Juda Agung Beberkan Tiga Jurus Fiskal, Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Krisis
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. Foto : Istimewa
BOGOR, SabangMerauke News - Dolar Amerika Serikat sempat menyentuh Rp17.900 dan memicu perhatian pelaku ekonomi nasional. Pemerintah bergerak cepat menyiapkan strategi fiskal untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang AS. Kementerian Keuangan mengandalkan surat utang berdenominasi yen, renminbi, hingga dolar Australia guna menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
Kementerian Keuangan menyiapkan strategi pembiayaan baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat. Langkah tersebut ditempuh melalui penerbitan surat utang menggunakan mata uang alternatif yang dinilai lebih kompetitif. Kebijakan ini mengemuka setelah dolar AS sempat menyentuh level Rp17.900 pada akhir Mei 2026.
Pemerintah menilai perekonomian nasional masih memiliki daya tahan kuat menghadapi tekanan global. Ketidakpastian ekonomi dipicu perang tarif internasional serta meningkatnya ketegangan geopolitik berbagai kawasan. Kondisi tersebut memaksa banyak negara menyesuaikan strategi fiskal dan pembiayaan nasional.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan fondasi ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi solid. Ketahanan tersebut didukung ketersediaan sumber energi domestik yang cukup beragam. Menurutnya, bauran energi nasional menjadi faktor penting menjaga stabilitas ekonomi.
“Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ujar Juda Agung dalam kuliah umum di Institut Pertanian Bogor.
Juda menjelaskan pemerintah menjalankan tiga strategi fiskal secara konsisten untuk menjaga stabilitas ekonomi. Seluruh kebijakan dirancang untuk mempertahankan pertumbuhan sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat. Disiplin fiskal tetap menjadi landasan utama setiap kebijakan pemerintah.
Strategi pertama dilakukan melalui pengendalian belanja negara secara lebih terarah dan efektif. Pemerintah menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan subsidi energi yang berkelanjutan. Inflasi juga dikendalikan dengan menjaga stabilitas harga berbagai kebutuhan masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis turut mengalami penyesuaian untuk meningkatkan efisiensi anggaran pemerintah. Pelaksanaan program tersebut dikurangi pada hari Sabtu guna menekan beban belanja. Penghematan kemudian dialihkan menuju sektor yang menghasilkan dampak ekonomi lebih besar.
Belanja negara difokuskan pada kegiatan produktif yang mendorong permintaan dan produksi nasional. Pemerintah juga mengarahkan anggaran untuk menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Langkah tersebut diharapkan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
“Itu dari sisi pengeluaran yang bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, mendorong supply, mendorong produksi, dan juga menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Juda.
Strategi kedua ditempuh melalui optimalisasi penerimaan negara dari berbagai sumber pendapatan. Pemerintah memanfaatkan momentum tingginya harga sejumlah komoditas unggulan nasional. Penerimaan negara juga diperkuat melalui peningkatan efektivitas sistem perpajakan.
Implementasi Coretax menjadi salah satu instrumen utama dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Sistem tersebut dirancang memperkuat administrasi perpajakan secara lebih terintegrasi. Pemerintah berharap penerimaan negara dapat meningkat secara berkelanjutan.
Sementara itu, strategi ketiga difokuskan pada pengelolaan pembiayaan negara yang lebih adaptif. Pemerintah mengurangi dominasi dolar AS dalam penerbitan surat utang nasional. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko akibat fluktuasi mata uang Amerika.
Instrumen pembiayaan tersebut mencakup Samurai Bond yang menggunakan mata uang yen Jepang. Selain itu terdapat Dim Sum Bond yang diterbitkan menggunakan mata uang renminbi Tiongkok. Pemerintah juga memanfaatkan Kangaroo Bond dengan denominasi dolar Australia.
Juda menilai diversifikasi mata uang pembiayaan mampu memperkuat ketahanan fiskal nasional. Kebijakan tersebut sekaligus memperluas akses pemerintah terhadap pasar keuangan internasional. Tingkat bunga yang kompetitif menjadi pertimbangan penting dalam penerbitan instrumen tersebut.
Efektivitas strategi fiskal pemerintah terlihat pada kinerja ekonomi kuartal pertama tahun 2026. Perekonomian Indonesia tercatat tumbuh mencapai 5,61 persen pada periode tersebut. Angka itu menunjukkan aktivitas ekonomi tetap bergerak positif di tengah tekanan global.
Di sisi lain, inflasi nasional tetap terkendali pada level 2,42 persen. Defisit fiskal juga berada pada posisi aman sebesar 0,64 persen hingga April 2026. Stabilitas pasar keuangan tercermin dari yield Surat Berharga Negara yang tetap terjaga.
“Empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN menentukan bagaimana fiskal masih kuat. Strategi yang diambil tadi bekerja dengan baik,” tutup Juda Agung.
Pemerintah optimistis kombinasi pengendalian belanja, optimalisasi penerimaan, serta diversifikasi pembiayaan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional. Strategi tersebut diharapkan memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi gejolak global yang masih berlangsung. Fokus utama pemerintah tetap menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat.(R-04)

