Suara Terakhir dr Myta Bikin Merinding, Menkes Ungkap Fakta Kelam Dokter Internship
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Kematian dokter muda dr Myta Aprilia Azmy membongkar sisi gelap program internship rumah sakit Indonesia belakangan ini. Kementerian Kesehatan menemukan dugaan manipulasi jadwal, kerja berlebihan, serta tekanan berat terhadap dokter magang di Jambi.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengumumkan hasil investigasi kasus tersebut Jumat, 8 Mei 2026. Investigasi dilakukan usai dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya meninggal saat bertugas di Kuala Tungkal, Jambi. Kemenkes menilai banyak celah serius dalam tata kelola program internship dokter selama beberapa tahun terakhir.
Budi Gunadi Sadikin menyebut jam kerja dokter internship sering melampaui batas ketentuan nasional yang berlaku saat ini. Menurut aturan resmi, peserta magang hanya boleh bekerja maksimal empat puluh jam setiap pekan penuh tanpa pemadatan. “Tidak boleh lebih dari empat puluh jam dan tidak bisa dipadatkan,” ujar Budi, Jumat, 8 Mei 2026.
Investigasi Kemenkes juga menemukan dugaan manipulasi jadwal kerja selama dr Myta bertugas di instalasi gawat darurat. Temuan itu berasal dari percakapan internal berisi instruksi mengedit jadwal agar tampak sesuai aturan administrasi rumah sakit. “Nah, kita menemukan adanya pengaturan untuk manipulasi jadwal,” kata Rudi Supriatna Nata Saputra.
Rudi menjelaskan aturan dokter internship yang membatasi jam kerja maksimal delapan jam dalam satu hari penuh.
Namun, hasil pemeriksaan memperlihatkan dr Myta menjalani beban kerja melampaui batas selama Februari hingga April 2026 kemarin. Kondisi itu diperparah oleh kekurangan dokter organik setelah satu tenaga medis mengundurkan diri dari rumah sakit tersebut.
Situasi tersebut membuat dokter internship ikut menangani tugas utama pelayanan pasien di unit gawat darurat rumah sakit. Padahal dokter magang seharusnya hanya belajar sambil mendapatkan pengawasan aktif dari dokter pembimbing yang bertugas setiap hari. “Dokter magang tidak boleh menggantikan dokter organik rumah sakit,” tegas Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers investigasi.
Kasus ini makin menyayat perhatian publik setelah Kemenkes memutar voice note terakhir dr Myta kepada rekannya. Suara dokter muda itu terdengar sesak sambil meminta bantuan untuk menggantikan jadwal jaga karena tubuhnya mulai menyerah. “Aku kayak enggak kuat, Astri,” ucap dr Myta dalam rekaman suara yang diputar tim investigasi Kemenkes.
Rekaman tersebut menjadi gambaran nyata tekanan fisik serta mental yang menghantam dokter internship selama bertugas sebelumnya. Dalam voice note lain, dr Myta juga mengaku mengalami demam tinggi, menggigil, batuk, serta sesak napas berkepanjangan. Ia bahkan tetap mengenakan masker demi melindungi rekan kerja meski kondisi tubuh terus memburuk setiap harinya.
“Napas aku panas, hidung aku panas, semuanya panas,” kata dr Myta dalam rekaman investigasi tersebut sebelumnya. Cerita itu membuat publik ramai mempertanyakan budaya kerja keras berlebihan dalam dunia pendidikan kedokteran Indonesia sekarang. Media sosial dipenuhi kritik keras terhadap sistem internship yang dianggap membiarkan dokter muda bekerja tanpa batas manusiawi.
Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes, Yuli Farianti, mengungkap temuan mencengangkan lainnya. Menurut Yuli, dokter internship di Kuala Tungkal disebut tetap bekerja pada Sabtu dan Minggu tanpa libur mingguan. “Tidak pernah ada hari libur, Sabtu sampai Minggu mereka masuk,” ujar Yuli dalam pemaparan investigasi resmi tersebut.
Yuli juga menyoroti tekanan psikologis terhadap dokter muda selama menjalani program internship di rumah sakit daerah sebelumnya. Peserta magang disebut merasa takut menolak tugas tambahan meski kondisi tubuh sudah tidak lagi memungkinkan untuk bekerja. “Nah, anak-anak sepertinya ditakut-takutkan, akhirnya mereka terus mengerjakan,” kata Yuli Farianti.
Kasus dr Myta kini berubah menjadi alarm keras bagi dunia kesehatan nasional dan pendidikan kedokteran Indonesia modern. Kemenkes mengakui program internship selama ini masih menyimpan banyak persoalan mendasar terkait perlindungan peserta magang nasional. Budi Gunadi Sadikin memastikan pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rumah sakit pendidikan di Indonesia.
Langkah perbaikan mulai disiapkan Kemenkes setelah investigasi menemukan dugaan pelanggaran sistemik dalam pengawasan internship dokter nasional. Hak cuti dokter magang ditambah menjadi sepuluh hari tanpa kewajiban mengganti masa internship setelah cuti selesai. Kemenkes juga menjanjikan pemeriksaan kesehatan rutin dua kali setahun bagi seluruh dokter internship di berbagai daerah nantinya.
Selain itu, sistem remunerasi dokter internship bakal diperbaiki agar tidak lagi menimbulkan ketimpangan antarwilayah pelayanan kesehatan nasional. Pemerintah pusat menilai tunjangan daerah serta jasa layanan rumah sakit masih jauh dari standar kesejahteraan layak sekarang. Audit medis juga dilakukan terhadap penanganan dr Myta selama menjalani perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Ketua Majelis Disiplin Profesi Kedokteran ikut dilibatkan guna memeriksa aspek etika serta tata laksana medis rumah sakit. Kemenkes menegaskan pemberian sanksi membutuhkan audit profesional sebelum diputuskan melalui mekanisme disiplin profesi resmi nasional nantinya. “Program internship harus menjadi ruang belajar aman dan manusiawi,” tegas Budi.
Kasus ini juga memantik reaksi keras parlemen setelah dugaan eksploitasi dokter muda mulai terungkap secara nasional luas. Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, mengecam praktik tersebut dengan tajam. “Ini sudah bukan sekadar kelalaian, tapi sudah seperti perbudakan,” kata Irma menanggapi kasus meninggalnya dr Myta.
DPR berencana memanggil Kementerian Kesehatan guna membahas total sistem internship nasional dalam sidang mendatang resmi. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, memastikan pembahasan segera dilakukan. “Sidang berikutnya akan membahas masalah tersebut bersama Kementerian Kesehatan,” ujar Yahya kepada awak media di Jakarta.
Kini nama dr Myta Aprilia Azmy berubah menjadi simbol luka besar dunia kesehatan Indonesia beberapa pekan terakhir. Kasus tersebut membuka mata publik tentang kerasnya tekanan terhadap dokter muda saat menjalani pendidikan profesi lapangan sebenarnya. Di balik jas putih dan lorong rumah sakit, tersimpan cerita kelelahan panjang yang akhirnya memakan korban jiwa. R-02

