Selat Hormuz Memanas, Rupiah Ambruk Lagi ke Rp17.414 per Dolar AS
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah kembali limbung pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah menuju level Rp17.414 per dolar Amerika Serikat. Ketegangan Timur Tengah dan kebuntuan negosiasi damai Amerika Serikat dengan Iran membuat investor kembali memburu dolar AS.
Pergerakan rupiah sejak pagi sebenarnya belum terlihat terlalu liar. Namun, tekanan mulai membesar ketika sentimen geopolitik global kembali memanas. Rupiah akhirnya ditutup turun 32 poin dibanding perdagangan sebelumnya di level Rp17.382 per dolar AS.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah sekitar 0,18 persen pada penutupan perdagangan sore. Sementara Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia menempatkan rupiah pada level Rp17.415 per dolar AS. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan pasar masih belum reda hingga awal pekan ini.
Suasana pasar uang Asia terlihat gelisah sejak pagi perdagangan dibuka. Pelaku pasar memilih bergerak hati-hati sambil memantau perkembangan konflik kawasan Teluk. Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian utama investor dunia.
Direktur Ibrahim Assuaibi menilai kebuntuan negosiasi Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Harapan damai Timur Tengah mulai memudar setelah proposal Iran ditolak Washington. Kondisi itu langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
“Pernyataan AS mematahkan harapan meredanya ketegangan kawasan Teluk dalam waktu dekat,” ujar Ibrahim Assuaibi, Senin, 11 Mei 2026. Investor kini kembali fokus pada risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Harga minyak dunia juga mulai bergerak naik mengikuti situasi geopolitik tersebut.
Ketegangan terbaru bermula setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons Iran terkait proposal perdamaian nuklir. Amerika Serikat sebelumnya meminta penghentian pengayaan uranium Iran selama dua dekade. Washington juga meminta pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai syarat pencabutan sanksi ekonomi.
Iran ternyata mengajukan syarat balasan yang cukup keras terhadap Amerika Serikat. Teheran meminta penghentian kehadiran armada laut AS di sekitar Selat Hormuz. Iran juga menuntut jaminan keamanan dan penghapusan seluruh sanksi ekonomi.
“Investor tetap fokus pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup,” kata Ibrahim Assuaibi. Jalur laut tersebut menjadi nadi perdagangan energi global. Gangguan kawasan itu langsung memicu tekanan besar terhadap pasar internasional.
Pasar global juga mulai mengalihkan perhatian menuju agenda diplomasi Amerika Serikat dan China akhir pekan nanti. Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran.
Di tengah situasi geopolitik panas, dolar AS justru mulai bangkit di pasar Asia. Indeks dolar sore hari bergerak menuju level 98,01. Penguatan mata uang Amerika Serikat itu membuat tekanan terhadap rupiah semakin berat sepanjang perdagangan.
Analis Vibiz Research Center melihat rupiah sempat bergerak cukup liar sejak pembukaan pagi. Rupiah dibuka sekitar Rp17.370 sebelum akhirnya terkoreksi menuju Rp17.415. Posisi tersebut membuat rupiah kembali mendekati rekor terlemah sebelumnya.
Sementara pasar saham domestik ikut terkena imbas tekanan eksternal global. Indeks Harga Saham Gabungan melemah sekitar 63 poin pada akhir perdagangan. Bursa Asia juga bergerak campuran dengan dominasi pelemahan beberapa indeks utama kawasan.
Meski tekanan eksternal cukup berat, kondisi ekonomi domestik sebenarnya masih terlihat stabil. Survei Konsumen Bank Indonesia memperlihatkan optimisme masyarakat tetap bertahan. Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 tercatat naik tipis menuju level 123.
Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan Maret 2026 yang berada di level 122,9. Kenaikan didorong oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini. Lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli dinilai masih cukup terjaga.
“Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini meningkat menjadi 116,5 pada April 2026,” ujar Ibrahim Assuaibi. Masyarakat dinilai masih percaya terhadap stabilitas ekonomi nasional. Namun, sentimen global tetap menjadi faktor dominan penggerak rupiah saat ini.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat untuk April 2026. Fokus utama tertuju pada Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen AS. Data tersebut diperkirakan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Selain data inflasi, pasar juga menanti pidato sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat. Data penjualan ritel AS diperkirakan ikut memengaruhi pergerakan dolar global. Situasi tersebut membuat pasar uang dunia sangat sensitif sepanjang pekan ini.
“Data penjualan ritel dan pidato pejabat Federal Reserve menjadi perhatian investor,” papar Ibrahim Assuaibi. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS membuat dolar semakin agresif. Mata uang negara berkembang ikut terkena tekanan besar akibat kondisi tersebut.
Untuk perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berada pada rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS. Tekanan global diprediksi masih mendominasi arah perdagangan mata uang domestik.
Kondisi tersebut membuat pasar keuangan Indonesia memasuki pekan penuh kewaspadaan tinggi. Investor terus memantau setiap perkembangan geopolitik Timur Tengah dan Amerika Serikat. Rupiah kini berada dalam fase sensitif setelah beberapa pekan bergerak dekat rekor terlemah. R-02

