Baru Buka Sudah Hijau, 15 Menit Kemudian Berdarah! Ada Apa dengan IHSG?
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bikin drama pada Rabu pagi, 3 Juni 2026. Indeks dibuka naik 11,67 poin ke 6.207, langsung jungkir balik. Kurang dari 15 menit, IHSG ambruk 1,60% ke 6.096. Saham konglomerat Prajogo Pangestu jadi biang kerok utama. Net sell asing Rp1,39 triliun bikin pasar lemas.
Jam 09.01 WIB, trader tersenyum-senyum melihat layar hijau. IHSG nongol gagah naik 0,19% ke 6.207. DSSA langsung ngegas 17% ke Rp720 pagi-pagi. HER ikut joget naik 16,67% ke Rp430. PNSE tak mau kalah, menguat 15,45% ke Rp635.
Sayangnya, euforia itu umurnya pendek kayak baterai lowbat. Pukul 09.15 WIB, grafik IHSG berubah jadi perosotan. Indeks kehilangan 100 poin tanpa permisi ke 6.096,28. Nilai transaksi tembus Rp2,64 triliun dalam sekejap. Sebanyak 398 saham merah, cuma 149 yang kuat bertahan.
Saham konglo yang kemarin ARA sekarang malah jadi pemberat. BREN yang Selasa terbang 24,85% ke Rp4.120 tiba-tiba loyo. CUAN habis lompat 24,60% ke Rp785 malah oleng hari ini. TPIA juga ikut melempem setelah naik 6,44% kemarin. DSSA sih masih ARA 25%, tapi sendirian kurang tenaga.
“Penurunan pasar saham Indonesia lebih banyak mencerminkan kenaikan risiko spesifik domestik,” tulis Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas. Catatan itu keluar Rabu, 3 Juni 2026 untuk klien. BRIDS langsung merevisi target IHSG akhir 2026 jadi 7.200. Padahal dulu mereka pede pasang angka 9.440.
Sehari sebelumnya, Selasa, IHSG masih sempat pamer otot. Indeks ditutup terbang 68,05 poin atau 1,11% ke 6.195. Tapi asing justru jualan brutal Rp1,39 triliun sehari. TPIA dibuang Rp254,59 miliar, ASII dilepas Rp244,22 miliar. BRPT juga kena semprot jual Rp156,07 miliar.
Data ekonomi dalam negeri kasih kode campur aduk. S&P Global merilis PMI Indonesia Mei 2026 di angka 50,0. Naik tipis dari April yang sempat berkontraksi 49,1. Pesanan baru tumbuh paling kencang sejak Februari. Tapi pesanan ekspor malah turun tiga bulan beruntun.
BPS lapor neraca dagang April 2026 surplus cuma US$90 juta. Angka itu nyungsep dibanding Maret yang US$3,32 miliar. Ekspor US$25,30 miliar, impor US$25,21 miliar, selisihnya tipis. Meski tetap surplus 72 bulan berturut-turut, pasar kecewa berat. Soalnya ini surplus paling kurus enam tahun.
Inflasi Mei 2026 juga naik jadi 0,28% bulanan. Secara tahunan, inflasi nongkrong di 3,08% menurut BPS. Bulan April cuma 0,13%, sekarang makin hangat. Harga-harga pelan-pelan merangkak naik lagi. Pedagang warteg mulai waswas harga cabai dan beras.
“Sentimen domestik turut ditopang inflasi Mei 2026 yang tercatat 3,08% year-on-year,” ujar Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas. Mereka nulis itu di laporan pagi 3 Juni 2026. Tapi mereka juga mengingatkan surplus dagang kempis. Ditambah rebalancing FTSE Russell Juni bikin deg-degan.
Ada lagi fakta yang bikin dahi trader berkerut dalam. Kredit nganggur bank alias undisbursed loan tembus Rp2.527 triliun. Data itu posisi Maret 2026 dan naik 7,35%. Wakil Ketua Umum Perbanas, Nixon Napitupulu, yang beberkan angkanya. Banyak bos perusahaan menahan ekspansi, duit diparkir dulu.
Bursa Asia sih sebenarnya lagi happy-happy pagi tadi. Nikkei 225 Jepang lompat 0,91% cetak rekor baru. Topix naik 0,93%, S&P/ASX 200 Australia nambah 0,32%. Pasar cuek sama drama AS-Iran di Selat Hormuz. Sayang IHSG nggak ikutan pesta tetangga sebelah.
Hang Seng futures malah melemah ke 25.853 dari penutupan 26.038. Pasar Korea Selatan libur nasional, jadi sepi transaksi. Fokus investor Asia ke Jepang, Australia, dan Hong Kong. Harga minyak juga naik gara-gara konflik Timur Tengah. WTI temos US$94,92 por barril, Brent US$96.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bilang Iran tebar ranjau. Selat Hormuz memanas, kapal dagang kena getahnya. Tapi harga minyak naik nggak nolong saham energi lokal. Sektor energi sempat naik 1,61% kemarin, hari ini keteteran. Saham material dasar naik 1,32% juga ikut lemas.
Secara teknikal, IHSG masih nongkrong di atas MA5. Stochastic RSI lagi lirik-lirik area pivot kata Phintraco Sekuritas. Support ada di 6.060, resistance di 6.290. CGS International kasih rentang 6.140 sampai 6.305 hari ini. Tapi kalau asing masih jualan, mental juga ikut jebol.
Kemarin saham BEER ARA 34,94% ke Rp112 bikin heboh. NZIA juga ARA 34,85% ke Rp178, KUAS 34,07% ke Rp122. APLI ikut pesta ARA 24,43% ke Rp326 sehari sebelumnya. Hari ini giliran mereka ambil napas, pasar ikut batuk. Reli sehari langsung dibayar mahal besoknya.
Valuasi saham Indonesia sekarang malah kelihatan murah banget. Spread earnings yield IHSG ke obligasi capai 242 basis poin. Jauh di atas rata-rata historis menurut BRIDS. Artinya risiko sudah dihargai mahal di harga saham. Tinggal tunggu pemicu buat balik arah lagi.
BRIDS masih optimistis laba emiten tumbuh 13%-14% tahun depan. Tapi premi valuasi konglomerat menyusut, jadi target dipangkas. Buat defensif, mereka jagoin BBCA dan MIKA yang anteng. Kalau mau agresif, ada ISAT, ANTM, TINS. Tinggal pilih sesuai selera risiko masing-masing.
Saham pilihan BRI Danareksa hari ini SUPA, DMAS, KETR. SUPA diincar di Rp885-Rp915 buat trading cepat. DMAS bidik Rp162-Rp166, KETR Rp705-Rp745. Phintraco nyebut AMRT, ENRG, SMGR, SUPA, SCMA menarik. CGS International sorot AMMN, PSAB, BBNI, ANTM, MDKA.
Panin Sekuritas tetap pede IHSG bisa menguat hari ini. Alasannya valuasi sudah murah dan ruang turun terbatas. Mereka pilih SSMS, SCMA, ANTM buat pantau. Tapi dolar naik ke Rp17.870 pagi ini. Rupiah lemas bikin asing makin betah jualan saham.
Kemarin LQ45 juga sempat melemah tipis 0,25 poin. Artinya penguatan IHSG Selasa belum merata ke semua. Banyak yang manfaatin naik buat profit taking cepat. Pagi ini volume 866 juta saham senilai Rp599 miliar. Sebanyak 233 saham hijau, 161 merah, 248 anteng.
Intinya, IHSG hari ini kayak teman yang PHP. Datang kasih harapan, terus ngilang bawa dompet kita. Saham konglo yang kemarin pahlawan, sekarang jadi tersangka. Pasar butuh stabilisasi rupiah dan sentimen segar. Kalau nggak, trader cuma bisa ngopi pahit tiap pagi. R-02

