Harga Pangan Melandai Serentak! Beras, Telur, Daging Turun, Dompet Warga Akhirnya Bernapas
Ilustrasi aktivitas perdagangan di pasar tradisional. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga pangan nasional pada Selasa, 9 Juni 2026, bergerak ke arah yang jarang terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Mayoritas komoditas strategis mengalami penurunan harga secara bersamaan. Beras, telur ayam ras, daging sapi, daging ayam, gula pasir, minyak goreng, hingga berbagai jenis cabai tercatat turun di pasar tradisional.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan penurunan terjadi hampir di seluruh kelompok pangan utama. Situasi ini menjadi kabar penting bagi masyarakat yang selama ini menghadapi tekanan harga kebutuhan sehari-hari.
Penurunan paling mencolok terjadi pada kelompok hortikultura. Cabai rawit hijau tercatat mengalami koreksi paling dalam. Harga komoditas pedas itu turun hingga 46,62 persen. Angkanya berada pada kisaran Rp30.000 per kilogram.
Meski begitu, cabai rawit merah masih bertahan sebagai komoditas dengan harga tertinggi. Berdasarkan data PIHPS Nasional, harga rata-ratanya mencapai Rp75.150 per kilogram. Angka tersebut masih jauh di atas komoditas pangan lainnya.
Cabai merah besar ikut melemah. Harganya turun menjadi Rp55.000 per kilogram. Cabai merah keriting juga terkoreksi menjadi Rp58.400 per kilogram. Penurunan ini memberi sinyal bahwa pasokan mulai membaik di sejumlah daerah sentra produksi.
Dari kelompok beras, seluruh kategori mengalami pelemahan harga. Beras kualitas bawah I turun menjadi Rp14.500 per kilogram. Beras kualitas bawah II turun menjadi Rp13.500 per kilogram.
Beras medium juga bergerak turun. Beras medium I berada pada level Rp15.300 per kilogram. Beras medium II turun menjadi Rp14.700 per kilogram.
Kondisi serupa terjadi pada beras premium. Beras super I tercatat menjadi Rp16.000 per kilogram. Beras super II turun menjadi Rp15.500 per kilogram.
Penurunan beras menarik perhatian pelaku pasar. Komoditas ini menjadi kebutuhan utama hampir seluruh rumah tangga Indonesia. Perubahan harga sekecil apa pun langsung berdampak terhadap pengeluaran masyarakat.
Kelompok minyak goreng juga memperlihatkan tren serupa. Minyak goreng curah turun menjadi Rp20.500 per kilogram. Minyak goreng kemasan merek pertama turun menjadi Rp22.000 per kilogram.
Minyak goreng kemasan merek kedua bahkan turun lebih dalam. Harganya berada pada kisaran Rp20.500 per kilogram. Koreksi ini membuat selisih harga antara minyak curah dan kemasan semakin tipis.
Gula pasir ikut bergerak turun. Gula lokal tercatat menjadi Rp17.000 per kilogram. Sementara gula premium turun menjadi Rp19.000 per kilogram.
Di sektor protein hewani, harga telur ayam ras mengalami pelemahan cukup besar. Harga rata-rata turun menjadi Rp26.000 per kilogram. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan beberapa pekan sebelumnya.
Daging ayam ras segar juga bergerak turun. Harganya tercatat menjadi Rp32.500 per kilogram. Penurunan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan sumber protein dengan harga lebih terjangkau.
Harga daging sapi ikut terkoreksi. Daging sapi kualitas satu berada pada level Rp130.000 per kilogram. Daging sapi kualitas dua turun menjadi Rp120.000 per kilogram.
Meski mayoritas komoditas melemah, tidak semua barang mengikuti arus yang sama. Bawang merah justru mengalami kenaikan harga. Komoditas ini naik menjadi Rp55.000 per kilogram.
Sementara bawang putih ukuran sedang bergerak turun tipis. Harganya berada pada level Rp38.000 per kilogram. Pergerakan dua komoditas ini menunjukkan dinamika pasokan masih berbeda di setiap daerah.
Data lain dari PIHPS Nasional menunjukkan variasi harga masih terjadi antarwilayah. Pada pemantauan pagi hari, bawang merah tercatat berada pada level Rp56.250 per kilogram. Bawang putih mencapai Rp40.800 per kilogram.
Harga daging sapi kualitas satu bahkan masih menyentuh Rp148.150 per kilogram pada sejumlah wilayah tertentu. Daging sapi kualitas dua berada pada kisaran Rp139.400 per kilogram. Perbedaan ini dipengaruhi oleh biaya distribusi dan kondisi pasokan lokal.
Cabai rawit merah juga masih menjadi perhatian utama. Harga yang bertahan tinggi menunjukkan permintaan pasar tetap kuat. Di sisi lain, pasokan belum sepenuhnya stabil di berbagai daerah.
Pengamat pasar menilai tren penurunan harga kali ini memberi sinyal positif. Biaya belanja rumah tangga berpotensi menurun. Tekanan inflasi pangan juga berpeluang mereda dalam beberapa waktu ke depan.
Meski begitu, pasar pangan tetap bergerak dinamis. Perubahan cuaca, distribusi, serta pasokan hasil panen dapat memengaruhi harga sewaktu-waktu. Karena itu, pemantauan tetap menjadi kunci menjaga stabilitas.
Data PIHPS Nasional menunjukkan pasar sedang memasuki fase penyesuaian. Harga yang sebelumnya melambung kini mulai turun perlahan. Situasi ini memberi harapan baru bagi konsumen.
Bagi pedagang, perubahan harga menjadi tantangan tersendiri. Mereka harus menyesuaikan stok dan strategi penjualan. Sementara bagi masyarakat, kabar ini menjadi angin segar setelah menghadapi periode harga tinggi cukup panjang.
Selasa, 9 Juni 2026, menjadi hari ketika banyak angka di papan harga berubah arah. Dari beras hingga cabai, dari telur hingga minyak goreng, mayoritas komoditas bergerak turun. Pasar seolah sedang menarik napas panjang setelah berbulan-bulan berada dalam tekanan harga yang tinggi. R-02

