Rapor Merah Nilai TKA Siswa Riau di Bawah Rata-Rata Nasional 2026, Lindawati NasDem Minta Pembenahan Total
Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi Partai NasDem, Lindawati, SE. Foto: SM News
RIAU, SabangMerauke News - Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tahun 2026 menorehkan catatan krusial bagi dunia pendidikan di Provinsi Riau. Data yang dirilis menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa Riau untuk mata pelajaran dasar, yakni Matematika dan Bahasa Indonesia, pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih berada di bawah rata-rata nasional.
Anggota DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi Partai NasDem, Lindawati, SE meminta hasil TKA tersebut dijadikan cermin dan bahan evaluasi mendalam bagi seluruh stakeholder pendidikan. Ia menilai capaian negatif tersebut sebagai alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan pembenahan total.
Berdasarkan data TKA 2026, ketertinggalan performa akademik siswa Riau terlihat jelas pada kedua mata pelajaran utama yakni Matematika dan Bahasa Indonesia. Secara nasional rerata nilai Matematika siswa jenjang SD berada di angka 43,41, sementara siswa SD di Riau hanya mampu mencapai rata-rata 41,74.
Penurunan performa ini berlanjut ke jenjang SMP, di mana rerata nasional nilai Matematika tercatat sebesar 40,34, sementara nilai rata-rata siswa SMP di Riau tertahan di angka 39,97.
Kondisi yang hampir serupa terjadi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Secara nasional, rerata nilai SD berada di angka 60,14, sementara siswa Riau membukukan nilai 60,02. Untuk jenjang SMP, ketika rata-rata nasional menyentuh angka 60,83, siswa SMP di Riau harus puas dengan raihan rerata 60,70.
Meskipun selisih angka pada mata pelajaran Bahasa Indonesia terlihat tipis, Lindawati menegaskan, posisi di bawah rata-rata nasional tetap menunjukkan adanya celah besar dalam sistem pembelajaran daerah yang harus segera ditambal.
Menurut Lindawati, ketertinggalan nilai TKA ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari sejumlah persoalan sistemik. Ia menguraikan tiga faktor utama yang menjadi penyebabnya.
Yakni kemungkinan terjadinya kesenjangan kualitas pembelajaran digital dan konvensional. Pasca-transformasi pendidikan beberapa tahun terakhir, adaptasi metode mengajar di Riau belum sepenuhnya merata. Banyak sekolah di sub-urban dan irisan kota yang masih gagap dalam menerapkan metode pembelajaran interaktif, terutama untuk pelajaran eksakta seperti Matematika.
Selain itu, hasil TKA siswa Riau yang 'merah' akibat rendahnya literasi dan numerasi dasar. Nilai Matematika yang rendah berakar pada lemahnya konsep numerasi sejak dini. Sementara itu, nilai Bahasa Indonesia yang berada di bawah standar nasional mengindikasikan bahwa minat baca (literasi) siswa masih prosedural, sekadar membaca tanpa memahami esensi dan teks analisis yang kompleks.
Ia juga menyoroti soal kompetensi dan distribusi guru yang belum merata. Termasuk minimnya pelatihan peningkatan kompetensi guru, khususnya dalam mengemas materi berat menjadi pembelajaran yang menyenangkan, membuat siswa cenderung menjauhi Matematika dan menganggap remeh Bahasa Indonesia.
Lindawati meminta agar Dinas Pendidikan dan pihak sekolah mengalokasikan waktu khusus untuk penguatan konsep dasar Matematika dan kemampuan analisis bacaan. Selain itu, pemerintah daerah harus memastikan setiap sekolah memiliki akses alat peraga. Program "Gerakan Pekanbaru Membaca" harus dihidupkan kembali di sekolah-sekolah dengan evaluasi berkala, bukan sekadar seremonial.
"Perlu ada upgrading masif bagi para guru kelas dan guru mata pelajaran melalui workshop metode pengajaran mutakhir agar mampu menyajikan materi yang adaptif dengan model soal TKA," tegasnya.
Kolaborasi Total
Lindawati mengingatkan, pembenahan ini mustahil berhasil jika hanya mengandalkan satu instansi.
Dinas Pendidikan sebagai motor utama sebaiknya menyusun peta jalan (roadmap) perbaikan mutu, melakukan supervisi ketat ke sekolah-sekolah, dan mengevaluasi kinerja kepala sekolah berdasarkan capaian akademik siswa. Ia juga mendorong agar kampus-kampus di Riau dilibatkan untuk memberikan pendampingan ilmiah dan riset terapan mengenai metode pengajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik siswa di Riau.
"Tentu juga ini menjadi tanggung jawab orangtua. Bagaimana memastikan lingkungan rumah yang nyaman sebagai tempat belajar. Secara khusus pengawasan orangtua dalam penggunaan gadget terhadap anak serta kesediaan mendampingi anak dalam belajar," kata Lindawati.
Menurutnya, DPRD berkomitmen mengawal dari sisi regulasi dan fungsi penganggaran (budgeting), memastikan alokasi dana pendidikan benar-benar menyentuh aspek peningkatan mutu, bukan hanya pembangunan fisik. (R-03)

