IHSG Hancur di Level 6.723, Saham LQ45 Ini Justru Bikin Trader Senyum Lebar
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Pasar saham Indonesia mendadak seperti kapal bocor diterjang badai asing besar, Rabu, 13 Mei 2026. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup ambruk 1,98 persen menuju level 6.723,32 sesudah pengumuman rebalancing MSCI mengguncang Bursa Efek Indonesia sejak perdagangan pagi. Investor ramai melepas saham unggulan, sementara segelintir emiten justru melesat seperti roket di tengah kepanikan pasar domestik.
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung tergelincir tajam tanpa ampun menuju area merah gelap sepanjang sesi. Level tertinggi perdagangan hanya menyentuh 6.787 sebelum longsor menuju titik terendah harian di posisi 6.705. Tekanan jual terus berdatangan saat sentimen global, inflasi Amerika Serikat, dan keluarnya emiten Indonesia dari indeks MSCI bersatu menghantam pasar.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp19,79 triliun sepanjang perdagangan. Volume perdagangan tercatat menyentuh 38,94 miliar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 2,29 juta kali perdagangan. Situasi itu menggambarkan pasar bergerak panas sejak pagi sampai bel penutupan perdagangan berbunyi menjelang petang.
Sebanyak 416 saham melemah pada perdagangan kali ini dan hanya 239 saham berhasil mencatatkan penguatan harian. Sementara 163 saham bergerak stagnan tanpa perubahan berarti di tengah derasnya aksi jual investor domestik maupun asing. Mayoritas sektor juga terseret ke jurang merah, dengan tekanan terbesar yang datang dari saham bahan baku dan infrastruktur.
Sektor bahan baku tercatat menjadi korban terdalam sesudah longsor hingga minus 4,43 persen sepanjang perdagangan Rabu sore. Sektor infrastruktur ikut terpukul 2,72 persen, sementara saham energi melemah 1,61 persen, mengikuti tekanan pasar regional Asia. Sektor teknologi, properti, kesehatan, keuangan, hingga konsumsi juga gagal keluar dari tekanan jual sepanjang sesi.
Meski pasar seperti kebakaran besar, beberapa saham justru tampil mencolok dan berhasil mencuri perhatian investor domestik. Saham Charoen Pokphand Indonesia atau CPIN melesat 4,52 persen menuju level Rp4.160 per saham pada penutupan perdagangan. Kenaikan tersebut membuat CPIN menjadi salah satu bintang paling terang di antara saham LQ45 lainnya.
Saham Japfa Comfeed Indonesia atau JPFA ikut melambung 4,11 persen menuju harga Rp2.540 per lembar saham perdagangan. Darma Henwa atau DEWA naik 2,11 persen menuju level Rp484 per saham sepanjang perdagangan sesi kedua Rabu. Pertamina Geothermal Energy atau PGEO juga menguat 1,98 persen saat pasar domestik sedang penuh tekanan.
Bumi Resources atau BUMI turut bergerak hijau dengan kenaikan tipis 0,94 persen menuju level Rp214 per saham. Saham Indosat atau ISAT naik 0,85 persen menuju posisi Rp2.370 saat investor memburu emiten telekomunikasi defensif. Telkom Indonesia atau TLKM ikut menghijau tipis menjadi Rp2.960 per saham pada penutupan perdagangan sore.
Kepala Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai tekanan pasar dipicu pengumuman review kuartalan MSCI Mei 2026. Sejumlah saham Indonesia keluar dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index pekan ini. “Keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI menjadi sentimen negatif pendorong pelemahan indeks,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya, Rabu, 13 Mei 2026.
Ratna Lim menjelaskan tekanan pasar sebenarnya tidak separah perkiraan awal banyak pelaku investasi domestik selama beberapa pekan. Arus dana asing keluar diperkirakan masih berada dalam batas terkendali meski tekanan jual cukup deras sejak pagi. Investor juga tetap memandang Indonesia menarik sebagai bagian penting dari pasar emerging market di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Ratna Lim, sebagian investor bahkan sudah mengantisipasi rebalancing MSCI jauh sebelum pengumuman resmi dikeluarkan pekan ini. Kondisi tersebut membuat tekanan jual tidak berubah menjadi kepanikan ekstrem seperti pada masa krisis pasar sebelumnya. Sentimen negatif tetap terasa, namun kekuatan beli domestik masih terlihat menahan tekanan lebih dalam.
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK ikut turun tangan menenangkan suasana pasar sesudah IHSG tergelincir cukup brutal sepanjang hari. OJK menegaskan bahwa tidak seluruh saham keluar dari indeks MSCI akibat pelemahan fundamental maupun penurunan kapitalisasi pasar. Beberapa emiten justru mengalami kenaikan kapitalisasi sehingga layak masuk kelompok indeks yang lebih tinggi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyebut valuasi saham Indonesia kini jauh lebih menarik secara regional. Price to Earnings Ratio atau PER IHSG berada pada kisaran 16 kali sepanjang perdagangan Mei 2026. Angka tersebut lebih murah dibandingkan dengan rata-rata bursa saham kawasan Asia yang masih bergerak lebih tinggi.
“Secara regional, valuasi saham Indonesia sudah berada di bawah rata-rata bursa lain,” kata Hasan Fawzi di Jakarta. Hasan Fawzi berharap investor selektif memanfaatkan momentum koreksi untuk memburu saham berkualitas dengan harga murah. Situasi pasar saat ini dinilai membuka peluang menarik bagi investor jangka panjang domestik maupun asing.
Hasan Fawzi juga menilai kondisi perdagangan pasar modal Indonesia masih tergolong sehat dan relatif terkendali sampai penutupan. Tidak ada saham terkena auto rejection bawah atau ARB meski tekanan jual berlangsung cukup deras sepanjang perdagangan. Frekuensi transaksi, volume perdagangan, serta nilai transaksi juga masih terlihat stabil dibandingkan dengan hari perdagangan sebelumnya.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai tekanan IHSG datang dari kombinasi faktor global dan domestik sekaligus. Inflasi Amerika Serikat masih tinggi sehingga memunculkan ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan agresif lebih lama. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran juga ikut menambah kecemasan pelaku pasar Asia.
“Rilis rebalancing MSCI berpotensi memicu downweighting dan foreign outflow dari pasar Indonesia,” ujar Herditya Wicaksana, Rabu. Menurut Herditya, tekanan jual masih mendominasi perdagangan sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa global dan regional Asia hari ini. Kondisi tersebut membuat IHSG sulit keluar dari tekanan meski sempat mencoba rebound singkat menjelang penutupan.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji level 6.700 hingga 6.650 pekan depan nanti. Histogram negatif pada indikator MACD masih melebar, sementara Stochastic RSI bergerak menuju area oversold perdagangan harian. Kondisi teknikal tersebut menandakan tekanan jual masih cukup kuat membayangi pasar modal Indonesia beberapa hari mendatang.
MNC Sekuritas juga memprediksi IHSG rawan terkoreksi menuju area 6.644 sampai 6.711 dalam perdagangan selanjutnya nanti. Area gap pada level 6.538 hingga 6.585 diminta menjadi perhatian serius pelaku pasar jangka pendek domestik. MNC Sekuritas merekomendasikan saham DEWA, INDY, RATU, dan WIFI untuk strategi trading pekan depan.
Sementara itu, saham-saham top losers menjadi tontonan pahit bagi investor sepanjang perdagangan Rabu sore kali ini. Saham TPIA ambruk 14,85 persen, sementara SHIP jatuh 14,84 persen menuju area merah perdagangan harian. Saham SGRO, NZIA, YOII, BREN, hingga DSSA juga ikut terjun bebas sepanjang perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Di tengah tekanan tersebut, saham-saham kecil justru tampil liar dan mengundang perhatian trader harian domestik sepanjang sesi. Saham KOPI melonjak 24,56 persen, disusul ELPI naik 22,70 persen serta KONI terbang 18,12 persen. FIRE dan NEST juga ikut melesat saat mayoritas saham unggulan sedang berguguran di papan perdagangan.
Perdagangan Bursa Efek Indonesia sempat terasa seperti arena adu nyali menjelang libur nasional pertengahan pekan bulan Mei. Investor memilih mengurangi risiko sambil menunggu kepastian arus dana asing pascarebalancing MSCI efektif akhir bulan nanti. Tekanan global, suku bunga tinggi, dan ketegangan geopolitik masih menjadi bayangan gelap pasar domestik. R-02

