Belum Siang, Rupiah Sudah Tersungkur ke Rp17.858, Ada Apa dengan Dolar?
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah kembali kehilangan pijakan pada Kamis, 18 Juni 2026. Mata uang Garuda dibuka melemah hingga Rp17.858 per dolar Amerika Serikat. Tekanan datang dari luar negeri. Dolar AS sedang berada dalam fase penguatan agresif.
Data Bloomberg pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah turun 96 poin atau 0,54 persen dibanding penutupan sebelumnya. Sehari sebelumnya, Rabu, 17 Juni 2026, rupiah sudah lebih dulu melemah 39 poin.
Tekanan yang datang dua hari berturut-turut membuat pelaku pasar semakin waspada. Pergerakan ini terjadi saat pasar global sedang fokus pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Di ruang rapat Federal Reserve, keputusan yang ditunggu dunia akhirnya keluar. Bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Angka itu memang tidak berubah. Pesan yang tersirat justru membuat pasar bereaksi keras.
Federal Reserve memberi sinyal bahwa suku bunga tinggi masih akan bertahan cukup lama. Investor langsung membaca arah tersebut sebagai dukungan bagi dolar AS. Dana global kemudian bergerak menuju aset berbasis dolar. Mata uang negara berkembang pun mulai tertekan.
Dampaknya terlihat hampir serentak di Asia. Rupiah bukan satu-satunya korban. Won Korea Selatan ikut melemah. Ringgit Malaysia bergerak turun. Peso Filipina, baht Thailand, dolar Taiwan, dan dolar Hong Kong juga kehilangan tenaga.
Indeks dolar AS naik ke kisaran 100,23 hingga 100,31. Posisi itu menjadi level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Dolar bahkan mencatat lonjakan sekitar 0,85 persen pada sesi sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan kepercayaan pasar terhadap aset Amerika Serikat masih sangat kuat.
Ada cerita lain yang ikut membayangi pasar. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Harga energi berpotensi naik. Risiko inflasi ikut meningkat.
Kondisi tersebut membuat peluang penurunan suku bunga Amerika Serikat semakin mengecil. Pasar mulai memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Sebagian investor bahkan mulai menghitung kemungkinan kenaikan lanjutan. Situasi itu menjadi bahan bakar tambahan bagi penguatan dolar AS.
Analis Valas Bloomberg Economics, Audrey Childe-Freeman, melihat bank sentral di Asia masih menghadapi ruang yang sempit untuk bernapas. Menurutnya, pelemahan dolar secara berkelanjutan belum akan terjadi selama Federal Reserve tetap mempertahankan nada hawkish.
“Tanpa sinyal pelonggaran yang jelas, ekspektasi penurunan suku bunga AS masih terbatas,” kata Audrey Childe-Freema.
Pernyataan itu memberi gambaran sederhana. Selama Federal Reserve belum berubah arah, tekanan terhadap mata uang Asia berpotensi bertahan. Investor global masih memiliki alasan kuat menyimpan dana dalam dolar AS.
Di tengah tekanan tersebut, perhatian pasar kini mengarah ke Bank Indonesia. Kamis siang, hasil Rapat Dewan Gubernur atau RDG Juni 2026 dijadwalkan diumumkan. Keputusan itu menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.
Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg menunjukkan adanya peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Jika terjadi, BI Rate akan naik menjadi 5,75 persen. Langkah itu akan melanjutkan rangkaian pengetatan kebijakan moneter yang cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir.
Bank Indonesia sebelumnya sudah menaikkan suku bunga total 75 basis poin dalam satu bulan terakhir. Tujuannya menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan tekanan eksternal. Langkah tersebut membuat biaya dana menjadi lebih mahal. Dunia usaha pun ikut menghitung dampaknya.
Meski begitu, tidak semua ekonom percaya kenaikan suku bunga akan terjadi hari ini. Sebagian justru memperkirakan Bank Indonesia memilih bertahan. Pertimbangannya cukup sederhana. Kenaikan suku bunga berlebihan dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan meningkatkan biaya pembiayaan.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Paredede, menilai peluang mempertahankan suku bunga jauh lebih besar dibanding menaikkannya. “Probabilitas BI menahan suku bunga berada pada kisaran 80 hingga 90 persen,” ujar Josua Paredede.
Pasar kini berada dalam posisi menunggu. Investor memantau setiap pernyataan dari bank sentral. Pelaku usaha menghitung risiko. Trader valuta asing terus memperhatikan pergerakan dolar.
Di luar Asia, sejumlah mata uang utama dunia menunjukkan arah yang beragam. Euro sedikit menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris juga bergerak naik setelah sebelumnya menyentuh level terendah dua bulan. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru ikut mencatat kenaikan tipis.
Satu mata uang yang juga menjadi perhatian adalah yen Jepang. Yen melemah hingga mendekati level 160 per dolar AS. Angka tersebut dianggap sebagai batas psikologis penting. Pasar mulai berspekulasi mengenai kemungkinan intervensi otoritas Jepang.
Gavin Friend, Ahli Strategi Pasar Senior NAB, menilai penguatan dolar AS saat ini bukan fenomena yang mudah dibalikkan. Menurutnya, pasar membutuhkan waktu untuk mengubah arah pergerakan yang sudah terbentuk. “Dolar AS mencatat kenaikan yang cukup besar. Proses pemulihannya membutuhkan waktu,” kata Gavin.
Bagi rupiah, cerita hari Kamis ini belum selesai. Arah pergerakan berikutnya sangat bergantung pada keputusan Bank Indonesia dan perkembangan kebijakan Federal Reserve. Selama dolar masih memegang kendali, tekanan terhadap mata uang kawasan berpotensi berlanjut.
Untuk saat ini, rupiah masih berjalan di jalur yang menanjak. Jalan itu terasa semakin curam. Pasar hanya menunggu siapa yang lebih dulu mengubah arah permainan, Federal Reserve atau Bank Indonesia. R-02

