Rupiah Bangkit Lagi, Dolar AS Terseret ke Bawah Rp18.000 Setelah BI Rate Naik
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumbar: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah kembali menunjukkan tenaga pada pembukaan pasar di Selasa pagi, 10 Juni 2026. Mata uang Indonesia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Pasar pun langsung memberi perhatian besar.
Level Rp18.000 sempat menjadi pembicaraan beberapa hari terakhir. Angka itu dianggap batas penting. Saat dolar menembus area tersebut, kekhawatiran ikut muncul. Pagi ini cerita berubah cukup cepat.
Pada awal perdagangan, rupiah langsung menguat. Nilai tukar bergerak ke kisaran Rp17.875 per dolar AS. Posisi itu lebih baik dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Rupiah berhasil keluar dari tekanan yang sempat membebaninya.
Tidak lama kemudian, pergerakan pasar berubah lagi. Rupiah bergerak di area Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS. Meski fluktuatif, mata uang Garuda tetap bertahan di bawah Rp18.000.
Data perdagangan menunjukkan rupiah sempat berada di level Rp17.918 per dolar AS. Setelah itu bergerak ke Rp17.949 per dolar AS. Angka tersebut tetap memberi sinyal positif bagi pasar domestik.
Di balik penguatan tersebut, ada satu faktor utama. Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan. Langkah itu langsung memengaruhi arah pasar keuangan.
Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin pada Selasa, 9 Juni 2026. Suku bunga kini berada di level 5,50 persen. Kebijakan itu menjadi respons terhadap tekanan nilai tukar.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan alasan kebijakan tersebut. Fokus utama tetap menjaga stabilitas rupiah. Kondisi global masih penuh ketidakpastian. “Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio,” kata Perry Warjiyo.
Pasar tampaknya langsung merespons langkah tersebut. Investor mulai melihat peluang baru. Arus dana perlahan bergerak kembali ke instrumen domestik.
Tidak hanya suku bunga. Bank Indonesia juga memperkuat instrumen lain. Salah satunya melalui kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Yield SRBI kini mencapai sekitar 7,25 persen. Angka tersebut cukup menarik perhatian investor. Imbal hasil yang lebih tinggi memberi daya tarik tambahan.
Mega Capital Sekuritas menilai langkah tersebut belum selesai. Upaya menjaga stabilitas rupiah masih terus berjalan. Koordinasi antar lembaga juga terus dilakukan.
Dalam laporan risetnya, tim analis Mega Capital melihat ruang penguatan rupiah masih terbuka. Target berikutnya berada pada rentang lebih kuat. Pasar masih memantau perkembangan tersebut. “Upaya stabilisasi akan terus dilakukan,” tulis tim riset Mega Capital Sekuritas.
Meski rupiah menguat pagi ini, perjalanan belum sepenuhnya mulus. Tekanan global masih cukup besar. Dolar AS tetap memiliki tenaga dari berbagai sentimen internasional.
Indeks dolar AS masih berada dekat level 100. Angka tersebut menunjukkan mata uang Amerika masih cukup kuat. Kondisi itu membuat banyak mata uang dunia bergerak hati-hati.
Harga minyak dunia juga belum sepenuhnya turun. Minyak mentah masih bertahan di atas 92 dolar AS per barel. Situasi tersebut memberi tekanan tambahan bagi banyak negara.
Pasar global juga masih mencermati perkembangan Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum sepenuhnya reda. Setiap perkembangan baru langsung memengaruhi pasar keuangan.
Meski begitu, rupiah justru tampil cukup baik dibandingkan mata uang Asia lainnya. Beberapa mata uang kawasan masih melemah. Rupiah bahkan menjadi salah satu yang terkuat pagi ini.
Won Korea Selatan ikut menguat. Dolar Hong Kong bergerak tipis di zona hijau. Mata uang lain seperti baht Thailand dan ringgit Malaysia justru bergerak melemah.
Performa tersebut membuat pelaku pasar sedikit lebih tenang. Rupiah berhasil menjaga jarak dari level Rp18.000. Angka itu menjadi simbol penting bagi psikologi pasar.
Jika melihat data mingguan, dolar sebenarnya masih cukup dominan. Dalam satu bulan terakhir, dolar menguat lebih dari tiga persen. Dalam tiga bulan, penguatannya mencapai lebih dari enam persen.
Cerita jangka panjang juga menunjukkan hal serupa. Dalam enam bulan terakhir, dolar naik lebih dari tujuh persen. Dalam setahun, penguatannya menembus sepuluh persen.
Artinya, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang. Penguatan hari ini menjadi langkah awal. Pasar masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.
Pergerakan dolar terhadap rupiah dalam 52 minggu terakhir juga cukup lebar. Rentangnya bergerak dari Rp16.085 hingga Rp18.218 per dolar AS. Posisi saat ini masih berada dekat area atas rentang tersebut.
Meski begitu, pasar mulai melihat tanda-tanda perbaikan. Dolar tidak lagi melaju tanpa hambatan. Rupiah mulai menunjukkan perlawanan yang lebih kuat.
Faktor domestik menjadi penopang utama. Kebijakan moneter yang lebih ketat memberi kepercayaan baru. Investor melihat komitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Selain itu, stabilitas pasar saham juga ikut membantu. IHSG kembali menguat pada perdagangan pagi. Penguatan pasar modal memberi sentimen tambahan bagi rupiah.
Kondisi fiskal juga menjadi perhatian. Kenaikan harga Pertamax dipandang membantu menjaga keseimbangan anggaran. Langkah tersebut dinilai mengurangi tekanan terhadap keuangan negara.
Meski masih banyak tantangan, suasana pasar pagi ini terasa berbeda. Rupiah tidak lagi hanya bertahan. Mata uang Garuda mulai bergerak maju.
Pelaku usaha, investor, dan perbankan kini menunggu arah berikutnya. Jika tren ini berlanjut, rupiah berpeluang bergerak lebih stabil. Target kembali ke kisaran Rp17.500 hingga Rp17.900 mulai dibicarakan.
Untuk sementara, satu pesan terlihat cukup jelas. Rupiah belum menyerah. Saat dolar mencoba mempertahankan dominasinya, mata uang Indonesia perlahan menemukan pijakan baru. Di tengah ketidakpastian global, rupiah kembali memberi sinyal kehidupan yang lebih kuat. R-02

