Gawat! Rupiah Tembus Rp17.382 Akibat Perang AS-Iran Meletus Lagi
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah kembali limbung saat dentuman konflik Timur Tengah mengguncang pasar keuangan global sejak pagi. Nilai tukar rupiah ditutup melemah 49 poin menuju level Rp17.382 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir pekan. Ketegangan militer Amerika Serikat dan Iran membuat dolar AS mendadak ganas sekaligus menyeret mata uang negara berkembang.
Pasar uang Indonesia seperti kehilangan pijakan ketika kabar serangan militer muncul dari kawasan Selat Hormuz sepanjang perdagangan berlangsung. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia ikut melemah menuju level Rp17.375 per dolar AS. Angka tersebut turun dibandingkan dengan posisi sehari sebelumnya, yang berada pada level Rp17.362 per dolar AS.
Pelemahan rupiah kali ini tidak datang diam-diam seperti angin malam menyelinap di lorong pasar keuangan nasional. Tekanan muncul bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia sesudah konflik militer di kawasan Timur Tengah kembali membesar. Investor global langsung berbondong-bondong masuk dolar AS sambil meninggalkan aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut eskalasi konflik menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah sepanjang hari Jumat. Serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah wilayah Iran membuat sentimen pasar berubah liar dalam hitungan jam perdagangan global. Situasi tersebut akhirnya memperkuat dolar AS sekaligus mengerek harga minyak mentah internasional.
“Tensi di Timur Tengah kembali meningkat pasca penyerangan AS ke Iran hari ini,” ujar Josua Pardede, Jumat, 8 Mei 2026. Ia menyebut harga minyak global kembali melonjak sesudah eskalasi konflik kawasan semakin sulit dikendalikan beberapa waktu terakhir. Dolar Amerika Serikat akhirnya terapresiasi luas ketika investor global mulai memburu aset aman sepanjang perdagangan.
Laporan Sputnik menyebutkan serangan militer Amerika Serikat menghantam beberapa wilayah strategis milik Iran pada hari yang sama. Pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik, Pulau Qeshm, hingga dua kapal Iran disebut menjadi sasaran serangan militer terbaru. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menilai tindakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata kawasan sebelumnya.
Iran tidak tinggal diam menghadapi tekanan militer kawasan yang terus bergerak panas sepanjang pekan terakhir perdagangan global. Angkatan bersenjata Iran langsung melancarkan serangan balasan menuju kapal perang Amerika Serikat sekitar Selat Hormuz. Serangan tersebut dilaporkan memicu kerusakan signifikan pada armada militer di kawasan jalur energi dunia tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat kemudian merespons cepat dengan meluncurkan operasi balasan menuju fasilitas militer strategis Iran di kawasan. Washington mengklaim operasi tersebut dilakukan demi menghilangkan ancaman terhadap pasukan militer Amerika Serikat di wilayah konflik. Situasi itu membuat Selat Hormuz kembali berubah menjadi pusat perhatian pasar energi global.
Selat Hormuz bukan jalur biasa dalam perdagangan internasional karena seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari. Ketika jalur itu memanas, harga minyak otomatis bergerak liar sekaligus menghantam ekspektasi inflasi banyak negara berkembang di dunia. Indonesia ikut terkena imbas karena kebutuhan energi nasional masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak global.
Josua Pardede menilai rupiah sebenarnya sempat bergerak stabil selama beberapa hari perdagangan sebelum konflik terbaru kembali meledak. Dukungan Tiongkok terhadap negosiasi damai Timur Tengah sempat memberi sentimen positif bagi pasar Asia sepanjang pekan ini. Namun, efek positif tersebut langsung lenyap sesudah serangan militer terbaru kembali terjadi Jumat pagi.
“Pada perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak terbatas di kisaran Rp17.300 sampai Rp17.425,” kata Josua Pardede. Ia melihat tekanan global masih sangat dominan sehingga ruang penguatan rupiah relatif terbatas beberapa hari mendatang. Pasar diperkirakan tetap bergerak fluktuatif selama konflik di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya bukan sekadar persoalan angka layar perdagangan pasar uang nasional belaka hari ini. Pelemahan mata uang bisa menjalar perlahan menuju harga barang kebutuhan pokok, energi, hingga biaya produksi industri nasional. Dampaknya mulai terasa ketika pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya impor akibat dolar semakin mahal.
Josua Pardede bahkan menyebut level Rp17.000 sudah masuk kategori zona waspada bagi stabilitas pasar domestik nasional. Ketika rupiah bertahan lama pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.500, pasar mulai menguji daya tahan ekonomi Indonesia. Risiko inflasi, tekanan APBN, serta kenaikan biaya impor dapat meningkat tajam dalam kondisi tersebut.
“Apabila rupiah bertahan lama di atas Rp17.500, risiko inflasi dan APBN meningkat tajam,” ujar Josua Pardede. Ia menilai harga minyak di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel bisa memperbesar tekanan ekonomi domestik. Kondisi tersebut juga berpotensi menggerus arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan nasional.
Menurut simulasi Permata Bank, kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat memukul transaksi berjalan Indonesia cukup dalam. Beban subsidi energi bahkan diperkirakan bertambah hingga Rp97 triliun jika tekanan minyak berlangsung lama sepanjang tahun berjalan. Situasi itu membuat pemerintah harus menjaga disiplin fiskal menghadapi ancaman gejolak ekonomi global.
Bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah akan terasa perlahan melalui kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari beberapa bulan mendatang. Energi, pangan impor, obat-obatan, elektronik, hingga komponen otomotif menjadi sektor paling sensitif terhadap pelemahan mata uang domestik. Tekanan tersebut berpotensi menghantam kelompok menengah dan bawah paling awal karena pengeluaran pokok mereka cukup besar.
“Rupiah yang melemah terlalu lama akan menggerus daya beli masyarakat,” jelas Josua Pardede saat menjelaskan dampak lanjutan dari tekanan kurs. Ia melihat tekanan biaya produsen mulai meningkat seiring mahalnya energi dan pelemahan rupiah beberapa pekan terakhir ini. Jika kondisi berlangsung panjang, pelaku usaha kemungkinan menaikkan harga jual barang secara bertahap.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi juga melihat gencatan senjata di kawasan Timur Tengah semakin sulit dipertahankan dalam situasi sekarang. Harapan pembukaan penuh Selat Hormuz kembali terganggu sesudah pertempuran terbaru pecah antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur strategis energi dunia tersebut akhirnya kembali menghantui pasar global sepanjang akhir pekan.
“Pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran sehingga mengancam gencatan senjata rapuh,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam riset pasar terbarunya. Ia menyebut konflik tersebut menghancurkan harapan pembukaan jalur minyak dan gas normal di kawasan Selat Hormuz secara global. Ketidakpastian geopolitik akhirnya menciptakan volatilitas liar pada pasar keuangan internasional, termasuk Indonesia.
Tekanan domestik juga mulai muncul dari lonjakan utang pemerintah mencapai Rp9.920 triliun hingga akhir kuartal pertama 2026. Rasio utang terhadap produk domestik bruto kini menyentuh 40,75 persen di tengah kebutuhan pembiayaan APBN yang semakin besar. Defisit anggaran mencapai Rp240,1 triliun membuat pasar mulai memperhatikan ketahanan fiskal nasional lebih serius. R-02

