Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, WNA Jalani Isolasi di RSPI Sulianti Saroso
Ilustrasi Hentavirus. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Kasus hantavirus kembali bikin geger setelah Kementerian Kesehatan mengisolasi seorang warga negara asing di Jakarta. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, memastikan penularan virus tersebut berbeda jauh dibandingkan dengan Covid-19. Mayoritas penularan hantavirus hingga kini terbukti berasal dari tikus yang membawa virus mematikan tersebut.
Budi Gunadi Sadikin menepis kekhawatiran masyarakat terkait potensi penyebaran cepat seperti pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Menurutnya, hantavirus jauh lebih sulit menular antarmanusia dalam aktivitas sehari-hari biasa. “Beda dengan Covid, virus ini menularnya sangat susah sampai sekarang,” ujar Budi Gunadi, Rabu, 13 Mei 2026.
Ia menyebut sebagian besar kasus penularan berasal dari tikus terinfeksi melalui kotoran maupun gigitan langsung. Penularan lewat percakapan singkat hampir tidak ditemukan dalam mayoritas kasus di dunia. Kasus terbaru mencuat setelah muncul laporan terkait kapal pesiar MV Hondius yang memicu perhatian internasional.
Kementerian Kesehatan menerima notifikasi resmi dari International Health Regulation National Focal Point Inggris pada 7 Mei 2026. Informasi tersebut menyebutkan seorang warga asing berdomisili di Jakarta memiliki kontak erat dengan pasien positif hantavirus.
Warga negara asing laki-laki berusia 60 tahun itu kemudian menjalani pemeriksaan intensif di Jakarta. Pemerintah membawa pria tersebut menuju Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso sejak Jumat, 9 Mei 2026. Rumah sakit khusus infeksi itu dipilih demi memastikan pengawasan berjalan ketat selama masa inkubasi.
Meski hasil pemeriksaan awal menunjukkan status negatif terhadap hantavirus, isolasi tetap dijalankan hingga dua pekan mendatang. Pemerintah ingin memastikan virus benar-benar tidak berkembang selama masa pemantauan medis berlangsung di rumah sakit. Langkah tersebut diambil demi mencegah risiko penularan yang tidak terdeteksi sejak awal pemeriksaan.
“Sampai sekarang masih diminta tetap isolasi selama masa inkubasi berjalan,” kata Budi Gunadi. Ia menegaskan pemantauan lanjutan tetap diperlukan meski hasil laboratorium sementara menunjukkan kondisi aman. Pemerintah juga terus melakukan pelacakan terhadap kemungkinan kontak lain selama perjalanan internasional berlangsung.
Pelaksana Tugas Direktur Penanggulangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menjelaskan pasien akan menjalani pemeriksaan ulang dua minggu mendatang. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tubuh pasien benar-benar bebas dari infeksi virus hantavirus. Pemeriksaan lanjutan dianggap penting mengingat masa inkubasi virus masih memungkinkan perkembangan gejala.
“Kita cek lagi dua minggu dari kemarin untuk memastikan benar-benar aman,” ujar Andi Saguni kepada wartawan. Ia menyebut pasien sempat menjalani isolasi mandiri sebelum akhirnya dipindahkan ke RSPI Sulianti Saroso. Selama berada di Jakarta, pria tersebut diketahui tinggal sendirian sehingga risiko penularan relatif kecil.
Menurut Budi Gunadi, dugaan penularan di kapal MV Hondius berkaitan erat dengan masalah kebersihan lingkungan. Tikus diduga berkembang di area kapal dan membawa virus melalui urine serta kotoran yang menyebar. Gigitan tikus juga menjadi salah satu jalur penularan paling berbahaya dalam kasus hantavirus. “Nah, tikus ini kalau terkena hantavirus bisa mengeluarkan kotoran dan urine,” katanya.
Budi menambahkan virus dapat masuk tubuh manusia ketika seseorang menyentuh area tercemar tanpa perlindungan memadai. Risiko juga meningkat ketika gigitan tikus mengenai bagian tubuh manusia secara langsung.
Menkes menekankan masyarakat tidak perlu panik berlebihan menghadapi kasus hantavirus yang ditemukan beberapa waktu terakhir. Hingga kini, pola penularan mayoritas masih berasal dari paparan hewan pengerat, terutama tikus di lingkungan kotor. Virus tersebut tidak menyebar cepat melalui percakapan ringan seperti Covid-19 beberapa tahun lalu.
Budi juga mengungkap hanya satu varian tertentu di Amerika Selatan yang mampu menular antarmanusia. Varian tersebut dikenal dengan nama Andes dan biasanya muncul dalam kontak yang sangat dekat serta intensif. Penularan dapat terjadi ketika anggota keluarga tidur di satu ranjang dalam waktu cukup lama.
“Hanya ada satu varian di Amerika Selatan yang menular antarmanusia secara dekat,” ujar Budi Gunadi Sadikin. Namun, sekitar 99 persen kasus di dunia tetap berasal dari paparan tikus terinfeksi di lingkungan sekitar manusia. Karena itu, menjaga kebersihan menjadi benteng utama untuk mencegah penyebaran virus mematikan tersebut.
Pemerintah kini memperkuat surveillance atau pengawasan kasus hantavirus di berbagai wilayah Indonesia secara bertahap. Rumah sakit rujukan juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala menyerupai infeksi virus tersebut. Kementerian Kesehatan memastikan tenaga medis sudah memahami tata laksana penanganan hantavirus dengan baik.
“Cara terbaik menghindari hantavirus adalah memastikan lingkungan tetap bersih dari tikus,” kata Budi. Ia meminta masyarakat menjaga kebersihan rumah, restoran, tempat kerja, serta area penyimpanan makanan sehari-hari. Tikus dianggap ancaman utama penyebaran virus, sehingga pengendalian populasi menjadi sangat penting.
Selain penularan, tingkat fatalitas hantavirus juga berbeda tergantung pada jenis strain virus yang menyerang tubuh manusia. Strain asal Amerika Selatan dikenal menyerang paru-paru dengan tingkat kematian mencapai 50 hingga 60 persen. Kondisi itu membuat varian tersebut lebih ditakuti dalam kasus internasional beberapa tahun terakhir.
Sementara strain yang berkembang di Asia, termasuk Indonesia, memiliki karakter menyerang organ ginjal manusia. Menurut Kementerian Kesehatan, tingkat fatalitas strain Asia relatif lebih rendah dibandingkan dengan varian Amerika Selatan. Persentase kematian kasus Asia berkisar lima hingga lima belas persen berdasarkan data medis terbaru.
Meski begitu, pemerintah tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal masing-masing. Penumpukan sampah, saluran kotor, serta gudang lembap menjadi lokasi favorit bagi tikus untuk berkembang biak tanpa gangguan. Kondisi seperti itu berpotensi membuka jalur penyebaran hantavirus secara diam-diam dalam jangka panjang.
Kasus MV Hondius kini menjadi pengingat keras pentingnya pengawasan sanitasi pada transportasi internasional dan kawasan padat. Pemerintah Indonesia juga terus berkoordinasi dengan otoritas kesehatan dunia untuk memantau perkembangan kasus terbaru hantavirus global. Langkah cepat tersebut dilakukan demi mencegah munculnya kepanikan publik secara luas. R-02

