlihatkan pasar Indonesia masih menghadapi tantangan tersendiri. Minimnya arus dana asing, tingginya kehati-hatian investor domestik, serta dominasi aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG sulit mengikuti penguatan regional.
Pekan ini menjadi periode yang menentukan bagi pasar modal Indonesia. Selain perkembangan konflik Timur Tengah, investor juga menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat, laporan Non-Farm Payrolls (NFP), aktivitas manufaktur China, inflasi kawasan Eropa, serta pidato pejabat Federal Reserve.
Seluruh indikator tersebut diperkirakan menjadi penentu arah IHSG, rupiah, pasar obligasi, hingga pergerakan dana asing dalam beberapa hari mendatang.
Bagi pelaku pasar, penutupan perdagangan Senin, 29 Juni 2026, memberi pesan jelas. Tekanan terhadap IHSG bukan semata datang dari aksi jual saham, melainkan juga cerminan tingginya kehati-hatian investor menghadapi ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan. R-02

