Daging Kurban Cepat Busuk? Begini Cara Simpan Daging Iduladha Agar Tetap Segar dan Empuk
Ilustrasi pembagian daging korban Iduladha. (sumber: antarafoto)
SabangMerauke News - Momen Iduladha 1447 Hijriah selalu membuat dapur rumah berubah seperti markas besar perang rempah keluarga. Aroma sate, gulai, rendang, hingga tongseng mulai memenuhi udara sejak pagi selepas pembagian daging kurban. Namun, di balik kemeriahan itu, banyak warga masih bingung menyimpan daging agar tidak cepat rusak dan tetap empuk saat dimasak.
Persoalan daging kurban kembali menjadi perhatian masyarakat menjelang hari raya Iduladha. Tumpukan daging sapi serta kambing sering membuat kulkas mendadak penuh dalam semalam. Situasi itu kadang berujung pada drama klasik, mulai dari bau prengus hingga tekstur daging berubah keras seperti sandal jemuran.
Melansir Detikfood, Chef Degan Septoadji dan Chef Stefu Santoso mengingatkan pentingnya penanganan daging sejak awal diterima. Banyak warga masih salah langkah saat membersihkan maupun menyimpan daging kurban. Kesalahan kecil sering membuat kualitas daging menurun hanya dalam hitungan hari.
Chef Degan Septoadji menjelaskan bahwa daging sebaiknya dibersihkan menggunakan air mengalir secukupnya sebelum disimpan. Proses itu penting demi menghilangkan sisa darah, serpihan tulang, dan kotoran setelah penyembelihan berlangsung.
Setelah dicuci, daging wajib ditiriskan agar permukaan tidak terlalu lembap saat masuk kulkas. “Daging perlu dibersihkan secukupnya memakai air mengalir sebelum disimpan,” ujar Chef Degan Septoadji.
Langkah sederhana itu ternyata punya pengaruh besar terhadap kualitas daging selama penyimpanan berlangsung. Daging yang terlalu basah mempercepat pertumbuhan bakteri pada suhu dingin kulkas rumah tangga. Situasi tersebut sering membuat aroma daging berubah menjadi kurang sedap hanya dalam dua hari.
Iduladha memang selalu identik dengan cerita kulkas penuh hingga tutupnya susah dirapatkan. Plastik daging bertumpuk seperti antrean penonton konser saat malam minggu datang. Sebagian warga bahkan menyimpan daging bercampur tulang dan jeroan dalam satu kantong besar.
Padahal kondisi tersebut justru mempercepat kerusakan bahan makanan selama penyimpanan berlangsung. Jeroan dikenal lebih cepat rusak dibandingkan dengan daging sapi maupun kambing biasa. Aromanya juga jauh lebih tajam ketika terlalu lama berada dalam suhu ruang terbuka.
Chef Stefu Santoso menyarankan masyarakat memisahkan daging, tulang, serta jeroan sejak awal pembagian kurban selesai. Cara itu membantu menjaga kualitas bahan makanan agar tetap aman lebih lama di dalam freezer rumah.
Selain itu, penyimpanan menjadi lebih praktis ketika daging akan dimasak. “Pisahkan daging dan jeroan agar kualitas penyimpanan tetap terjaga,” kata Chef Stefu Santoso.
Selain pemisahan bahan, ukuran penyimpanan juga menjadi perhatian penting saat Iduladha berlangsung. Daging dianjurkan disimpan dalam porsi kecil sesuai kebutuhan memasak keluarga. Cara itu membantu warga menghindari proses beku-cair berulang yang merusak tekstur daging.
Banyak orang masih memiliki kebiasaan mencairkan seluruh stok daging sekaligus saat memasak. Setelah sebagian dipakai, sisanya kembali dimasukkan ke freezer dalam kondisi setengah cair. Kebiasaan tersebut membuat kualitas daging cepat menurun dan memicu pertumbuhan bakteri lebih cepat.
Pada suhu kulkas biasa sekitar empat derajat Celsius, daging hanya bertahan selama dua hingga tiga hari. Jika disimpan dalam freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius, daya tahan meningkat hingga dua bulan. Karena itu, freezer kini menjadi penyelamat utama bagi banyak keluarga selama musim kurban berlangsung.
Cerita lain muncul saat warga mulai mengeluhkan bau prengus khas daging kambing selepas dibagikan panitia kurban. Aroma tersebut sering membuat sebagian orang kehilangan selera makan sebelum masakan matang sempurna. Padahal bau prengus dapat dikurangi dengan memakai bahan alami sederhana dari dapur rumah.
Chef Degan Septoadji menyebut jahe, nanas, dan pepaya muda cukup efektif membantu mengurangi aroma tajam daging. Pepaya muda mengandung enzim alami bernama papain yang membantu membuat tekstur daging lebih empuk.
Sementara jahe bekerja menyamarkan aroma amis sebelum proses memasak dimulai. “Gunakan jahe atau daun pepaya secukupnya sebelum memasak daging,” ucap Chef Degan Septoadji.
Meski begitu, proses marinasi tidak dianjurkan terlalu lama sebelum memasak berlangsung. Daging yang terlalu lama terkena papain justru berubah terlalu lembek dan kehilangan tekstur alami. Banyak warga sering tidak sadar saat membungkus daging dengan daun pepaya berjam-jam.
Cara mencairkan daging beku juga punya aturan penting demi menjaga kualitas makanan tetap aman. Metode terbaik dilakukan dengan memindahkan daging dari freezer menuju chiller semalaman sebelum dimasak. Teknik itu menjaga tekstur tetap stabil sekaligus membantu proses pencairan berlangsung perlahan.
Jika membutuhkan waktu lebih cepat, daging dapat direndam dalam air dingin dalam kondisi terbungkus rapat. Air panas tidak dianjurkan karena memicu pertumbuhan bakteri lebih cepat pada permukaan daging. Kesalahan kecil saat mencairkan daging sering membuat rasa masakan berubah menjadi kurang nikmat.
Iduladha memang bukan sekadar soal pembagian daging dan suara takbir sepanjang malam. Hari raya ini juga menghadirkan drama kecil dapur keluarga Indonesia setiap tahunnya. Saat sate mulai dibakar dan gulai mengepul perlahan, kualitas daging menjadi penentu kebahagiaan meja makan keluarga.
Warga kini mulai lebih sadar akan pentingnya penyimpanan daging kurban secara benar dan aman. Kulkas bukan lagi sekadar tempat menumpuk plastik merah berisi daging segar dari panitia masjid. Di balik pintu freezer itu, tersimpan perjuangan menjaga hidangan Iduladha tetap lezat hingga hari berikutnya. R-02

