Harga Minyakita Tembus Rp20 Ribu, Satgas Pangan Turun Memburu Mafia Distribusi
Ilustrasi perdagangan minyakita di pasar tradisional. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Harga minyak goreng subsidi Minyakita di Kota Pekanbaru mendadak melonjak liar hingga Rp20 ribu per liter. Kenaikan tajam tersebut langsung memicu sidak gabungan aparat kepolisian, Bulog, dan Disperindag menuju Pasar Sukaramai. Dugaan permainan distributor swasta mulai menyeruak setelah satu toko kedapatan menjual Minyakita melewati Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah.
Pasar tradisional Pekanbaru mendadak gaduh sejak harga Minyakita merangkak naik beberapa pekan terakhir. Pedagang mengaku kesulitan memperoleh pasokan stabil dari distributor sehingga harga berubah hampir setiap hari. Warga kelas menengah bawah akhirnya menjadi kelompok paling terpukul akibat lonjakan kebutuhan dapur tersebut.
Harga Minyakita seharusnya berada pada angka Rp15.700 per liter sesuai ketentuan pemerintah pusat. Namun, kenyataan lapangan menunjukkan harga sudah menyentuh Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Selisih tersebut membuat pembeli mulai mengurangi jumlah belanja demi bertahan menghadapi kenaikan sembako.
Kasubdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Riau, AKBP Agus Prihandika, turun langsung memimpin pengawasan pasar pada Sabtu, 9 Mei 2026. Tim gabungan memeriksa sejumlah toko di kawasan Pasar Sukaramai Jalan Agus Salim Kota Pekanbaru.
Pemeriksaan dilakukan untuk memburu sumber kenaikan harga minyak goreng subsidi tersebut. “Kami menemukan satu toko menjual Minyakita melebihi harga HET pemerintah,” ujar AKBP Agus Prihandika, Kasubdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Riau.
Petugas memeriksa tiga toko penjual Minyakita selama sidak berlangsung di Pasar Sukaramai. Dua toko masih menjual sesuai aturan meski stok mulai terbatas dalam beberapa hari terakhir. Namun, satu toko terbukti menaikkan harga di atas ketentuan resmi pemerintah.
Polisi tidak berhenti pada tingkat pengecer pasar tradisional tersebut. Satgas Pangan mulai menelusuri rantai distribusi dari gudang hingga distributor utama Minyakita di Pekanbaru. Dugaan permainan harga pada tingkat pemasok kini menjadi perhatian serius aparat. “Kami akan menelusuri jalur distribusi dan mendalami dugaan pelanggaran pidana,” kata Agus Prihandika.
Kepala Bidang Tertib Perdagangan dan Perindustrian Disperindag Pekanbaru, Khairunnas, ikut menyoroti lonjakan harga Minyakita tersebut. Ia menduga kenaikan terjadi akibat ulah distributor swasta di luar jalur Bulog resmi. Biaya distribusi serta permainan pasokan disebut memperparah harga pada tingkat pasar.
Khairunnas menyebut pasokan Minyakita menuju Pekanbaru beberapa kali mengalami ketidakpastian selama bulan berjalan. Kondisi itu membuat pedagang membeli stok dengan harga lebih tinggi dari biasanya. Situasi semakin rumit setelah ongkos kirim ikut dibebankan kepada pengecer pasar.
“Dalam waktu dekat kami kembali menelusuri penyebab lonjakan harga Minyakita,” ujar Khairunnas, Kepala Bidang Tertib Perdagangan dan Perindustrian Disperindag Pekanbaru.
Warga mulai mengeluhkan harga minyak goreng subsidi tersebut saat berbelanja kebutuhan harian. Minyakita selama ini menjadi pilihan utama rumah tangga menengah bawah karena harga lebih terjangkau. Kini selisih harga membuat sebagian warga mulai beralih menuju minyak curah.
Pedagang pasar mengaku serba sulit menghadapi situasi tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Harga beli dari distributor sudah tinggi sebelum barang tiba di kios pasar tradisional. Kondisi itu membuat keuntungan pedagang ikut menipis meski harga jual naik.
Satgas Pangan Polda Riau juga membuka kemungkinan adanya praktik penimbunan stok Minyakita. Polisi mendalami kemungkinan permainan distribusi demi memperoleh keuntungan besar saat pasokan pasar terganggu.
Jika ditemukan unsur pidana, proses hukum disebut langsung berjalan tanpa kompromi. “Kami tidak ragu meningkatkan kasus menuju penyelidikan dan penyidikan sesuai aturan yang berlaku,” tegas Agus Prihandika.
Pemerintah Kota Pekanbaru sebelumnya sempat memanggil sejumlah distributor Minyakita guna meminta penjelasan soal pasokan. Pemantauan dilakukan setelah harga minyak goreng subsidi terus bergerak naik pada berbagai pasar tradisional. Namun, lonjakan harga ternyata belum berhasil ditekan hingga pekan kedua Mei 2026.
Minyakita kini berubah menjadi komoditas panas di tengah tekanan ekonomi rumah tangga masyarakat Pekanbaru. Harga tinggi membuat keresahan menyebar cepat pada pasar tradisional hingga warung kecil pinggir jalan. Polisi bersama instansi terkait pun mulai bergerak memburu sumber kekacauan distribusi minyak subsidi tersebut. R-02

