Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Ancaman Rp17.600 Bikin Pasar Keuangan Gemetar
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah kembali bikin pasar keuangan nasional berdenyut keras sejak perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Mata uang Garuda bergerak liar dekat level Rp17.500 per dolar AS saat tekanan global makin brutal beberapa hari terakhir. Investor asing mulai menjaga jarak setelah rebalancing MSCI serta lonjakan harga minyak mengguncang sentimen perdagangan regional.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat menguat tipis menuju level Rp17.515 per dolar AS pada perdagangan pagi. Penguatan tersebut hanya naik sekitar 13 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.529 per dolar AS. Namun, suasana pasar tetap panas karena tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini.
Yahoo Finance mencatat rupiah sempat bergerak menuju level Rp17.509 per dolar AS selama sesi pembukaan berlangsung. Posisi tersebut masih lebih lemah dibandingkan dengan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya saat rupiah menyentuh Rp17.410 per dolar AS. Pelaku pasar terlihat mulai berhitung ulang setelah dolar AS kembali menunjukkan taringnya pekan ini.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih sangat rapuh akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.520 sampai Rp17.580 per dolar AS sepanjang perdagangan berlangsung. “Pergerakan rupiah masih belum stabil karena tekanan eksternal serta domestik masih cukup besar,” ujar Ibrahim Assuaibi, Rabu, 13 Mei 2026.
Ketegangan Timur Tengah kembali menjadi bahan bakar tekanan pasar keuangan dunia sejak beberapa hari terakhir perdagangan berlangsung. Negosiasi Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik damai setelah tuntutan kedua negara saling berbenturan keras. Situasi tersebut langsung mendorong investor global untuk memburu aset aman seperti dolar AS serta emas dunia.
Harga minyak mentah dunia kini melonjak menuju level 107 dolar AS per barel akibat konflik kawasan Timur Tengah. Lonjakan harga minyak membuat pasar mulai mengkhawatirkan kondisi fiskal Indonesia beberapa bulan mendatang. Indonesia masih bergantung pada impor energi, sehingga tekanan minyak mentah langsung menghantam rupiah cukup keras.
Pasar juga mulai cemas melihat potensi membengkaknya subsidi energi saat harga minyak dunia terus menanjak tajam. Ruang fiskal nasional terlihat semakin sempit setelah penerimaan negara belum cukup menopang ekspansi belanja besar pemerintah. Situasi tersebut membuat investor mulai menahan langkah sambil mengamati arah kebijakan ekonomi nasional beberapa pekan depan.
Ibrahim Assuaibi menyoroti langkah Amerika Serikat dalam menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah perusahaan terkait pengiriman minyak Iran. Langkah tersebut memperkeruh hubungan geopolitik global menjelang pertemuan Donald Trump bersama Presiden China Xi Jinping pekan ini. “Sentimen geopolitik masih menjadi faktor utama tekanan mata uang kawasan, termasuk rupiah,” kata Ibrahim Assuaibi.
Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang setelah sektor manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir. Perlambatan permintaan pasca libur panjang serta gangguan rantai pasok global mulai memukul aktivitas industri nasional sejak April 2026. Kondisi tersebut membuat optimisme pelaku pasar terhadap ekonomi domestik perlahan mulai menurun.
Pelaku pasar juga dibuat gelisah setelah pengumuman rebalancing MSCI Mei 2026 memukul sentimen perdagangan regional Indonesia. Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi 0,57 persen dari sebelumnya 0,68 persen. Penurunan bobot tersebut membuka peluang keluarnya modal asing dari pasar saham serta obligasi nasional.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai hasil rebalancing MSCI lebih buruk dibanding ekspektasi pelaku pasar sebelumnya. Banyak emiten besar Indonesia justru terlempar keluar dari indeks global sehingga memicu kekhawatiran arus keluar dana asing. “Jumlah emiten yang keluar dari MSCI jauh lebih besar dibandingkan dengan perkiraan awal pasar,” ujar Lukman Leong.
Tekanan terhadap rupiah semakin terasa ketika investor global mulai menghindari pasar negara berkembang belakangan ini. Dolar AS terus menguat setelah data inflasi Amerika Serikat naik lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi pasar internasional. Inflasi tinggi membuat pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama.
Data inflasi Amerika Serikat tercatat naik 3,8 persen sepanjang April 2026 dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi laju inflasi tahunan tertinggi sejak Mei 2023 akibat lonjakan harga energi global. Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi AS naik dan memperkuat posisi dolar terhadap banyak mata uang dunia.
Kepala strategi valuta asing National Australia Bank, Ray Attrill, melihat dolar AS masih diuntungkan oleh situasi pasar global. Menurut Ray, investor sedang bergerak menuju aset aman akibat sentimen risiko yang kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. “Dolar AS masih mengikuti arah sentimen risiko global secara sangat dekat,” ujar Ray Attrill.
Rupiah bahkan sempat menembus level Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026 kemarin. Level tersebut menjadi salah satu posisi intraday terlemah sepanjang sejarah perdagangan mata uang nasional beberapa tahun terakhir. Pelemahan tajam rupiah langsung menarik perhatian DPR serta otoritas ekonomi nasional.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, meminta pemerintah segera mengantisipasi gejolak nilai tukar agar ekonomi nasional tetap aman. DPR mulai memanggil Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan guna membahas tekanan rupiah terhadap stabilitas ekonomi nasional. “Situasi ini jangan sampai membuat Indonesia terpuruk sampai beberapa tahun mendatang,” ujar Puan Maharani.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan pemerintah mulai menyiapkan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah. Pemerintah berencana masuk ke pasar obligasi memakai Bond Stabilization Fund demi menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Langkah tersebut diharapkan mampu menahan tekanan yield obligasi sekaligus meredam kepanikan investor asing.
“Kita coba membantu nilai tukar dan membantu Bank Indonesia lewat pasar obligasi,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Selasa, 12 Mei 2026. Purbaya mengaku pemerintah masih memiliki cadangan dana cukup besar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. Pemerintah juga berupaya menenangkan investor asing agar tidak buru-buru keluar dari pasar Indonesia.
Purbaya menegaskan posisi APBN nasional masih cukup aman meski rupiah sudah melampaui asumsi anggaran pemerintah tahun ini. Asumsi APBN 2026 sebelumnya menempatkan rupiah dalam kisaran Rp16.500 sampai Rp16.900 per dolar AS. Kini, tekanan global membuat rupiah bergerak jauh meninggalkan rentang asumsi awal tersebut.
Sementara itu mata uang Asia lain bergerak bervariasi sepanjang perdagangan Rabu pagi, 13 Mei 2026 berlangsung. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun sekitar 0,26 persen terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia justru menguat sekitar 0,13 persen selama sesi perdagangan pagi berlangsung.
Pasar saham nasional juga ikut terseret oleh tekanan besar akibat sentimen global serta rebalancing MSCI pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan dibuka ambruk lebih dari satu persen menuju level 6.763 pada perdagangan pagi. Investor asing terlihat mulai melakukan aksi jual besar pada sejumlah saham berkapitalisasi jumbo nasional.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar keuangan bergerak sangat hati-hati sepanjang perdagangan pertengahan pekan yang berlangsung hari ini. Rupiah diperkirakan masih berfluktuasi tajam selama tekanan geopolitik serta harga minyak dunia belum mereda sepenuhnya. Investor kini menunggu langkah lanjutan pemerintah serta Bank Indonesia menjaga stabilitas ekonomi nasional beberapa hari mendatang. R-02

