Investor Panik! IHSG Dibuka Longsor, Saham Big Caps RI Dibuang MSCI Sekaligus
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG langsung lunglai saat perdagangan dibuka Rabu pagi, 13 Mei 2026. Bursa Efek Indonesia mendadak memerah setelah pengumuman rebalancing MSCI mengguncang emiten-emiten besar Indonesia. Rupiah ikut tertekan mendekati level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat sehingga pasar makin gelisah.
Pada pukul 09.10 WIB, IHSG kehilangan 94,95 poin menuju level 6.763 dari posisi sebelumnya. Data Bursa Efek Indonesia mencatat volume perdagangan menembus 9,68 miliar saham hanya beberapa menit perdagangan berlangsung. Nilai transaksi juga langsung menyentuh Rp2,65 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 216.884 transaksi sangat cepat.
Sebanyak 161 saham bergerak naik pada awal perdagangan saat 321 saham justru terjun melemah tajam. Sementara 205 saham lain bergerak datar sambil menunggu arah sentimen pasar sepanjang perdagangan hari tersebut. Tekanan jual terlihat dominan sejak bel pembukaan, membuat mayoritas sektor saham bergerak masuk zona merah pekat.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipicu oleh tekanan rupiah dan pengumuman rebalancing MSCI Mei 2026. Riset tersebut menyebut pasar sedang menghadapi tekanan berat akibat keluarnya sejumlah saham besar dari indeks global. “IHSG diproyeksikan bergerak terbatas, cenderung melemah,” tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
BRI Danareksa memperkirakan level resistance IHSG berada pada kisaran 6.960 hingga 7.000 selama perdagangan berlangsung. Sedangkan level support terdekat diperkirakan berada pada area 6.760 hingga 6.780 selama tekanan jual bertahan. Sekuritas tersebut menjagokan saham ARCI, INCO, dan SSIA sebagai pilihan menarik untuk perdagangan jangka pendek hari ini.
Phintraco Sekuritas juga menyoroti efek pengumuman rebalancing indeks MSCI terhadap tekanan pasar domestik sepanjang perdagangan. Menurut Phintraco, jumlah saham Indonesia yang keluar dari indeks MSCI ternyata jauh melebihi perkiraan pelaku pasar sebelumnya. Kondisi tersebut diperkirakan memicu sentimen negatif jangka pendek serta memperbesar tekanan aksi jual investor asing.
Dalam MSCI Global Standard Indexes, tidak ada saham Indonesia baru yang berhasil masuk kategori utama pada evaluasi terbaru. Sebaliknya, enam saham besar Indonesia justru resmi tersingkir dari indeks global paling diperhatikan oleh investor internasional tersebut. Saham AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT menjadi korban utama rebalancing MSCI Mei 2026.
MSCI juga merombak daftar MSCI Small Cap Indexes dengan perubahan besar terhadap saham-saham Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Saham AMRT dipindahkan ke kategori Small Cap setelah sebelumnya berada dalam kategori Global Standard Indexes. Sedangkan saham ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG resmi dihapus.
Phintraco Sekuritas menilai tekanan rupiah menjadi faktor tambahan yang memperburuk kondisi pasar saham domestik sepanjang pekan berjalan. “Pelemahan rupiah serta antisipasi penurunan bobot MSCI menjadi faktor negatif utama,” tulis Phintraco dalam riset hariannya. Saham ADRO, ISAT, CDIA, BRPT, dan BBNI direkomendasikan menjadi pilihan perdagangan selama volatilitas tinggi berlangsung.
CGS International Sekuritas Indonesia juga memprediksi IHSG bergerak fluktuatif, namun tetap cenderung melemah sepanjang perdagangan hari tersebut. Tekanan datang dari pelemahan bursa Wall Street serta aksi jual investor asing beberapa hari terakhir. Sentimen geopolitik global juga mulai membebani psikologis pasar kawasan Asia, termasuk Indonesia, sejak awal perdagangan.
Meski begitu, CGS melihat peluang penguatan yang muncul dari naiknya harga komoditas energi dunia belakangan ini. Rotasi menuju saham fundamental kuat diperkirakan masih terjadi ketika investor mulai mencari instrumen lebih aman. “IHSG diprediksi bergerak bervariasi, cenderung melemah,” tulis CGS International.
CGS menjagokan saham EXCL, BBRI, BBNI, UNVR, ELSA, dan MEDC sebagai pilihan perdagangan menarik hari tersebut. Sementara Panin Sekuritas memperkirakan IHSG melanjutkan tren pelemahan akibat tekanan inflasi Amerika Serikat yang meningkat. Data inflasi tersebut memunculkan kekhawatiran bank sentral Amerika akan mengambil kebijakan moneter lebih agresif ke depan.
Panin Sekuritas juga menyoroti pelemahan rupiah menuju level Rp17.529 per dolar Amerika Serikat yang sangat mengkhawatirkan pasar. Arus dana asing keluar dari pasar saham domestik juga masih terus berlangsung sepanjang beberapa pekan terakhir. “IHSG kemungkinan melanjutkan pelemahan menuju support berikutnya,” tulis Panin Sekuritas dalam laporan perdagangan terbarunya.
Di tengah tekanan besar pasar saham Indonesia, beberapa saham justru melonjak tajam pada awal perdagangan pagi tersebut. Saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk atau ELPI langsung menyentuh auto rejection atas mencapai 24,54 persen. Harga saham ELPI melesat menuju Rp2.030 saat mayoritas saham lain sedang tersungkur dalam tekanan jual.
Selain ELPI, saham PT Mitra Energi Persada Tbk atau KOPI melonjak hingga 23,68 persen pada pagi tersebut. Saham PT Saraswanti Indoland Development Tbk atau SWID juga melesat lebih dari 21 persen, sangat agresif. Kenaikan saham-saham tersebut menjadi warna berbeda saat IHSG justru mengalami tekanan besar sejak pembukaan perdagangan berlangsung.
Reliance Sekuritas melihat peluang teknikal IHSG sebenarnya masih cukup menarik selama perdagangan jangka pendek berlangsung. Reliance menyebut indikator stochastic menunjukkan golden cross pada area deep oversold beberapa waktu terakhir. “Kami memperkirakan IHSG berpotensi mengalami penguatan,” tulis Reliance Sekuritas dalam riset perdagangan hariannya.
Reliance merekomendasikan saham BRPT, PTRO, BUVA, dan DEWA sebagai pilihan menarik untuk perdagangan jangka pendek saat ini. Namun, tekanan sektor saham masih terlihat dominan terutama sektor barang baku sepanjang perdagangan awal sesi pertama. IDX Sektor Barang Baku tercatat menjadi sektor terlemah setelah turun lebih dari tiga persen pada pagi perdagangan.
Sektor infrastruktur, energi, kesehatan, teknologi, dan keuangan juga ikut terseret dalam tekanan pasar yang cukup dalam. Sementara sektor transportasi dan logistik justru bergerak naik hingga lebih dari tiga persen pada pagi tersebut. Sektor perindustrian juga berhasil bertahan positif ketika mayoritas sektor saham lain bergerak masuk zona merah pekat.
Top losers indeks LQ45 didominasi oleh saham-saham besar yang terkena efek langsung rebalancing MSCI beberapa hari terakhir. Saham CUAN anjlok lebih dari 11 persen sementara AMMN turun lebih dari 10 persen pada pagi ini. Saham AMRT juga ikut tertekan setelah dipindahkan ke kategori MSCI Small Cap Indexes terbaru.
Sebaliknya, saham CPIN menjadi top gainers indeks LQ45 setelah melonjak lebih dari lima persen pada perdagangan pagi. Saham JPFA dan BUMI juga berhasil bergerak naik saat mayoritas saham unggulan mengalami tekanan cukup besar. Kondisi tersebut menunjukkan investor mulai melakukan rotasi menuju saham tertentu yang berfundamental relatif lebih defensif.
Bursa Asia juga bergerak negatif mengikuti tekanan global serta meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat terbaru. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok lebih dari dua persen pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, pagi. Bursa Jepang dan Australia juga ikut bergerak turun akibat sentimen geopolitik Timur Tengah yang makin memanas.
Konflik Timur Tengah ikut memperbesar kecemasan investor terhadap gangguan jalur energi global beberapa pekan terakhir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut negaranya siap menyelesaikan konflik dengan Iran menggunakan berbagai cara yang tersedia. Ketegangan kawasan tersebut mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia yang sangat strategis.
Pelaku pasar kini menunggu perkembangan implementasi rebalancing MSCI yang efektif akhir Mei 2026 mendatang secara resmi. Banyak investor institusi global diperkirakan mulai melakukan penyesuaian portofolio sebelum perubahan indeks berlaku sepenuhnya nantinya. Situasi tersebut membuat volatilitas pasar saham Indonesia diprediksi masih tinggi sepanjang beberapa pekan mendatang. R-02

