Rupiah Tumbang ke Rp18.150! Dolar AS Menggila, Pasar Keuangan Berguncang
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah melemah tajam ke Rp18.150 per dolar AS pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, di tengah penguatan dolar Amerika Serikat, lonjakan harga minyak dunia, serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang menekan mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.
Pergerakan rupiah pada awal pekan langsung terseret arus global yang bergerak cepat. Pada pukul 09.07 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp18.100 per dolar AS, lalu melemah lebih jauh hingga Rp18.150 per dolar AS sekitar pukul 10.00 WIB.
Data pasar menunjukkan tekanan berlangsung sejak pembukaan perdagangan. Rupiah dibuka melemah ke sekitar Rp18.105 per dolar AS, mencerminkan sentimen negatif yang sudah terbentuk sejak akhir pekan sebelumnya. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah sempat menguat tipis. Namun, momentum tersebut tidak bertahan.
Kondisi ini menjadikan rupiah kembali berada di area terlemah sepanjang sejarah perdagangan modernnya. Tekanan tidak datang dari satu arah saja, melainkan dari kombinasi faktor global yang bergerak serempak.
Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat atau DXY tetap berada di level tinggi. Meski sempat turun tipis ke 99,998, posisinya masih bertahan dekat angka psikologis 100. Kekuatan dolar AS dipicu data ketenagakerjaan terbaru yang lebih kuat. Data tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap ketahanan ekonomi AS.
Arus modal global kembali bergerak menuju aset dolar. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang tertekan, termasuk rupiah. Di pasar komoditas, harga minyak dunia juga ikut menjadi pemicu tekanan tambahan. Minyak Brent sempat melonjak hingga 3,6 persen ke US$96,47 per barel.
Sementara minyak West Texas Intermediate mendekati US$94 per barel sebelum melemah sebagian. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Serangan rudal Iran ke arah Israel memicu kekhawatiran lanjutan di pasar energi.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak global. Investor merespons dengan mengurangi aset berisiko dan beralih ke dolar AS. Analis pasar uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan rupiah tidak lepas dari kombinasi data ekonomi Amerika Serikat dan situasi geopolitik.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS NFP lebih baik dari perkiraan. Harga minyak yang kembali naik akibat eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut menekan rupiah,” ujar Lukman Leong, Senin, 8 Juni 2026.
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mata uang kawasan Asia juga bergerak serempak di zona merah. Ringgit Malaysia menjadi salah satu yang paling tertekan, menyentuh level terendah sejak Januari. Baht Thailand dan peso Filipina juga ikut melemah.
Yen Jepang dan dolar Taiwan turut berada dalam tekanan. Kondisi ini menunjukkan kekuatan dolar AS berdampak luas di kawasan. Meski begitu, beberapa mata uang masih mampu bertahan. Won Korea Selatan dan yuan offshore China sempat menguat tipis.
Dolar Singapura juga mencatat penguatan kecil di tengah tekanan regional. Namun pergerakan tersebut tidak cukup menahan tren pelemahan mayoritas mata uang Asia.
Investor global kini menaruh perhatian pada arah kebijakan Federal Reserve. Spekulasi sikap hawkish masih menjadi faktor utama penggerak pasar. Sikap kebijakan tersebut memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini meningkatkan daya tarik dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada data cadangan devisa. Data ini dianggap sebagai indikator ketahanan eksternal Indonesia. Cadangan devisa terakhir tercatat sekitar US$146,2 miliar. Angka tersebut masih setara 5,8 bulan impor.
Posisi ini masih di atas standar internasional tiga bulan impor. Namun, tren penurunan menjadi perhatian pasar. Cadangan devisa tercatat menyusut selama empat bulan berturut-turut. Penurunan kumulatif mencapai lebih dari US$10 miliar dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini menambah perhatian terhadap ruang stabilisasi rupiah. Meski demikian, cadangan masih dianggap cukup kuat menghadapi gejolak eksternal. Analis lain, Ibrahim Assuaibi, melihat pergerakan rupiah masih akan fluktuatif. Tekanan global dinilai masih dominan dalam jangka pendek.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.030 per USD hingga Rp18.100 per USD,” jelas Ibrahim Assuaibi.
Perkiraan tersebut menunjukkan pasar masih berada dalam fase hati-hati. Investor menunggu arah baru dari data global berikutnya. Pergerakan rupiah pada pagi hari juga tercatat bervariasi antar sumber data. Bloomberg menunjukkan pelemahan hingga Rp18.145 per dolar AS.
Yahoo Finance mencatat level sekitar Rp18.035 per dolar AS pada waktu yang sama. Perbedaan ini mencerminkan volatilitas tinggi di pasar. Di Asia, sebagian besar mata uang berada dalam tekanan. Hanya beberapa yang mampu bertahan di zona hijau. Yuan China dan rupee India mencatat penguatan tipis. Namun, mayoritas tetap melemah.
Sentimen global masih menjadi penggerak utama pasar. Data ekonomi Amerika Serikat dan harga minyak menjadi dua faktor dominan. Pelaku pasar kini menunggu rilis data lanjutan dan arah kebijakan bank sentral. Ketidakpastian masih mendominasi perdagangan valas.
Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS. Tekanan eksternal masih menjadi faktor utama. Di tengah kondisi tersebut, pasar tetap bergerak cepat dan sensitif. Setiap data baru langsung memicu perubahan arah perdagangan. R-02

