3 Gempa Besar Guncang Dunia Dalam 12 Jam, Benarkah Saling Berkaitan dan Dipicu Megathrust?
Ilustrasi
RIAU, SabangMerauke News – Dunia kembali diingatkan akan dahsyatnya aktivitas tektonik bumi setelah tiga gempa besar mengguncang tiga negara berbeda hanya dalam rentang waktu kurang dari 12 jam. Gempa kuat terjadi di Venezuela, California Utara Amerika Serikat, dan Jepang secara beruntun, memicu pertanyaan publik mengenai kemungkinan adanya keterkaitan antarperistiwa tersebut, termasuk dugaan efek gempa megathrust yang selama ini menjadi perhatian banyak negara di kawasan Cincin Api Pasifik.
Meski terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, para ahli menegaskan bahwa ketiga gempa tersebut tidak memiliki hubungan langsung dan dipicu oleh sumber tektonik yang berbeda.
Rangkaian gempa besar itu dimulai dari Venezuela. Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa bermagnitudo 7,1 mengguncang wilayah utara-tengah Venezuela pada Rabu (24/6/2026) sore waktu setempat. Pusat gempa berada di kawasan Montalban dengan kedalaman sekitar 13 kilometer.
Guncangan kuat tersebut dirasakan di sejumlah wilayah dan menimbulkan kepanikan warga. Sejumlah laporan awal menyebutkan kerusakan terjadi pada bangunan dan fasilitas umum, terutama di kawasan yang berdekatan dengan pusat gempa.
Belum lama setelah itu, California Utara, Amerika Serikat, juga diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,6 pada Rabu malam waktu setempat. Gempa tersebut berpusat pada kedalaman dangkal sekitar 8,1 kilometer.
Sejumlah media Amerika Serikat menyebut gempa tersebut sebagai salah satu yang terkuat yang dirasakan wilayah tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Warga di sejumlah kota dilaporkan berhamburan keluar rumah dan gedung untuk menyelamatkan diri saat guncangan berlangsung.
Tak berselang lama, Jepang kembali mengalami gempa kuat bermagnitudo 7,2 pada Kamis (25/6/2026) pagi waktu setempat. Gempa terjadi di lepas pantai Pasifik Prefektur Iwate, wilayah timur laut Jepang, dengan kedalaman sekitar 50 kilometer.
Badan Meteorologi Jepang melaporkan intensitas guncangan mencapai level 6 atas dalam skala intensitas seismik Jepang yang memiliki rentang maksimum hingga level 7. Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah dan memicu kewaspadaan tinggi masyarakat setempat.
Fenomena tiga gempa besar yang terjadi hampir bersamaan di tiga kawasan berbeda dunia itu memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya keterkaitan global atau pengaruh aktivitas megathrust.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa ketiga gempa tersebut tidak saling memicu maupun memiliki hubungan sebab akibat.
Menurutnya, masing-masing gempa berasal dari sumber tektonik yang berbeda sehingga tidak dapat dikaitkan satu sama lain meskipun terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.
"Aktivitas tektonik planet bumi meningkat tajam dalam kurun waktu kurang dari 12 jam. Sejak Rabu sore hingga Kamis pagi WIB, tiga wilayah di belahan dunia berbeda, yakni California Utara, Venezuela, dan Jepang, berurutan diguncang gempa dengan magnitudo kuat," ujar Daryono dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa gempa di California Utara dan Venezuela dipicu oleh aktivitas sesar atau patahan aktif, sedangkan gempa di Jepang berasal dari aktivitas subduksi lempeng atau megathrust.
"Ketiga gempa memiliki sumber gempa sendiri-sendiri. California Utara dan Venezuela itu sesar atau patahan, sementara Jepang sumber gempanya megathrust. Sumber-sumber gempa tersebut memiliki kemampuan mengakumulasi tegangan masing-masing sehingga tidak saling berkaitan," jelasnya.
Daryono juga menepis anggapan bahwa kedekatan waktu kejadian menjadi bukti adanya hubungan antar-gempa.
Menurutnya, bumi memiliki jutaan sumber gempa aktif yang sewaktu-waktu dapat melepaskan energi secara bersamaan tanpa harus saling memengaruhi.
"Kalau waktu gempa berdekatan itu hanya kebetulan saja. Sumber gempa di muka bumi itu berjuta-juta. Jadi kalau berdekatan waktu hanya kebetulan. Tidak ada rambatan saling picu," tegasnya.
Lebih lanjut, Daryono mengungkapkan bahwa peristiwa di Venezuela memiliki karakteristik yang menarik perhatian para ahli karena termasuk kategori doublet earthquake atau gempa kembar.
Ia menjelaskan bahwa gempa utama yang terjadi ternyata didahului oleh gempa besar lainnya dalam rentang waktu yang sangat singkat.
"Gempa utama bermagnitudo 7,5 yang melanda wilayah pantai utara Venezuela ternyata didahului oleh gempa pendahuluan berkekuatan magnitudo 7,2 hanya dalam selisih waktu sekitar 40 detik," ungkapnya.
Kondisi tersebut menyebabkan dampak guncangan menjadi lebih besar karena masyarakat belum sempat pulih dari gempa pertama ketika gempa berikutnya terjadi.
Akibatnya, sejumlah bangunan mengalami kerusakan serius dan aktivitas masyarakat terganggu di wilayah terdampak, termasuk di ibu kota Caracas.
Meski demikian, Daryono menekankan bahwa rangkaian gempa yang terjadi di berbagai belahan dunia harus menjadi pengingat penting bagi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi.
Menurutnya, fokus utama yang harus dilakukan bukanlah khawatir terhadap keterkaitan gempa global, melainkan memperkuat upaya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa korban jiwa dalam peristiwa gempa bumi umumnya bukan disebabkan oleh guncangan itu sendiri, melainkan akibat runtuhnya bangunan yang tidak memenuhi standar keselamatan.
Karena itu, penguatan konstruksi bangunan tahan gempa harus menjadi prioritas, terutama pada fasilitas publik, sekolah, rumah sakit, dan kawasan permukiman.
Selain itu, masyarakat juga perlu meningkatkan pemahaman mengenai langkah penyelamatan saat terjadi gempa, seperti berlindung di bawah meja atau furnitur yang kokoh, menghindari kepanikan saat evakuasi, serta menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat.
Rentetan gempa besar yang mengguncang Venezuela, California Utara, dan Jepang dalam waktu kurang dari 12 jam memang menjadi perhatian dunia. Namun para ahli memastikan bahwa peristiwa tersebut bukanlah tanda adanya keterkaitan global maupun efek berantai megathrust, melainkan murni aktivitas alami dari sistem tektonik bumi yang berbeda-beda. Yang terpenting, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman gempa bumi kapan pun dan di mana pun. (R-05)

