Rupiah Nyaris Rp17.900 per Dolar AS, Pasar Langsung Gemetar
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Libur Idul Adha belum selesai, tetapi pasar keuangan sudah bikin jantung berdebar sejak tengah malam. Rupiah tiba-tiba meluncur liar di perdagangan luar negeri pada Rabu, 27 Mei 2026. Angkanya nyaris menyentuh Rp17.900 per dolar AS.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat berada di posisi Rp17.892 per dolar AS menjelang pergantian hari. Tak lama kemudian, rupiah ditutup di level Rp17.886 per dolar AS. Pelemahannya memang tipis, tetapi cukup membuat pasar gelisah.
Pagi harinya, rupiah sedikit bernapas lega. Nilainya bergerak ke kisaran Rp17.846 per dolar AS di pasar Non-Deliverable Forward atau NDF. Namun, suasana pasar tetap terasa tegang sejak pembukaan perdagangan Asia.
Biang keroknya datang dari Timur Tengah. Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik damai. Selat Hormuz lagi-lagi berubah menjadi sumber kekhawatiran global.
Pasar makin panik setelah muncul laporan serangan militer baru di Iran. Investor langsung ramai memburu dolar AS sebagai tempat berlindung paling aman. Mata uang Asia akhirnya ikut terseret gelombang tekanan.
Harga minyak mentah WTI bergerak mendekati 90 dolar AS per barel. Brent juga naik ke sekitar 94 dolar AS per barel pada perdagangan pagi di Asia. Kenaikan itu langsung membuat negara pengimpor energi ikut ketar-ketir.
Indonesia termasuk yang paling sensitif ketika harga minyak mulai mendidih. Impor energi masih tinggi, sementara kebutuhan dolar terus naik setiap bulan. Saat dolar menguat, rupiah biasanya ikut limbung.
Pagi itu, mata uang Asia sebenarnya bergerak campur aduk. Yuan offshore sempat menguat tipis sebelum akhirnya melemah lagi. Yen Jepang dan dolar Singapura juga bergerak tanpa arah jelas.
Namun, perhatian pasar justru tertuju pada rupiah. Pergerakannya dianggap paling liar dibandingkan dengan mata uang Asia Tenggara lainnya. Dalam sepuluh tahun terakhir, rupiah bahkan nyaris kehilangan 30 persen nilainya terhadap dolar AS.
Pada akhir 2015, rupiah masih berada di kisaran Rp13.788 per dolar AS. Kini, rupiah bergerak mendekati Rp17.900 per dolar AS. Selisih itu terasa sangat besar bagi dunia usaha dan industri impor.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kondisi ini bukan sekadar efek kepanikan sesaat. Menurut Josua, pasar sedang menguji daya tahan ekonomi Indonesia dari berbagai sisi. Tekanan datang secara bersamaan dari global hingga domestik.
“Rupiah tetap bisa sangat volatil meskipun fundamental ekonomi belum runtuh,” kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, Kamis, 28 Mei 2026. “Pasar sedang menguji konsistensi kebijakan ekonomi Indonesia,” lanjutnya.
Josua melihat negara Asia lain punya bantalan lebih kuat menghadapi badai global. India, misalnya, memang mengalami pelemahan mata uang cukup dalam. Namun, rupee India terlihat lebih tenang dibandingkan rupiah.
India punya cadangan devisa sangat besar hingga mencapai 728,5 miliar dolar AS. Nilai itu setara dengan lebih dari sebelas bulan impor. Kondisi tersebut membuat investor merasa India punya napas lebih panjang.
Malaysia juga menikmati keuntungan saat harga minyak naik. Ringgit memperoleh tenaga tambahan dari ekspor minyak, gas, dan sawit. Ketika energi mahal, Malaysia justru ikut kecipratan untung.
Singapura malah terlihat paling santai menghadapi gejolak global kali ini. Negara itu memiliki sistem keuangan yang kuat dan kepercayaan pasar yang sangat tinggi. Dolar Singapura akhirnya bergerak lebih stabil.
Thailand masih ditopang oleh sektor pariwisata yang menghasilkan banyak devisa. Vietnam mengandalkan ekspor manufaktur serta investasi asing langsung. Filipina bertahan lewat kiriman uang pekerja migran dari luar negeri.
Indonesia berada di posisi serba tanggung. Pasar domestiknya memang besar, komoditasnya juga melimpah. Namun, kebutuhan dolar dan impor energi tetap tinggi.
Cadangan devisa Indonesia sebenarnya masih tergolong aman. Nilainya mencapai 146,2 miliar dolar AS hingga pertengahan 2026. Angka itu setara dengan hampir enam bulan impor.
Masalahnya, pasar melihat ruang aman mulai menipis. Cadangan devisa perlahan terkikis untuk pembayaran utang luar negeri dan stabilisasi rupiah. Intervensi pasar valas juga membutuhkan biaya tidak kecil.
“Bank Indonesia masih punya amunisi untuk menjaga rupiah,” ujar Josua Pardede. “Tetapi pasar juga melihat tekanan terhadap rupiah makin mahal,” lanjutnya.
Bank Indonesia selama ini mengandalkan intervensi valas dan kebijakan suku bunga. Cara itu cukup membantu meredam gejolak jangka pendek. Namun, pasar menunggu langkah lebih besar untuk menjaga pasokan dolar.
Josua menilai Indonesia perlu memperkuat devisa hasil ekspor dan mengurangi ketergantungan impor energi. Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ASEAN juga perlu diperluas. Cara itu dinilai mampu mengurangi tekanan permintaan dolar.
“Sebagian tekanan rupiah muncul dari kebutuhan dolar yang terus berulang,” kata Josua Pardede. “Bukan hanya akibat sentimen pasar global,” sambungnya.
Pasar juga mulai sensitif terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Investor tidak menyukai aturan mendadak terkait ekspor dan devisa. Sedikit ketidakpastian bisa langsung mengguncang rupiah.
Kini, perhatian pasar tertuju pada langkah berikutnya dari Bank Indonesia dan pemerintah. Konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda. Harga minyak juga masih bergerak panas.
Selama dolar AS tetap perkasa, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum selesai. Setiap lonjakan dolar langsung terasa pada harga barang impor dan biaya energi. Ujungnya, masyarakat ikut merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Rupiah akhirnya kembali menjadi cerita paling menegangkan pekan ini. Saat dunia memanas, mata uang Garuda lagi-lagi jadi yang paling mudah terguncang. R-02

