Teddy Balas Kritik Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Data Investasi dan BRICS Disorot
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut berbagai capaian strategis berhasil diraih selama 1,5 tahun terakhir. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Pemerintah menegaskan diplomasi luar negeri Presiden Prabowo Subianto menghasilkan manfaat nyata bagi Indonesia. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut berbagai capaian strategis berhasil diraih selama 1,5 tahun terakhir. Hasil tersebut mencakup sektor ekonomi, investasi, pertahanan, pangan, energi, hingga hubungan internasional.
Teddy membantah kritik yang menilai kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat seremonial. Menurutnya, berbagai lawatan menghasilkan kesepakatan penting bagi kepentingan nasional Indonesia. Pemerintah meminta publik melihat hasil konkret sebelum memberikan penilaian terhadap diplomasi Presiden.
“Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” kata Teddy dalam keterangannya.
Salah satu capaian utama adalah keberhasilan Indonesia bergabung dalam kelompok ekonomi BRICS. Keanggotaan tersebut dinilai memperkuat posisi Indonesia menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Langkah itu juga mendukung stabilitas pasokan energi dan pangan nasional.
“Sekarang di tengah konflik krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik. Stok pangan aman,” ujar Teddy.
Pemerintah juga menyoroti keberhasilan penyelesaian kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa. Perjanjian tersebut membuka peluang tarif nol persen bagi berbagai produk Indonesia. Kesepakatan itu telah dibahas selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mencapai penyelesaian.
“Tarif nol persen di Uni Eropa. Perjanjian ini sudah diurus belasan tahun. Tercapai pada masa Presiden Prabowo tahun 2025 lalu,” katanya.
Selain perdagangan, pemerintah mencatat peningkatan investasi yang masuk ke Indonesia selama 1,5 tahun terakhir. Nilai investasi mencapai sekitar Rp2.430 triliun berdasarkan data resmi pemerintah. Kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan juga menghasilkan komitmen tambahan bernilai besar.
Menurut Teddy, komitmen investasi baru dari Jepang dan Korea Selatan mencapai Rp575 triliun. Nilai tersebut memperkuat optimisme terhadap iklim investasi nasional dalam beberapa tahun mendatang. Pemerintah menargetkan realisasi investasi berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.
Pada sektor pertahanan, Indonesia memperluas kerja sama dengan berbagai negara mitra strategis. Kerja sama tersebut mendukung peningkatan kemampuan alat utama sistem persenjataan nasional. Mitra kerja sama mencakup negara-negara besar di Eropa, Amerika, dan Asia.
Pemerintah juga menyoroti penyelenggaraan ibadah haji yang dinilai semakin baik. Salah satu keunggulan Indonesia adalah keberadaan perkampungan haji khusus di Arab Saudi. Fasilitas tersebut disebut menjadi keistimewaan yang tidak dimiliki negara lain.
“Indonesia adalah negara satu-satunya yang punya perkampungan haji di Arab Saudi,” ujar Teddy. Fasilitas tersebut mendukung pelayanan jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas layanan bagi seluruh jemaah.
Dalam isu kemanusiaan global, Indonesia memperkuat dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Bentuk dukungan mencakup bantuan logistik udara dan pengiriman kapal rumah sakit. Pemerintah juga memberikan akses pendidikan bagi pelajar Palestina di Indonesia.
“Presiden Prabowo betul-betul berperan aktif di Palestina. Ada bantuan logistik udara, kapal rumah sakit, serta pendidikan bagi anak-anak Palestina,” kata Teddy.
Keberhasilan diplomasi Indonesia juga terlihat dalam pemulangan warga negara Indonesia dari Israel. Proses tersebut berlangsung melalui komunikasi intensif antara pemerintah dan berbagai pihak terkait. Diplomasi aktif dinilai menjadi faktor utama keberhasilan pemulangan tersebut.
Teddy menegaskan agenda pertemuan Presiden dengan para pemimpin dunia ditentukan berdasarkan prioritas nasional. Keputusan tersebut dilakukan bersama Menteri Luar Negeri sesuai kepentingan strategis Indonesia. Tidak semua agenda diplomasi harus dipublikasikan kepada masyarakat.
“Semua diplomat hebat memahami prioritas pertemuan dan kepentingan nasional. Kurang elok jika hal tersebut terus dipermasalahkan,” ujarnya.
Pemerintah menyatakan tetap terbuka menerima kritik dan berbagai masukan dari masyarakat. Namun kritik diharapkan tetap mempertimbangkan fakta serta capaian diplomasi yang telah diraih. Hasil konkret tersebut dinilai menjadi ukuran utama keberhasilan kebijakan luar negeri Indonesia.(R-03)

