Nilai Rata-rata TKA Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Riau 2026: SD 60,02 - SMP 60,70
Ilustrasi. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia jenjang SD dan SMP. Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan capaian akademik antardaerah, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tampil sebagai provinsi dengan rerata nilai tertinggi secara nasional pada kedua jenjang pendidikan.
Hasil ini menjadi sorotan karena DIY kembali membuktikan konsistensinya sebagai salah satu daerah dengan kualitas pendidikan terbaik di Indonesia. Tradisi akademik yang kuat, dukungan lingkungan belajar, serta budaya literasi yang telah berkembang selama bertahun-tahun dinilai menjadi faktor utama di balik capaian tersebut.
Secara nasional, rerata nilai TKA Bahasa Indonesia jenjang SD berada pada angka 60,14. Sementara untuk jenjang SMP, rerata nasional tercatat sebesar 60,83. Meski demikian, sejumlah provinsi berhasil mencatatkan nilai jauh di atas rata-rata nasional.
Daftar Rerata Nilai TKA Bahasa Indonesia SD-SMP per Provinsi/Wilayah
DKI Jakarta
SD: 71,30
SMP: 71,32
Jawa Barat
SD: 60,22
SMP: 61,26
Jawa Tengah
SD: 65,14
SMP: 65,95
DI Yogyakarta
SD: 75,14
SMP: 73,74
Jawa Timur
SD: 62,74
SMP: 63,46
Aceh
SD: 53,73
SMP: 52,44
Sumatera Utara
SD: 55,72
SMP: 56,30
Sumatera Barat
SD: 63,22
SMP: 63,19
Riau
SD: 60,02
SMP: 60,70
Jambi
SD: 58,30
SMP: 57,19
Sumatera Selatan
SD: 56,50
SMP: 56,72
Lampung
SD: 58,53
SMP: 57,80
Kalimantan Barat
SD: 55,90
SMP: 58,15
Kalimantan Tengah
SD: 59,07
SMP: 59,44
Kalimantan Selatan
SD: 63,94
SMP: 63,03
Kalimantan Timur
SD: 63,71
SMP: 63,88
Sulawesi Utara
SD: 54,40
SMP: 56,12
Sulawesi Tengah
SD: 53,78
SMP: 54,51
Sulawesi Selatan
SD: 56,54
SMP: 56,73
Sulawesi Tenggara
SD: 54,30
SMP: 54,99
Maluku
SD: 50,54
SMP: 52,45
Bali
SD: 64,15
SMP: 66,35
Nusa Tenggara Barat
SD: 54,76
SMP: 54,03
Nusa Tenggara Timur
SD: 49,77
SMP: 52,47
Papua
SD: 51,08
SMP: 52,45
Bengkulu
SD: 59,43
SMP: 69,17
Maluku Utara
SD: 46,41
SMP: 49,16
Kepulauan Bangka Belitung
SD: 64,75
SMP: 69,24
Gorontalo
SD: 53,32
SMP: 54,21
Banten
SD: 58,87
SMP: 58,76
Kepulauan Riau
SD: 66,39
SMP: 66,52
Sulawesi Barat
SD: 50,01
SMP: 52,13
Papua Barat
SD: 50,05
SMP: 52,89
Kalimantan Utara
SD: 62,04
SMP: 61,70
Papua Selatan
SD: 49,44
SMP: 49,12
Papua Tengah
SD: 54,07
SMP: 54,26
Papua Pegunungan
SD: 53,01
SMP: 47,11
Papua Barat Daya
SD: 50,05
SMP: 53,43
Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN)
SD: 56,31
SMP: 61,14
Data tersebut memperlihatkan bahwa provinsi-provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi posisi papan atas. Namun, beberapa daerah di luar Jawa seperti Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Bangka Belitung juga mampu bersaing dengan capaian yang cukup tinggi.
Keberhasilan DIY menempati peringkat pertama pada jenjang SD maupun SMP menunjukkan kuatnya fondasi pendidikan yang dimiliki daerah tersebut. Dengan skor 75,14 pada SD dan 73,74 pada SMP, DIY unggul cukup jauh dibandingkan rerata nasional.
Pengamat pendidikan menilai hasil TKA ini dapat menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah. Daerah yang berhasil mencatatkan nilai tinggi dapat dijadikan contoh praktik baik dalam pengelolaan pendidikan dan penguatan literasi. Sebaliknya, daerah dengan capaian rendah perlu memperkuat strategi pembelajaran, terutama dalam meningkatkan kemampuan membaca, memahami teks, dan berpikir kritis.
Selain menjadi alat ukur kompetensi akademik siswa, hasil TKA juga memberikan gambaran mengenai efektivitas kebijakan pendidikan di masing-masing daerah. Oleh karena itu, data ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan program peningkatan mutu pendidikan yang lebih tepat sasaran.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi menjadi keterampilan yang semakin penting. Siswa tidak hanya dituntut mampu membaca dan memahami teks, tetapi juga harus dapat menganalisis informasi, memilah sumber yang kredibel, serta berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang mereka terima.
Karena itu, keberhasilan sejumlah provinsi dalam mencatatkan nilai tinggi pada TKA Bahasa Indonesia patut diapresiasi. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana seluruh daerah dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan sehingga kesenjangan antardaerah dapat diperkecil dan mutu pendidikan nasional semakin merata. (R-03)

