PSG Dipermalukan Paris FC, Luis Enrique Mendadak Panik Jelang Final Liga Champions
Pemain Paris FC, Alimany Gory, melakukan selebrasi setelah membobol gawang Paris Saint-Germain pada Senin dini hari WIB, 18 Mei 2026. (sumber: onefootball)
PRANCIS, SabangMerauke News - Paris Saint-Germain menutup musim Ligue 1 dengan luka pahit setelah kalah 1-2 dari Paris FC, Senin, 18 Mei 2026 dini hari WIB. Derby ibu kota Prancis di Stade Jean Bouin berubah menjadi malam penuh kejutan bagi skuad juara racikan Luis Enrique. PSG sempat unggul lebih dulu sebelum dihantam comeback dramatis pada menit-menit akhir pertandingan.
Kekalahan tersebut memang tidak mengubah posisi PSG sebagai juara Ligue 1 musim 2025/2026. Les Parisiens tetap finis dengan koleksi 76 poin usai memastikan gelar beberapa pekan sebelumnya. Namun, hasil itu memunculkan kegelisahan baru menjelang final Liga Champions melawan Arsenal.
Paris FC tampil tanpa tekanan menghadapi rival sekota mereka pada laga penutup musim kompetisi. Tuan rumah justru terlihat lebih lapar sejak menit awal pertandingan dimulai di Stade Jean Bouin. PSG menguasai bola, tetapi Paris FC tampil lebih tajam saat menyerang.
Statistik pertandingan memperlihatkan dominasi penguasaan bola milik PSG sepanjang laga berjalan malam itu. Les Parisiens mencatat penguasaan bola mencapai hampir 63 persen selama pertandingan berlangsung. Namun, dominasi tersebut terasa kosong tanpa ancaman berbahaya menuju gawang lawan.
Paris FC justru menciptakan peluang lebih banyak dibanding tim tamu sepanjang pertandingan berjalan. Tuan rumah melepaskan 17 tembakan dengan sembilan percobaan mengarah tepat menuju gawang PSG. Sebaliknya, PSG hanya menghasilkan dua tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan.
“Kami kurang tajam saat memasuki area akhir serangan,” ujar Luis Enrique selepas pertandingan. Pelatih PSG tersebut mengaku timnya terlalu lambat membaca ritme permainan Paris FC malam itu. Ia juga menyebut transisi bertahan PSG terlihat buruk menjelang akhir pertandingan.
Paris FC langsung menekan sejak awal laga tanpa rasa takut menghadapi sang juara Ligue 1. Moses Simon dan Willem Guebbels berkali-kali mengganggu pertahanan PSG melalui serangan cepat dari sisi lapangan. Kiper PSG, Matvey Safonov, dipaksa bekerja keras sepanjang babak pertama.
Safonov tampil gemilang menjaga PSG tetap aman dari kebobolan selama babak pertama pertandingan berjalan. Kiper asal Rusia tersebut melakukan tujuh penyelamatan penting sepanjang laga menghadapi Paris FC. Tanpa aksinya, PSG mungkin sudah tertinggal lebih cepat sebelum jeda pertandingan.
PSG sempat kesulitan membangun serangan meski mendominasi aliran bola di lini tengah permainan. Fabian Ruiz dan Vitinha terlihat aktif mengatur ritme sambil mencari ruang menuju kotak penalti lawan. Namun, Paris FC bertahan rapat sambil menunggu kesempatan menyerang balik.
“Kami tahu PSG bakal menguasai bola sepanjang pertandingan,” kata Antoine Kombouare seusai laga. Pelatih Paris FC tersebut mengaku sengaja membiarkan PSG memainkan ritme lambat di lini tengah. Paris FC memilih menyerang cepat ketika ruang kosong terbuka.
Babak pertama berakhir tanpa gol meski kedua tim sama-sama menciptakan peluang berbahaya sepanjang laga. PSG terlihat frustrasi menghadapi pertahanan disiplin Paris FC di depan pendukung sendiri. Stade Jean Bouin terus bergemuruh menyaksikan duel panas dua klub ibu kota.
Memasuki babak kedua, PSG akhirnya berhasil memecahkan kebuntuan pada menit ke-50 pertandingan berjalan. Fabian Ruiz mengirim umpan matang menuju Bradley Barcola di sisi kanan kotak penalti lawan. Penyerang muda Prancis tersebut langsung melepaskan sepakan terukur menuju pojok gawang.
Gol itu sempat membuat PSG terlihat nyaman mengontrol arah pertandingan pada babak kedua malam itu. Les Parisiens memainkan bola lebih santai sambil menunggu Paris FC membuka ruang pertahanan mereka. Namun, ketenangan tersebut justru berubah menjadi jebakan mematikan bagi PSG.
Paris FC perlahan meningkatkan intensitas serangan setelah tertinggal satu gol dari PSG malam itu. Antoine Kombouare melakukan pergantian pemain agresif demi mengubah ritme pertandingan menjadi lebih cepat. Masuknya Alimany Gory dan Luca Koleosho langsung memberi dampak besar.
Perubahan tersebut membuat pertahanan PSG mulai terlihat goyah menghadapi tekanan cepat Paris FC. Tuan rumah lebih efektif memanfaatkan ruang kosong di belakang lini pertahanan Les Parisiens. PSG terlihat kesulitan menghentikan serangan balik cepat lawan.
Gol penyama kedudukan akhirnya lahir pada menit ke-76 pertandingan berjalan di Stade Jean Bouin. Sepakan Pierre Lees-Melou membentur kaki Alimany Gory sebelum mengecoh Safonov di bawah mistar gawang. Stadion langsung meledak menyambut gol penyama kedudukan tersebut.
“Para pemain menunjukkan keberanian luar biasa menghadapi PSG malam ini,” ujar Antoine Kombouare selepas laga. Pelatih Paris FC tersebut memuji keberanian anak asuhnya melawan sang juara Ligue 1 musim ini. Kombouare menyebut timnya pantas menang setelah tampil disiplin sepanjang pertandingan.
Gol tersebut membuat PSG mulai kehilangan ketenangan menjelang akhir pertandingan berjalan malam itu. Luis Enrique mencoba merespons lewat pergantian pemain demi mengembalikan kontrol permainan timnya. Namun, Paris FC terus menyerang melalui transisi cepat menuju pertahanan PSG.
Drama terbesar akhirnya hadir pada masa injury time babak kedua pertandingan berlangsung. Paris FC melancarkan serangan balik cepat ketika sebagian besar pemain PSG berada di area lawan. Luca Koleosho membawa bola dari sisi kiri sambil melihat ruang kosong di depan gawang.
Koleosho kemudian mengirim umpan silang matang menuju arah Alimany Gory pada menit ke-94 pertandingan. Penyerang Paris FC tersebut tanpa kesulitan menceploskan bola ke gawang kosong PSG dari jarak dekat. Stade Jean Bouin langsung berubah menjadi lautan selebrasi penuh kegilaan.
Gol telat itu memastikan Paris FC menang 2-1 atas rival sekota mereka pada derby penutup musim. Para pemain PSG tampak terpaku melihat kemenangan lepas dari tangan menjelang peluit akhir pertandingan. Luis Enrique terlihat kecewa sambil berdiri diam di pinggir lapangan.
“Kemenangan ini terasa seperti mimpi bagi seluruh pendukung kami,” kata Alimany Gory seusai pertandingan. Penyerang Paris FC tersebut mengaku tidak menyangka mampu mencetak dua gol penting melawan PSG. Ia menyebut atmosfer stadion memberi energi besar sepanjang laga berjalan.
Di balik kekalahan tersebut, PSG mendapat masalah tambahan terkait kondisi kebugaran Ousmane Dembele malam itu. Penyerang timnas Prancis tersebut ditarik keluar lapangan sebelum babak pertama pertandingan selesai. Dembele terlihat memegangi bagian kaki sambil berjalan menuju ruang ganti.
Situasi itu langsung memunculkan kekhawatiran besar di kubu PSG menjelang final Liga Champions nanti. Dembele menjadi salah satu pemain paling penting dalam perjalanan PSG musim ini di Eropa. Cedera sang penyerang tentu bisa mengganggu persiapan menghadapi Arsenal pada final mendatang.
Laporan awal dari tim medis PSG memberi sedikit harapan bagi para pendukung Les Parisiens. Cedera Dembele disebut tidak terlalu serius meski pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan dalam beberapa hari. PSG berharap sang pemain mampu pulih sebelum final Liga Champions dimainkan.
“Dembele merasakan sedikit gangguan otot,” ujar Luis Enrique seusai pertandingan di Stade Jean Bouin. Pelatih PSG tersebut mengaku masih menunggu hasil pemeriksaan medis lebih lengkap dari tim dokter. Ia berharap kondisi sang penyerang tidak memburuk menjelang final Eropa.
Kekalahan dari Paris FC terasa seperti alarm keras bagi PSG sebelum laga terbesar musim ini dimulai. Dominasi penguasaan bola ternyata belum cukup membawa kemenangan bagi Les Parisiens malam itu. PSG terlihat tumpul ketika memasuki area akhir pertahanan lawan.
Paris FC justru memberi pelajaran penting mengenai efektivitas dan keberanian menghadapi tim besar Eropa. Klub ibu kota tersebut tampil lebih efisien memanfaatkan peluang sepanjang pertandingan berlangsung malam tadi. Mereka menutup musim dengan kemenangan paling bersejarah di Derby Paris.
Sementara PSG harus segera melupakan kekalahan pahit tersebut demi menyelamatkan ambisi besar musim ini. Final Liga Champions melawan Arsenal tinggal menghitung hari menuju pertandingan penentuan di Eropa. Luis Enrique memiliki pekerjaan besar memperbaiki mental sekaligus ketajaman lini depan timnya. R-02

