Sopir Truk di Pekanbaru Tewas Dilakban, Dalangnya Ternyata Rekan Sendiri
Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Muharman Arta, menunjukkan barang bukti pembunuhan supir truk box dalam konferensi pers di Pekanbaru, Minggu, 24 Mei 2026. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Truk box itu awalnya cuma terlihat parkir biasa di kawasan Payung Sekaki, Pekanbaru. Namun, suasana mendadak berubah tegang saat warga mencium kejanggalan dari dalam kabin kendaraan ekspedisi tersebut. Sopir bernama Heri Supriadi ternyata ditemukan tak bernyawa dengan tubuh terikat dan kepala penuh lilitan lakban.
Kasus itu langsung bikin geger dunia ekspedisi lintas Sumatera. Heri merupakan sopir asal Jakarta Utara yang sedang membawa muatan dari Medan menuju Lampung. Namun, perjalanan panjang itu justru berakhir tragis di tengah jalan.
Kapolresta Pekanbaru, AKBP Muharman Arta, mengatakan polisi langsung bergerak usai menerima laporan penemuan mayat pada Senin, 5 Mei 2026. Tim gabungan turun melakukan olah tempat kejadian perkara dan memburu petunjuk dari kabin truk.
Polisi juga memeriksa jejak GPS kendaraan yang sejak awal terlihat mencurigakan. “Kami berhasil mengungkap pembunuhan berencana dari penemuan mayat dalam mobil box ekspedisi,” kata Muharman Arta dalam konferensi pers di Pekanbaru, Minggu, 24 Mei 2026.
Saat ditemukan, kondisi korban benar-benar mengenaskan. Tangan dan kaki Heri terikat rapat. Kepala korban juga dilakban penuh hingga membuat banyak warga bergidik melihat proses evakuasi.
Awalnya, polisi menduga korban menjadi sasaran perampokan jalanan. Namun, arah penyelidikan berubah setelah tim menemukan banyak kejanggalan. Perjalanan kendaraan ternyata berhenti cukup lama di wilayah Riau sebelum GPS mendadak mati total.
Perusahaan ekspedisi mulai curiga karena truk tak bergerak menuju Lampung. Sinyal kendaraan hilang begitu saja di tengah perjalanan. Dari situlah laporan masuk ke polisi. “Perusahaan melihat GPS kendaraan tidak bergerak normal lalu melapor,” ujar Muharman.
Polisi lalu menyusun potongan demi potongan cerita dari jejak perjalanan truk. Hasil penyelidikan akhirnya mengarah kepada sosok mengejutkan. Dalang utama pembunuhan ternyata rekan kerja korban sendiri.
Pelaku berinisial FG diketahui bekerja sebagai sopir ekspedisi bersama korban. Polisi menyebut FG sudah merancang aksi tersebut sejak awal perjalanan. Motifnya diduga ingin menguasai isi muatan kendaraan. “Niat awal ingin menggelapkan muatan truk, namun korban menolak,” kata Muharman.
Penolakan itu membuat situasi berubah liar. FG kemudian mengajak tiga rekannya menyusun skenario palsu seolah terjadi aksi perampokan. Namun, rencana itu berubah menjadi pembunuhan sadis di dalam kabin sempit.
Polisi menyebut aksi mulai dirancang sejak Sabtu, 2 Mei 2026. Korban lalu dieksekusi sebelum akhirnya ditemukan meninggal dua hari kemudian. Selama itu pula, kendaraan hanya berputar-puter di wilayah Riau.
Tim gabungan akhirnya bergerak memburu para pelaku. Penangkapan pertama dilakukan terhadap FG di Binjai, Sumatera Utara, Kamis, 21 Mei 2026. Polisi kemudian menangkap ZN di Langkat sehari berikutnya.
Sementara satu pelaku lain berinisial AS diamankan di wilayah Mandau, Riau. Dua pelaku bahkan sempat melawan saat hendak ditangkap. Polisi akhirnya memberi tindakan tegas terukur pada bagian kaki.
Muharman menjelaskan bahwa setiap pelaku memiliki tugas berbeda. FG menjadi otak utama yang menyusun seluruh rencana pembunuhan. ZN dan AN bertugas membantu mengikat serta melakban korban. Sedangkan AS membantu menyiapkan perlengkapan aksi kejahatan.
Polisi menemukan tiga rol lakban dan satu pucuk airsoft gun yang dipakai untuk mendukung rencana tersebut. “AS membantu menyediakan lakban dan air softgun,” ujar Muharman.
Satu pelaku lain berinisial AN masih buron hingga sekarang. Polisi sudah memasukkan nama AN dalam daftar pencarian orang. Aparat terus memburu keberadaan pelaku yang diduga ikut mengeksekusi korban.
Kasus ini membuat banyak sopir lintas Sumatera ikut syok. Dunia ekspedisi memang penuh tekanan target perjalanan dan muatan bernilai besar. Namun, pembunuhan sesadis ini jarang terdengar terjadi antara rekan kerja sendiri.
Beberapa sopir mengaku takut setelah mendengar kabar tersebut. Banyak sopir biasanya tidur, makan, dan berbagi cerita bersama selama perjalanan panjang. Karena itu, kasus ini terasa seperti pengkhianatan di jalanan.
Korban dikenal sebagai sosok pekerja keras dan pendiam. Rekan-rekannya menyebut Heri jarang memiliki masalah selama bekerja sebagai sopir ekspedisi. Ia lebih sering fokus mengejar waktu pengiriman barang.
Suasana di lokasi penemuan mayat juga masih membekas bagi warga sekitar. Mobil box itu sempat parkir cukup lama sebelum akhirnya diperiksa polisi. Saat pintu kabin dibuka, warga langsung dibuat lemas melihat kondisi korban.
Lakban menempel penuh di bagian kepala korban. Tubuhnya terikat rapat tanpa ruang untuk melawan. Situasi itu membuat lokasi kejadian langsung dipenuhi warga penasaran.
Polisi menduga korban sempat berusaha mempertahankan muatan kendaraan. Namun, jumlah pelaku lebih banyak dan mereka sudah menyiapkan rencana matang. Korban akhirnya tak mampu menyelamatkan diri.
Penyidik kini masih mendalami kemungkinan adanya pelaku lain. Polisi juga menelusuri keberadaan isi muatan kendaraan yang diduga ingin digelapkan para tersangka. Pemeriksaan saksi tambahan terus dilakukan. “Penyidikan masih berkembang dan satu pelaku masih diburu,” kata Muharman.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi dunia ekspedisi lintas Sumatera. Jalan panjang bukan cuma soal kejar waktu dan muatan. Kadang bahaya justru datang dari orang yang duduk di satu pekerjaan.
Kini tiga tersangka sudah mendekam di sel tahanan Polresta Pekanbaru. Mereka dijerat Pasal 459 KUHP tentang pembunuhan berencana. Ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup menunggu para pelaku.
Sementara keluarga korban di Jakarta Utara masih menunggu keadilan. Perjalanan Heri mencari nafkah kini berakhir tragis dalam kabin truk sunyi di Pekanbaru. Sebuah perjalanan yang awalnya biasa, lalu berubah menjadi cerita kriminal paling gelap di jalan lintas Sumatera. R-02

