Dolar AS Mengamuk, Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah Indonesia
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News — Rupiah kembali jatuh tersungkur pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Nilai tukar mata uang Indonesia ditutup melemah menuju Rp17.789 per dolar Amerika Serikat setelah pasar global diguncang konflik Timur Tengah. Suasana pasar keuangan mendadak tegang sejak pagi, seperti kota besar kehilangan listrik saat hujan badai datang tiba-tiba.
Layar perdagangan valuta asing siang tadi dipenuhi angka merah menyala tanpa banyak jeda. Rupiah sempat dibuka pada level Rp17.749 per dolar AS sebelum terus melemah sepanjang hari. Menjelang sore, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh posisi Rp17.794 per dolar AS.
Bagi pelaku pasar, angka itu bukan sekadar deretan digit bergerak di layar monitor kantor. Angka tersebut terasa seperti alarm panjang yang menandakan tekanan ekonomi mulai bergerak semakin liar. Banyak investor memilih diam sambil memantau perkembangan perang di kawasan Timur Tengah.
Biang kerok kepanikan pasar datang dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara dekat Selat Hormuz membuat harga minyak dunia langsung melonjak cukup tajam. Ketika minyak naik, negara pengimpor energi seperti Indonesia langsung ikut sempoyongan.
Harga minyak Brent melesat lebih dari tiga persen menuju hampir US$100 per barel sepanjang perdagangan global terbaru. Situasi tersebut membuat investor buru-buru memburu dolar Amerika Serikat sebagai aset aman sementara. Rupiah akhirnya ikut terseret deras bersama mata uang Asia lain menuju jurang pelemahan.
Baht Thailand, ringgit Malaysia, hingga peso Filipina juga ikut melemah sepanjang perdagangan Selasa hari ini. Namun, tekanan terhadap rupiah terasa lebih berat dibandingkan dengan sebagian besar mata uang kawasan Asia lainnya. Empat hari beruntun rupiah terus melemah tanpa banyak ruang bernapas.
Pasar keuangan Indonesia siang tadi terasa seperti terminal sibuk menjelang musim mudik panjang Iduladha pekan ini. Investor asing ramai keluar dari pasar obligasi dan saham sambil membawa dolar menuju aset aman. Arus modal keluar membuat tekanan terhadap rupiah semakin sulit dibendung.
Data pasar menunjukkan investor asing telah melepas obligasi Indonesia senilai lebih dari US$100 juta hingga pekan ini. Kondisi tersebut membuat pemerintah mulai turun tangan membeli obligasi di pasar sekunder setiap hari. Langkah itu dilakukan demi menjaga agar pasar tidak semakin bergejolak.
Namun, tekanan global ternyata bergerak jauh lebih kencang dibandingkan dengan perkiraan banyak pelaku pasar sebelumnya. Kekhawatiran terhadap defisit transaksi berjalan kembali muncul bersamaan dengan naiknya harga minyak dunia. Indonesia sebagai pengimpor energi akhirnya terkena pukulan ganda dalam waktu bersamaan.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, melihat pasar masih menunggu arah konflik Timur Tengah berikutnya. Investor memilih menahan langkah sambil memperhatikan respons Iran terhadap proposal damai Amerika Serikat. “Investor masih wait and see menantikan perkembangan terbaru Iran,” kata Lukman Leong.
Lukman memperkirakan rupiah masih bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS beberapa hari mendatang. Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar sulit mengambil keputusan besar dalam waktu dekat. Situasi tersebut membuat tekanan psikologis terhadap rupiah terus terasa cukup berat.
Di tengah suasana panas pasar global, muncul pula kekhawatiran dari dalam negeri sendiri. Defisit anggaran, arah kebijakan ekonomi, hingga kondisi fiskal mulai ramai dibicarakan investor beberapa pekan terakhir. Pasar seperti sedang mencari pegangan di tengah ombak besar ekonomi global.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai kombinasi faktor global dan domestik memperburuk kondisi rupiah saat ini. Menurut Ibrahim, pasar sedang sensitif terhadap berbagai kebijakan ekonomi baru belakangan ini. “Kebijakan ekonomi kurang pro pasar membuat rupiah terus tertekan,” ujar Ibrahim Assuaibi.
Pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai ekspor satu pintu melalui Danantara juga ikut menjadi sorotan pelaku pasar. Sebagian investor menganggap arah kebijakan tersebut masih memunculkan ketidakpastian terhadap dunia usaha nasional. Efeknya langsung terasa pada sentimen investasi domestik.
Padahal, Bank Indonesia sebelumnya sudah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen demi menjaga rupiah. Langkah agresif tersebut sempat membuat mata uang Indonesia bernapas lega selama beberapa hari. Namun badai global kembali datang lebih cepat dibanding perkiraan pasar.
Rupiah akhirnya kembali terkapar meski bank sentral sudah mengeluarkan jurus suku bunga lebih tinggi. Sejak awal tahun 2026, mata uang Garuda tercatat sudah melemah lebih dari enam persen. Tekanan itu membuat banyak pelaku usaha mulai menghitung ulang biaya impor mereka.
Di sejumlah bank nasional, kurs jual dolar bahkan mulai menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS. HSBC Indonesia menjual dolar pada kisaran Rp18.060 sementara MUFG mematok Rp18.030 per dolar AS. Angka tersebut membuat banyak orang terdiam saat melihat layar aplikasi perbankan.
Bank besar lain juga ikut menaikkan kurs jual dolar sepanjang perdagangan Selasa sore tadi. BCA menjual dolar pada level Rp17.799 sementara BNI memasang harga Rp17.800 per dolar AS. UOB Indonesia bahkan mendekati Rp18.000 sepanjang perdagangan hari ini.
Media sosial pun langsung ramai membicarakan rupiah yang semakin kehilangan tenaga sepanjang pekan ini. Banyak warganet membandingkan kurs dolar hari ini dengan masa-masa krisis ekonomi beberapa dekade silam. Meme, grafik merah, hingga candaan pahit bertebaran sejak siang tadi.
Di balik candaan media sosial, pasar sebenarnya sedang menyimpan kekhawatiran cukup serius terhadap kondisi global. Selat Hormuz kembali menjadi titik panas setelah serangan melibatkan Amerika Serikat dan Iran beberapa waktu terakhir. Jalur sempit tersebut merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia.
Ketika kawasan itu memanas, harga energi global langsung bergerak liar seperti mesin kehilangan kendali mendadak. Negara berkembang termasuk Indonesia menjadi kelompok pertama terkena dampak paling besar akibat kondisi tersebut. Rupiah pun ikut menerima tekanan bertubi-tubi dari luar negeri.
Masalah lain datang setelah MSCI memangkas bobot Indonesia dalam indeks global terbaru mereka pekan ini. Enam saham domestik dihapus sehingga aliran modal asing menuju Indonesia ikut berkurang cukup tajam. Pasar saham dan rupiah akhirnya terkena tekanan bersamaan dalam satu waktu.
Ekonom DBS, Radhika Rao, melihat tekanan rupiah berasal dari kombinasi geopolitik dan arus modal keluar. Menurut Radhika, investor global sedang mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang termasuk Indonesia. Situasi itu membuat rupiah semakin sulit keluar dari tekanan.
Analis pasar keuangan, Ariston Tjendra, menilai lonjakan harga minyak menjadi ancaman serius bagi ekonomi domestik Indonesia. Harga energi tinggi dapat memperbesar subsidi sekaligus menekan daya beli masyarakat dalam negeri. “Harga minyak tinggi membuat tekanan rupiah makin berat,” kata Ariston Tjendra.
Menjelang penutupan perdagangan sore tadi, suasana pasar tetap terlihat muram hampir tanpa perubahan berarti. Rupiah akhirnya resmi mencetak level terlemah baru sepanjang sejarah Indonesia modern. Mata uang Garuda kini berdiri sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS. R-02

