Ngeri! Preman Tendang Perut Ibu Hamil, Suami Dipukul dan Ditodong Pistol
Ilustrasi dan infografis penganiayaan ibu hamil di Tembung, Medan. Foto: SM News/Created by AI
SUMUT, SabangMerauke News - Senja datang membawa cerita yang tak biasa di Terowongan Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Rabu, 3 Juni 2026. Seorang ibu hamil bernama Mulana Kartina Nainggolan, 30 tahun, menjadi korban penganiayaan saat berusaha menghindari tawuran. Janin yang sudah dinanti selama empat tahun mendadak berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.
Mulana sore itu pulang bersama suaminya, Manongap Purba, 34 tahun. Mereka baru meninggalkan kawasan Bandar Setia menuju rumah di Perumnas Mandala. Saat mendekati Terowongan Tembung, suasana jalan mendadak berubah tegang. Di atas rel kereta api terjadi tawuran yang disertai aksi saling lempar batu.
Melihat kondisi tersebut, pasangan suami istri itu memilih berhenti. Mereka tidak ingin mengambil risiko melintas di tengah kericuhan. Apalagi, Mulana sedang mengandung hampir dua bulan. Keselamatan calon buah hati menjadi prioritas utama.
"Saya sudah takut dengan kondisi tawuran di situ. Memang kejadian seperti itu sering terjadi," kata Mulana Kartina Nainggolan, Kamis, 4 Juni 2026.
Ketakutan Mulana bukan tanpa alasan. Batu yang beterbangan dapat mengenai siapa saja yang melintas. Manongap pun memilih meminggirkan sepeda motor sambil menunggu keadaan lebih aman. Keputusan sederhana itu ternyata menjadi awal petaka.
Dua pria yang berada di lokasi mendatangi mereka. Kedua pria tersebut meminta pasangan itu segera melanjutkan perjalanan. Manongap menolak karena tidak ingin istrinya terkena lemparan batu. Perdebatan singkat pun terjadi di tengah kemacetan.
Menurut pengakuan korban, salah satu pria bernama Zulyarham, 46 tahun, tiba-tiba melayangkan pukulan ke wajah Manongap. Situasi berubah kacau dalam hitungan detik. Mulana, yang melihat suaminya dipukul, spontan turun dari sepeda motor. Ia berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
Belum sempat bereaksi lebih jauh, pria lain bernama Zulpikar, 37 tahun, bergerak mendekat. Dengan emosi yang memuncak, ia menendang bagian perut Mulana. Tendangan itu mengenai perempuan yang sedang mengandung dan tidak melakukan perlawanan.
"Sebenarnya, waktu itu saya rasa sakit. Karena lihat suami dipukuli, rasa sakit itu tidak terlalu terasa," ujar Mulana.
Keributan terus berlanjut di depan warga yang mulai berkumpul. Beberapa orang mencoba melerai pertikaian tersebut. Akan tetapi, pukulan terhadap Manongap terus terjadi hingga helm yang dikenakannya terlepas. Situasi semakin mencekam ketika sebuah pistol dikeluarkan.
Manongap mengaku pelaku mengacungkan senjata sambil mengusir mereka. Dalam kondisi takut dan tertekan, pasangan itu akhirnya memilih pergi dari lokasi. Mereka terpaksa melintasi terowongan yang sebelumnya ingin dihindari. Beruntung tidak ada lemparan batu yang mengenai mereka.
Setelah tiba di tempat aman, Mulana mulai merasakan nyeri pada bagian perut. Kekhawatiran langsung menghampiri dirinya. Kehamilan itu memiliki arti yang sangat besar bagi keluarga kecil mereka. Selama empat tahun, pasangan tersebut menunggu kehadiran seorang anak.
"Saya sempat khawatir ada gangguan di kandungan. Apalagi saya punya riwayat keguguran," ungkap Mulana.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi pasangan tersebut. Pikiran mereka dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Keesokan harinya, Kamis, 4 Juni 2026, mereka memutuskan memeriksakan kondisi kandungan ke RSUD Pirngadi Medan.
Hasil pemeriksaan akhirnya membawa sedikit ketenangan. Dokter memastikan kondisi janin masih dalam keadaan baik. Kabar itu menjadi titik terang setelah kejadian yang menguras emosi. "Setelah diperiksa, puji Tuhan, kandungan saya aman," kata Mulana dengan suara lega.
Sementara itu, video penganiayaan yang beredar luas membuat polisi bergerak cepat. Tim Polrestabes Medan langsung melakukan penyelidikan dan memburu para pelaku. Dalam waktu kurang dari lima jam, dua pria yang diduga terlibat berhasil diamankan.
Kanit Resmob Polrestabes Medan, Iptu Bimo Setiadi, mengatakan penangkapan dilakukan pada Rabu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Kedua pelaku ditangkap tidak jauh dari lokasi kejadian. Mereka juga mengakui telah melakukan pemukulan terhadap korban.
"Pelaku ditangkap di sekitar lokasi. Keduanya mengakui telah memukul korban," ujar Bimo Setiadi.
Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Adrian Lubis, menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan hasil pemeriksaan. Saat tawuran berlangsung, kedua pelaku berperan mengatur arus kendaraan yang macet di sekitar terowongan. Ketika korban menolak maju karena alasan keselamatan, percekcokan pun terjadi.
"Akhirnya, pelaku melakukan penendangan kepada ibu hamil dan satu pelaku lain menganiaya suaminya," kata Adrian Lubis.
Polisi juga masih mendalami asal-usul pistol yang digunakan saat kejadian. Senjata tersebut diduga merupakan airgun yang dipakai untuk mengintimidasi korban. Saat ini kedua pelaku masih menjalani proses hukum di Polrestabes Medan.
Kasus tersebut kembali membuka perhatian terhadap kondisi keamanan di kawasan Terowongan Tembung. Warga menyebut tawuran sering terjadi di lokasi itu. Situasi tersebut membuat banyak pengendara merasa waswas ketika melintas, terutama pada sore hingga malam hari.
Bagi Mulana dan Manongap, perkara ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Peristiwa itu meninggalkan trauma yang sulit dilupakan. Mereka hanya ingin pulang dengan selamat. Mereka hanya ingin menjaga calon buah hati yang sudah lama dinantikan.
Akan tetapi, perjalanan pulang itu berubah menjadi mimpi buruk. Di tengah keramaian jalan, seorang ibu hamil harus menahan sakit setelah ditendang. Seorang suami harus menerima pukulan saat berusaha melindungi keluarganya. Dan di balik video yang viral itu, ada ketakutan seorang ibu yang hampir kehilangan harapan terbesar dalam hidupnya. R-02

