Selat Hormuz Siap Dibuka Lagi, ESDM Ungkap Strategi RI Jaga Pasokan Minyak Meski Timur Tengah Masih Bergejolak
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News - Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan bergantung pada satu jalur maupun satu negara dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Meski kabar pembukaan kembali Selat Hormuz mulai mencuat setelah Amerika Serikat dan Iran disebut mencapai kesepakatan damai, pemerintah tetap bergerak cepat memperluas sumber pasokan minyak mentah dari berbagai negara demi menjaga ketahanan energi nasional.
Langkah tersebut ditegaskan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyatakan kontrak pembelian minyak mentah dengan Rusia dan sejumlah negara lain tetap akan dilanjutkan. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan stok energi Indonesia tetap aman di tengah situasi geopolitik global yang masih bergejolak.
Kabar baik datang dari kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) yang menjadi dasar penghentian konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Mengutip laporan Axios, dua pejabat AS menyebut dokumen tersebut telah ditandatangani secara elektronik dan kini resmi berlaku. Salah satu pejabat bahkan mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump menandatangani langsung dokumen tersebut.
Pembukaan kembali Selat Hormuz tentu menjadi perhatian besar dunia. Pasalnya, jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan minyak global. Gangguan di kawasan itu selama beberapa waktu terakhir sempat memicu kekhawatiran mengenai pasokan minyak dunia dan berpotensi mendorong kenaikan harga energi internasional.
Namun, pemerintah Indonesia memilih tidak terlena dengan perkembangan tersebut. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa pemerintah tetap menjalankan strategi diversifikasi sumber energi sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Dwi, situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis sehingga Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan satu kawasan sebagai sumber pasokan energi.
"Presiden sudah memberikan instruksi jelas melalui Keppres Nomor 26 Tahun 2026 tentang pengadaan BBM. Ada Badan Usaha seperti Lemigas di antaranya yang juga diberikan kewenangan untuk melakukan impor dalam hal memperkuat ketahanan energi nasional kita," ujar Dwi Anggia di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Kamis (18/6/2026).
Ia menegaskan bahwa pembelian minyak mentah Indonesia akan tetap dilakukan dari berbagai negara. Rusia memang menjadi salah satu pilihan, tetapi pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan banyak negara lain di luar kawasan Timur Tengah.
"Jadi apapun upayanya, pembelian minyak tidak hanya dari Rusia, dari negara lain, kecuali Timur Tengah yang memang sekarang sedang berkonflik, pasti akan diupayakan," katanya.
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah sedang menjalankan strategi jangka panjang dalam menjaga keamanan energi nasional. Ketika satu wilayah mengalami gangguan, Indonesia masih memiliki alternatif pasokan dari negara lain.
Diversifikasi sumber minyak tersebut mencakup sejumlah negara produsen besar, mulai dari Nigeria, Angola, hingga Amerika Serikat. Negara-negara tersebut dipandang memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan energi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Dwi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membatasi diri hanya pada satu sumber pasokan. Semua opsi akan ditempuh selama mampu memperkuat stok energi nasional dan menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
"Darimana pun sumbernya pasti akan diupayakan agar bisa memperkuat kondisi stok energi nasional kita," ujarnya.
Strategi ini dinilai penting mengingat ketidakpastian geopolitik global masih cukup tinggi. Konflik yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama dapat memengaruhi distribusi dan harga energi dunia dalam waktu singkat.
Karena itu, pemerintah berupaya membangun sistem pengadaan energi yang lebih fleksibel dan tahan terhadap gejolak eksternal. Dengan memiliki banyak sumber pasokan, Indonesia diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan distribusi maupun lonjakan harga minyak dunia.
Pembukaan kembali Selat Hormuz memang menjadi angin segar bagi pasar energi global. Namun bagi Indonesia, langkah yang lebih penting adalah memastikan ketersediaan pasokan energi tetap aman dalam segala kondisi.
Pemerintah pun memilih bersikap waspada dan tetap menjalankan strategi diversifikasi impor minyak. Dengan begitu, kebutuhan energi nasional dapat terus terjaga, sementara masyarakat dan dunia usaha tidak perlu khawatir terhadap potensi gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik internasional.
Di tengah situasi global yang terus berubah, ketahanan energi kini menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Dan melalui strategi memperluas sumber impor minyak dari berbagai negara, Indonesia berupaya memastikan bahwa pasokan energi nasional tetap aman, stabil, dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi ke depan. (R-05)

