IHSG Sempat Melesat, Lalu Terseret Zona Merah, Investor Langsung Pasang Mata
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin, 29 Juni 2026, di zona hijau setelah mencatat kenaikan lebih dari 0,6 persen pada pembukaan. Penguatan tersebut menjadi langkah awal pemulihan setelah tekanan cukup besar sepanjang pekan sebelumnya.
Meski begitu, optimisme pasar tidak bertahan lama karena beberapa menit kemudian IHSG kembali bergerak ke zona merah seiring meningkatnya kehati-hatian investor menghadapi berbagai sentimen ekonomi dan geopolitik dunia.
Pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka naik 35,89 poin atau 0,61 persen. Posisi indeks berada di level 5.932,03. Saat sesi preopening berakhir, kenaikan bahkan sempat mencapai sekitar 0,71 persen.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai sejak awal sesi. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp110,45 miliar. Volume perdagangan tercatat sekitar 142,23 juta lembar saham. Seluruh transaksi berlangsung lebih dari 23 ribu kali.
Sebanyak 201 saham bergerak menguat. Sebanyak 103 saham mengalami penurunan. Sementara 309 saham bergerak tanpa perubahan harga. Kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Beberapa menit setelah pembukaan, IHSG berbalik turun. Indeks sempat terkoreksi sekitar 0,24 persen hingga kembali memasuki zona merah.
Perubahan arah tersebut menunjukkan pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati. Investor belum mengambil keputusan besar sebelum memperoleh kepastian dari berbagai agenda ekonomi sepanjang pekan ini.
Saham-saham perbankan besar masih menjadi pusat perhatian. BBCA menjadi emiten dengan nilai transaksi terbesar pada awal perdagangan. BBRI menyusul di posisi berikutnya. BMRI juga mencatat aktivitas transaksi tinggi.
Selain saham perbankan, DSSA dan MAPI ikut masuk daftar emiten dengan transaksi terbesar pada awal perdagangan. Aktivitas tersebut menunjukkan minat investor masih terfokus pada saham berkapitalisasi besar.
Pasar keuangan memasuki pekan yang dipenuhi berbagai agenda penting. Investor menunggu rilis inflasi Indonesia. Neraca perdagangan nasional juga menjadi perhatian utama.
Data ekonomi Amerika Serikat ikut menjadi perhatian pelaku pasar. Laporan ketenagakerjaan diperkirakan memberi gambaran arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat pada beberapa bulan mendatang.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu perkembangan aktivitas manufaktur China. Data inflasi kawasan Eropa ikut menjadi perhatian. Pidato pejabat bank sentral Amerika Serikat juga diperkirakan memengaruhi arah pasar global.
Berbagai data tersebut dipandang mampu memengaruhi pergerakan IHSG. Nilai tukar rupiah juga berpotensi mengalami perubahan. Pasar obligasi dan harga komoditas ikut diperkirakan bergerak dinamis sepanjang pekan.
Di pasar valuta asing, rupiah mengawali perdagangan dengan penguatan tipis. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, kurs rupiah berada di level Rp17.922 per dolar Amerika Serikat.
Posisi tersebut menunjukkan rupiah menguat sekitar 21 poin atau 0,12 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Penguatan mata uang domestik memberi tambahan sentimen positif pada awal perdagangan.
Pergerakan bursa Asia berlangsung beragam. Kondisi tersebut mencerminkan kehati-hatian investor menghadapi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah sekitar 0,56 persen. Indeks Topix masih mampu mencatat kenaikan tipis. Bursa Korea Selatan mengalami tekanan cukup besar.
Indeks Kospi turun lebih dari dua persen pada awal perdagangan. Sebaliknya, indeks Kosdaq masih bergerak menguat. Bursa Australia juga mencatat kenaikan terbatas. Di Hong Kong, indeks Hang Seng bergerak naik sekitar 0,66 persen. Bursa China melalui indeks SSE Composite justru melemah sekitar 0,26 persen. Indeks Straits Times Singapura turun tipis.
Pelaku pasar global masih memantau perkembangan konflik Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah aksi militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia. Jalur distribusi energi internasional ikut menjadi perhatian karena Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dunia.
Harga minyak mentah langsung merespons kondisi tersebut. Minyak Brent naik menjadi sekitar 72,57 dolar Amerika Serikat per barel. Minyak West Texas Intermediate atau WTI ikut menguat hingga mendekati 70 dolar Amerika Serikat per barel.
Pasar saham Amerika Serikat juga menunjukkan perbaikan pada perdagangan berjangka. Futures Dow Jones menguat sekitar 0,2 persen. Futures S&P 500 dan Nasdaq juga bergerak positif.
Meski demikian, Wall Street masih membawa beban dari perdagangan pekan lalu. Indeks S&P 500 mencatat penurunan hampir dua persen. Nasdaq Composite kehilangan lebih dari empat persen.
Tekanan terbesar berasal dari saham teknologi. Nvidia mengalami penurunan lebih dari delapan persen. Alphabet mencatat pelemahan dengan besaran serupa.
Meta Platforms, Apple, dan Amazon juga mengalami penurunan lebih dari empat persen sepanjang pekan sebelumnya. Pergerakan tersebut menjadi salah satu penyebab utama tekanan pada indeks saham Amerika Serikat.
Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, menilai pasar mulai mengalami kelelahan terhadap tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence. "Investor mulai mempertanyakan efektivitas belanja besar perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan," ujar Ed Yardeni.
Penilaian tersebut muncul setelah saham-saham teknologi mengalami koreksi cukup tajam. Pelaku pasar mulai mengukur kembali potensi keuntungan jangka panjang dari investasi besar pada sektor AI.
Pekan ini juga menjadi penutup perdagangan bulan Juni 2026. Investor akan mengevaluasi seluruh kinerja pasar selama satu bulan terakhir. Arah investasi pada awal Juli diperkirakan sangat dipengaruhi hasil data ekonomi yang dirilis sepanjang pekan ini.
Pergerakan IHSG diperkirakan masih fluktuatif hingga penutupan perdagangan. Sentimen domestik dan global akan saling memengaruhi arah indeks. Investor juga tetap mencermati perkembangan geopolitik, pergerakan rupiah, harga minyak, serta arus dana asing sebelum mengambil keputusan investasi berikutnya. R-02

