Kasus TBC di Indonesia Tembus 1 Juta per Tahun, Pemerintah Perkuat Penanganan
Ilustrasi TBC. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Indonesia masih menghadapi ancaman serius penyakit tuberkulosis atau TBC. Jumlah kasus yang terus tinggi membuat Indonesia kembali tercatat sebagai salah satu negara dengan beban TBC terbesar di dunia. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah karena penyakit menular tersebut masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang sulit ditekan.
Data terbaru menunjukkan Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kontribusi kasus TBC Indonesia mencapai sekitar 10 persen dari total kasus global.
Tingginya angka kasus TBC di Indonesia bukan hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga memengaruhi produktivitas masyarakat dan kualitas hidup pasien. Penyakit yang menyerang paru-paru ini masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat penyakit menular tertinggi di Tanah Air.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus sebelumnya mengungkapkan bahwa kasus TBC di Indonesia mencapai lebih dari 1 juta kasus setiap tahun. Namun, tidak semua penderita berhasil terdeteksi dan menjalani pengobatan secara optimal.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat sekitar 200 ribu hingga 300 ribu kasus TBC yang belum ditemukan setiap tahunnya. Kondisi ini membuat rantai penularan penyakit masih terus terjadi di tengah masyarakat.
Pemerintah menilai tingginya angka temuan kasus sebenarnya menunjukkan upaya skrining dan deteksi dini mulai berjalan lebih baik. Semakin banyak kasus ditemukan, semakin besar peluang pasien mendapatkan pengobatan sehingga potensi penularan dapat ditekan.
Hingga awal Mei 2026, pemerintah mencatat lebih dari 241 ribu kasus TBC telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, inisiasi pengobatan mencapai 84 persen dari target nasional sebesar 95 persen. Sementara tingkat keberhasilan pengobatan berada di angka 80 persen dari target 90 persen.
Pemerintah kini terus memperkuat strategi penanganan TBC melalui berbagai program nasional. Salah satunya dengan mengintegrasikan skrining TBC ke dalam program Cek Kesehatan Gratis yang sudah berjalan sejak 2025.
Selain itu, fasilitas kesehatan seperti puskesmas juga mulai diperkuat dengan alat pendeteksi modern, termasuk Near Point of Care (nPOC) dan layanan X-Ray untuk mempercepat diagnosis pasien TBC.
Tidak hanya fokus pada pengobatan, pemerintah juga mulai memperhatikan faktor lingkungan yang menjadi penyebab tingginya penularan TBC. Rumah yang lembap, minim ventilasi, dan padat penghuni dinilai menjadi salah satu faktor utama penyebaran penyakit tersebut.
Karena itu, pemerintah menargetkan perbaikan 8.000 rumah pasien TBC di wilayah dengan angka kasus tinggi sepanjang 2026. Program tersebut bertujuan menciptakan lingkungan hunian sehat sekaligus membantu mempercepat pemulihan pasien.
Program perbaikan rumah pasien TBC mengalami peningkatan signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang hanya menyasar sekitar 300 rumah per tahun. Hingga kini, lebih dari 5.400 rumah telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan perbaikan melalui aplikasi SIBARU.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan desa dan kelurahan siaga TBC. Saat ini tercatat lebih dari 6.400 desa dan kelurahan di 23 provinsi telah dilibatkan dalam program tersebut.
Para ahli kesehatan menilai penanganan TBC membutuhkan kerja sama lintas sektor dan kesadaran masyarakat. Penyakit ini dapat menular melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara tanpa menggunakan pelindung.
Gejala TBC biasanya ditandai dengan batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, penurunan berat badan drastis, demam, keringat malam, hingga mudah lelah. Namun, masih banyak masyarakat yang menganggap gejala tersebut sebagai penyakit biasa sehingga terlambat memeriksakan diri.
Kondisi itu membuat penularan TBC semakin sulit dikendalikan. Apalagi Indonesia juga menghadapi tantangan kasus TBC resisten obat atau MDR-TB yang membutuhkan penanganan lebih kompleks dan biaya pengobatan lebih besar.
Laporan WHO juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang terbesar kasus TBC resisten obat di dunia. Indonesia menyumbang sekitar 7,4 persen kasus MDR/RR-TB global.
Di sisi lain, pemerintah optimistis target eliminasi TBC pada 2030 masih dapat dicapai jika seluruh pihak ikut terlibat aktif dalam penanganan penyakit tersebut. Edukasi masyarakat, peningkatan deteksi dini, serta kepatuhan pasien menjalani pengobatan menjadi faktor utama keberhasilan program eliminasi TBC.
Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala TBC agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin. Pemeriksaan dan pengobatan TBC saat ini juga telah tersedia gratis di fasilitas kesehatan pemerintah.
Meski tantangan masih besar, langkah penguatan skrining, peningkatan fasilitas kesehatan, hingga perbaikan lingkungan hunian diharapkan mampu menekan laju penularan TBC di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. (R-05)

