Terungkap! Ini Penyebab Tiga Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latihan Militer
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengungkap penyebab meninggalnya tiga calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang tengah mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di sejumlah pusat pendidikan militer. Peristiwa ini memicu sorotan publik sekaligus mendorong evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme rekrutmen dan pelaksanaan program pembinaan tersebut.
Kemenhan memastikan ketiga peserta meninggal dunia akibat kondisi kesehatan yang berbeda-beda, mulai dari heat stroke, henti jantung, hingga komplikasi penyakit tuberkulosis (TB). Pemerintah pun menegaskan akan memperkuat pengawasan kesehatan peserta agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kemenhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan, peserta pertama yang meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh. Ia mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.
Menurut Rico, Anisa mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 saat mengikuti rangkaian pendidikan. Setelah mendapatkan pertolongan awal dari fasilitas kesehatan satuan, ia kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Namun, kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebab kematiannya adalah heat stroke atau serangan panas yang berujung pada henti jantung.
“Yang bersangkutan mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” ujar Rico dalam keterangan resminya.
Meninggal Akibat Henti Jantung
Peserta kedua yang meninggal dunia adalah Yonanda Muhammad Taufiq. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad) di Baturaja.
Yonanda dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026. Tim kesehatan kemudian melakukan penanganan dan membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Meski telah mendapatkan penanganan, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Yonanda meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung.
“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung,” kata Rico.
Kematian Yonanda menjadi perhatian karena terjadi saat program Latsarmil masih berlangsung di berbagai daerah sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kedisiplinan calon pengelola Koperasi Merah Putih.
Peserta Ketiga Memiliki Riwayat Tuberkulosis
Sementara itu, peserta ketiga yang meninggal dunia adalah Novia Rahmadhani Sihotang. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Bahasa Kodiklatau Jakarta.
Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan langsung mendapatkan penanganan dari tim kesehatan satuan. Karena kondisinya terus memburuk, ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa untuk menjalani perawatan intensif.
Namun, sehari kemudian atau pada 23 Juni 2026, Novia dinyatakan meninggal dunia.
Kemenhan menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan Novia berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB) yang dideritanya.
“Meskipun telah memperoleh perawatan intensif, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis,” jelas Rico.
Kemenhan Lakukan Evaluasi
Atas peristiwa tersebut, Kemenhan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga ketiga peserta yang meninggal dunia.
Selain itu, Kemenhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan saat ini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program Latsarmil bagi calon manajer Kopdes Merah Putih.
Evaluasi tersebut mencakup penguatan sistem pemantauan kesehatan peserta, peningkatan skrining medis sebelum pelatihan, serta perbaikan prosedur penanganan darurat selama kegiatan berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan agar keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama tanpa mengurangi tujuan program dalam membentuk sumber daya manusia yang disiplin, tangguh, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Sorotan juga datang dari DPR RI. Anggota Komisi VI DPR, Imas Aan Ubudiyah, meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap skema rekrutmen calon manajer Kopdes Merah Putih pasca meninggalnya sejumlah peserta dalam pelatihan dasar militer tersebut.
Menurut Imas, pembinaan dan retret tetap memiliki nilai penting dalam membentuk karakter pengelola koperasi. Namun, aspek keselamatan harus menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
“Musibah ini hendaknya menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat tata kelola. Retret tetap penting, tetapi standar mitigasi risiko, skrining kesehatan, pendampingan medis, dan pemetaan kemampuan fisik peserta juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tujuan mencetak manajer koperasi yang tangguh tidak boleh mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan peserta.
Usul Tes Kesehatan Independen
Sebagai langkah pencegahan, Imas mengusulkan agar seluruh calon pengelola Kopdes Merah Putih diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan secara independen dan profesional sebelum mengikuti pelatihan.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut penting untuk mendeteksi riwayat penyakit maupun kondisi fisik tertentu yang berpotensi membahayakan peserta saat menjalani aktivitas dengan intensitas tinggi.
“Alangkah baiknya apabila sebelum retret dilakukan pemeriksaan kesehatan secara independen terhadap seluruh calon peserta. Ini harus diperkuat dan kalau terdapat riwayat penyakit tertentu atau kondisi fisik yang dinilai tidak memungkinkan untuk mengikuti aktivitas dengan intensitas tinggi, maka perlu diberikan alternatif pembinaan yang lebih sesuai,” tegasnya.
Dengan evaluasi yang tengah dilakukan pemerintah dan dorongan dari DPR, diharapkan program pembinaan calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih tetap dapat berjalan efektif tanpa mengorbankan aspek keselamatan peserta yang menjadi fondasi utama keberhasilan program. (R-05)

