Kapal Tiba di Dumai, Satu ABK Mendadak Raib di Tengah Laut Selat Rupat
Tim Rescue Unit Siaga SAR Dumai menyisir jalur pelayaran mencari ABK kapal pompong di perairan Selat Rupat, Selasa sore, 19 Mei 2026. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Laut Selat Rupat mendadak berubah sunyi ketika satu penumpang kapal tak lagi terlihat saat kapal merapat. Seorang Anak Buah Kapal (ABK) bernama Agustinus Laia dilaporkan hilang pada Selasa, 19 Mei 2026, pagi WIB. Hingga malam hari, korban belum ditemukan meski pencarian besar dilakukan Tim SAR gabungan.
Korban diketahui berasal dari Tuhemberua, Kecamatan Lolomatua, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Agustinus Laia diduga terjatuh dari kapal pompong ketika pelayaran menuju Pelabuhan Pelindo Dumai. Peristiwa itu langsung memicu operasi pencarian pada kawasan Perairan Selat Rupat, Kota Dumai.
Basarnas Pekanbaru menerima laporan kejadian sekitar pukul 11.10 WIB dari anggota Lanal Dumai. Informasi awal diterima setelah kapal tiba di Pelabuhan Pelindo Dumai sekitar pukul 06.00 WIB pagi. Saat pengecekan penumpang dilakukan, korban diketahui sudah tidak berada lagi dalam kapal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru, Budi Cahyadi, menyebut kapal berangkat dini hari dari Pelabuhan Wilmar Pelintung. Kapal pompong tersebut bergerak menuju Pelabuhan Pelindo Dumai dengan membawa sejumlah penumpang dan kru. Namun, perjalanan laut itu berubah panik ketika satu penumpang mendadak hilang tanpa jejak.
“Kapten kapal mengetahui satu orang onboard sudah tidak berada dalam kapal saat tiba di Dumai,” ujar Budi Cahyadi, Selasa malam, 19 Mei 2026. Dugaan awal mengarah pada korban terjatuh ketika kapal melintas kawasan Perairan Selat Rupat dini hari tadi. Lokasi perkiraan korban jatuh berada sekitar enam nautical mile dari Pelabuhan Pelindo Dumai.
Tim Rescue Unit Siaga SAR Dumai langsung bergerak menuju lokasi usai menerima laporan kehilangan tersebut. Sebanyak tiga personel SAR bersama kru RB 218 dikerahkan menggunakan skoci menuju area pencarian korban. Penyisiran laut dilakukan sepanjang jalur pelayaran kapal dari Pelabuhan Pokala menuju titik dugaan jatuh.
Pencarian dilakukan cukup intensif sejak siang dengan metode penyisiran pada area laut sekitar lokasi kejadian. Luas area pencarian hari pertama mencapai sekitar 6,88 nautical mile persegi wilayah Selat Rupat. Tim SAR gabungan juga memantau kemungkinan korban terbawa arus laut sekitar lokasi kejadian.
“Pencarian dilakukan dengan menyisir jalur pelayaran dan area sekitar titik dugaan korban jatuh,” kata Budi Cahyadi. Operasi melibatkan personel gabungan dengan fokus utama pada kawasan perairan sekitar jalur kapal pompong. Tim terus memaksimalkan pencarian hingga sore sebelum kondisi mulai gelap.
Cuaca selama operasi pencarian dilaporkan cukup mendukung meski angin laut masih terasa cukup kencang. Langit kawasan Selat Rupat tampak cerah berawan sepanjang siang hingga menjelang petang hari. Gelombang laut berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter pada area pencarian korban.
Meski kondisi laut relatif tenang, pencarian belum membuahkan hasil hingga matahari mulai turun sore tadi. Tim SAR gabungan akhirnya menghentikan operasi sementara sekitar pukul 18.00 WIB karena keterbatasan jarak pandang. Operasi pencarian dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Rabu, 20 Mei 2026, pagi WIB.
Suasana pelabuhan juga terasa lebih muram setelah kabar hilangnya Agustinus Laia menyebar di antara sejumlah kru kapal. Beberapa keluarga dan rekan korban terlihat menunggu informasi terbaru dari petugas pencarian sepanjang malam. Laut Dumai sore tadi terasa lebih dingin dibanding biasanya meski cuaca cukup bersahabat.
Budi Cahyadi meminta masyarakat tetap berhati-hati ketika ikut membantu proses pencarian kawasan perairan Dumai. Keselamatan relawan dan keluarga korban tetap menjadi perhatian utama selama operasi pencarian dilakukan. Tim SAR juga mengimbau warga segera melapor jika menemukan tanda keberadaan korban.
“Keselamatan personel dan masyarakat tetap menjadi prioritas selama operasi pencarian berlangsung,” ujar Budi Cahyadi. Tim SAR berharap kondisi cuaca tetap mendukung agar pencarian hari kedua berjalan lebih maksimal besok pagi. Hingga Selasa malam, korban masih dinyatakan hilang pada kawasan Perairan Selat Rupat Dumai.
Laut memang sering terlihat tenang dari kejauhan, tetapi menyimpan cerita tak terduga setiap harinya. Selat Rupat malam tadi berubah menjadi ruang penuh harapan bagi keluarga korban menunggu kabar baik. Sementara lampu kapal masih menari jauh di tengah laut, pencarian Agustinus Laia belum benar-benar selesai. R-02

