Ketika Pemerintah Belum Hadir, UMKM Bergerak Menjaga Asa: Viola Jenguk warga Terdampak Panglong Arang Ditutup
Viola Natassa, owner dari etalase kuliner dan jajanan lokal “Tentang Rasa berkomunikasi dengan warga untuk mendengar aspirasi dan mencarikan solusi. Foto: SM News
RIAU, SabangMerauke News - Di pesisir sunyi Kabupaten Kepulauan Meranti, hari itu dan selanjutnya tak akan kembali seperti biasanya. Asap yang selama ini mengepul pelan dari tungku-tungku arang mendadak hilang, seakan langit pun ikut menahan napas. Bukan karena kayu habis, bukan pula karena angin tak bersahabat melainkan karena sebuah keputusan yang datang tiba-tiba dan tegas.
Penutupan paksa terhadap aktivitas produksi arang berbahan baku mangrove di Desa Sesap menjadi titik balik yang mengguncang kehidupan banyak orang. Langkah itu disebut sebagai bagian dari penegakan hukum oleh jajaran Polda Riau, melalui Subdirektorat Tindak Pidana Tertentu (Tipidter), yang menilai aktivitas tersebut ilegal dan berpotensi merusak ekosistem mangrove yang kian tergerus.
Di atas kertas, keputusan itu berdiri di atas alasan yang kuat yakni menjaga hutan mangrove yang menjadi benteng alami pesisir, pelindung dari abrasi, sekaligus rumah bagi berbagai biota laut. Mangrove bukan sekadar pohon, melainkan penyangga kehidupan yang tak tergantikan.
Namun di sisi lain, realitas di lapangan tak sesederhana itu.
Bagi masyarakat kecil di sana, arang bukan sekadar komoditas. Ia adalah denyut kehidupan. Dari tungku sederhana yang dibangun seadanya, mereka menyalakan harapan untuk mengubah kayu menjadi arang, lalu menjadikannya uang untuk membeli beras, membayar sekolah anak, hingga sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.
Kini, yang padam bukan hanya bara di dalam tungku. Yang ikut meredup adalah harapan mereka kedepannya.
Maka ketika penertiban datang dengan alasan yang tak sepenuhnya bisa dibantah yang pertama kali hilang bukan sekadar asap dari tungku arang. Yang hilang adalah denyut kehidupan itu sendiri.
Ratusan, bahkan ribuan warga yang selama ini menggantungkan hidup pada rantai ekonomi arang kini terdiam. Tak hanya para pekerja panglong, dampaknya menjalar luas seperti penebang kayu kehilangan pembeli, buruh angkut kehilangan pekerjaan, hingga pedagang kecil yang biasa menyuplai kebutuhan para pekerja ikut merasakan sepi yang tiba-tiba.
Satu keputusan, satu penindakan—namun gelombangnya menghantam banyak sisi kehidupan.
Di sudut-sudut desa, kegelisahan mulai terasa. Bukan tentang benar atau salah, bukan pula semata tentang hukum atau pelanggaran. Tapi tentang bagaimana hidup harus tetap berjalan ketika sumber penghidupan mendadak terhenti.
Sebagian warga memahami pentingnya menjaga mangrove. Mereka tahu, jika hutan itu hilang, masa depan pesisir ikut terancam. Namun di saat yang sama, mereka juga dihadapkan pada kenyataan pahit: hari ini mereka butuh makan, anak-anak mereka butuh biaya sekolah, dan dapur harus tetap mengepul.
Di sinilah dilema itu berdiri antara menjaga alam dan menjaga kehidupan.
Apa yang terjadi hari ini di Kepulauan Meranti bukan sekadar cerita tentang penegakan hukum. Ini adalah potret tentang benturan dua kepentingan besar seperti kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat kecil.
Pertanyaannya kini bukan hanya tentang siapa yang benar. Tapi tentang bagaimana jalan tengah itu bisa ditemukan.
Sebab jika tungku-tungku itu padam tanpa solusi, yang akan tersisa bukan hanya hutan yang diselasepert tetapi juga luka sosial yang perlahan membesar.
Dan di tengah sunyinya asap yang tak lagi mengepul, satu hal menjadi jelas, dimana masyarakat kecil tak butuh sekadar larangan. Mereka butuh jalan.
Di desa-desa pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti, di mana sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor arang mangrove, masa depan kini terasa seperti kabut tebal yang sulit ditembus. Bagi mereka, pertanyaan tentang nasib tak lagi perlu dijawab dengan kata-kata, namun cukup lihat dapur yang mulai jarang berasap, dan piring yang tak lagi terisi penuh.
Untuk makan saja kini menjadi perkara yang tak sederhana. Sementara itu, sentuhan tangan pemerintah yang diharapkan mampu menjadi penopang di masa sulit, belum nampak danbenar-benar terasa hadir di tengah mereka.
Salah satu titik yang paling merasakan dampak itu adalah Desa Sesap, sebuah desa di Kecamatan Tebingtinggi yang letaknya masih satu daratan dengan ibu kota kabupaten. Kedekatan geografis itu nyatanya tak menjamin dekatnya solusi.
Di sana, suara-suara kecil yang selama ini nyaris tak terdengar kini mulai menggema. Bukan dalam bentuk amarah yang membuncah, melainkan keluh kesah yang lirih—lahir dari perut yang mulai kosong dan masa depan yang kehilangan arah.
Mereka bukan orang-orang yang menolak aturan. Mereka juga bukan pihak yang abai terhadap lingkungan. Mereka paham betul arti penting hutan mangrove bagi kehidupan pesisir. Mereka tahu, jika bakau hilang, maka perlahan kehidupan mereka pun akan ikut terkikis.
Namun kenyataan memaksa mereka berdiri di persimpangan yang tak mudah.
Bukan karena tak peduli, sebagian dari mereka tetap bertahan di sektor ini. Bukan karena ingin melawan, tetapi karena tak ada jalan lain yang tersedia. Dalam keterbatasan pilihan, satu hal yang paling nyata dan paling dekat adalah kebutuhan hari ini perut anak-anak yang harus tetap terisi.
Di titik inilah ironi itu terasa begitu pahit.
Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini satu-satunya keterampilan yang mereka miliki. Mereka tumbuh dalam dunia itu, hidup dari itu, dan tak pernah benar-benar diperkenalkan pada pilihan lain.
Kebijakan yang hadir dengan niat menyelamatkan lingkungan, justru dirasakan datang tanpa jembatan bagi mereka yang terdampak. Penertiban panglong arang mungkin benar secara konsep. Alam memang harus dijaga, mangrove harus dilindungi dari kerusakan yang lebih jauh.
Namun kebenaran yang datang tanpa jalan keluar, sering kali berubah menjadi beban yang tak tertanggungkan.
Masyarakat yang selama puluhan tahun hidup dari bakau, tiba-tiba diminta berhenti. Tanpa masa transisi yang jelas. Tanpa keterampilan alternatif yang disiapkan. Tanpa kepastian sumber penghidupan baru.
Seolah-olah mereka diminta memilih antara menjaga alam atau menjaga keluarga mereka sendiri.
Dan pilihan seperti itu, bagi banyak orang, bukan sekadar sulit tetapi juga terasa tidak manusiawi.
Padahal persoalan ini tak pernah sesederhana hitam dan putih. Ini bukan semata tentang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana kebijakan dapat hadir dengan empati, dengan perencanaan, dan dengan keberpihakan yang nyata.
Solusi tidak bisa berhenti pada penertiban. Ia harus bergerak ke arah transisi seperti memberi pelatihan keterampilan baru dan
membuka akses ke sektor ekonomi lain.
Karena pada akhirnya, kebijakan yang baik bukan hanya yang mampu menyelamatkan alam, tetapi juga yang menjaga martabat manusia yang hidup di dalamnya. Keduanya tidak boleh dipertentangkan.
Jika tidak, maka yang tersisa bukan hanya hutan yang terancam, tetapi juga luka sosial yang perlahan tumbuh diam, dalam, dan berkepanjangan.
Di tengah riuhnya pemberitaan tentang penutupan panglong arang di Kabupaten Kepulauan Meranti, cerita-cerita pilu dari warga terdampak telah berulang kali menghiasi layar media sosial. Video demi video memperlihatkan wajah-wajah letih, dapur yang mulai sepi, dan suara lirih yang memohon perhatian.
Namun hingga hari ini, di tengah derasnya empati yang mengalir dari publik, uluran tangan yang paling dinanti yakni dari pemerintah belum juga benar-benar tiba.
Waktu terus berjalan, sementara kebutuhan hidup tak pernah menunggu.
Di saat itulah, perhatian tulus justru datang dari arah yang tak disangka. Bukan dari kursi kekuasaan eksekutif, bukan pula dari ruang-ruang kebijakan legislatif. Melainkan dari seorang perempuan yang hatinya tergerak melihat kenyataan yang terjadi di lapangan.
Dia adalah Viola Natassa, owner dari etalase kuliner dan jajanan lokal “Tentang Rasa”—sebuah ruang kecil yang selama ini menjadi tempat berkumpulnya pelaku UMKM di daerah itu.
Tanpa banyak kata, ia memilih bertindak. Langkah awal yang dilakukan sederhana, namun sarat makna. Ia mengajak para mitra UMKM yang tergabung di usahanya untuk ikut berbagi. Setiap pelaku usaha diminta menyisihkan satu porsi makanan dari dagangan mereka, untuk kemudian dikumpulkan dan disalurkan kepada warga terdampak di Desa Sesap.
Dari satu porsi, menjadi puluhan. Dari puluhan, menjadi ratusan.
Tak hanya makanan, tanpa diduga, donasi uang pun ikut mengalir. Seolah kepedulian itu menular, menjalar dari satu hati ke hati yang lain.
Aneka makanan yang biasanya diperjualbelikan kini berubah fungsi bukan lagi sekadar komoditas, melainkan jembatan kepedulian. Pada hari pertama penyaluran, Selasa, 5 Mei 2026, kehadiran bantuan itu disambut dengan penuh haru oleh warga.
Di wajah-wajah yang sebelumnya muram, perlahan muncul senyum. Sederhana, namun tulus.
Rasa syukur tak bisa disembunyikan. Bagi mereka, bantuan itu bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang perhatian—tentang rasa bahwa mereka tidak sepenuhnya ditinggalkan.
Meski langit sempat menurunkan hujan, langkah-langkah kecil itu tak terhenti. Viola Natassa bersama timnya tetap berjalan, menembus genangan dan cuaca yang tak bersahabat, demi memastikan bantuan sampai ke tangan yang membutuhkan.
Semangat berbagi itu bahkan tak berhenti di satu hari. Direncanakan, kegiatan penyaluran makanan dari para UMKM ini akan terus berlangsung selama sepekan ke depan dan menjadi nafas sementara bagi warga yang kehilangan penghasilan.
Namun lebih dari sekadar berbagi makanan, ada hal lain yang dilakukan.
Di sela-sela penyaluran, Viola duduk bersama warga. Mendengar cerita mereka. Menyimak keluh kesah yang selama ini mungkin tak pernah sampai ke telinga para pengambil kebijakan. Dari percakapan-percakapan sederhana itu, ia mencoba mencari jalan sekecil apa pun yang bisa menjadi solusi sementara.
Karena ia tahu, bantuan makanan mungkin hanya mampu mengisi perut hari ini. Tapi harapan itulah yang harus tetap dijaga untuk esok hari.
Apa yang dilakukan bukanlah solusi besar. Ia tidak mengubah kebijakan, tidak pula menyelesaikan akar persoalan. Namun di tengah kekosongan perhatian yang dirasakan, langkah kecil itu menjadi sangat berarti.
Di saat banyak yang menunggu, ia memilih bergerak. Dan dari sana, sebuah pelajaran sederhana muncul bahwa di tengah krisis, kadang yang paling dibutuhkan bukanlah kekuatan besar melainkan kepedulian yang tulus, yang hadir tepat waktu.
Setelah melewati diskusi panjang yang dipenuhi kegelisahan, masyarakat terdampak di desa tersebut akhirnya hanya bisa bertumpu pada satu pilihan yang tersisa untuk saat ini yakni kembali ke laut.
Setiap pagi, mereka menyusuri pesisir dan lumpur-lumpur dangkal, mencari apa saja yang bisa bernilai jual seperti siput, makaohe, hingga lokan. Hasilnya tak seberapa, jauh dari cukup jika dibandingkan dengan penghasilan saat masih bekerja di panglong arang. Namun dalam keterbatasan itu, mereka tetap bertahan. Setidaknya, ada yang bisa dibawa pulang untuk menyambung hidup hari demi hari.
Hanya saja, persoalan tak berhenti di situ. Apa yang mereka dapatkan dari laut sering kali terkendala di pemasaran. Tangkapan ada, tapi pembeli tak selalu tersedia. Hasil laut yang seharusnya menjadi penyelamat justru kerap tak terserap maksimal.
Melihat kondisi itu, Viola Natassa kembali tergerak. Dengan jaringan relasi yang ia miliki dari para mitra UMKM, ia mencoba membuka jalan kecil yakni membantu menjual hasil tangkapan warga melalui siaran langsung di media sosial dan itu langsung dari lokasi di Desa Sesap.
Langkah itu sederhana, tapi penuh arti. Dari layar ponsel, satu per satu hasil laut diperlihatkan. Tawar-menawar terjadi secara langsung. Pesanan masuk, dan Viola sendiri yang memastikan barang itu sampai ke tangan pembeli di Selatpanjang.
Olla begitu ia akrab disapa tak menutupi apa yang ia rasakan.
“Sedihnya seperti tak dapat nak diceritakan… kepala rasa tak dapat berhenti berfikir apa solusi yang terbaik. Hari ini saya yang langsung ke Sesap untuk live jualan tangkapan hasil laut warga di sana dan bagi yang order saya bawa ke Selatpanjang. Itu yang dapat dibuat sekarang. Alhamdulillah penjualan makaohe laris manis, bahkan ada pesanan sampai besok. Warga pun jadi semakin semangat untuk berburu,” ujarnya.
Dari satu langkah kecil itu, perlahan harapan mulai tumbuh kembali. Warga yang sebelumnya ragu, kini mulai berani kembali ke laut dengan semangat baru—karena mereka tahu, hasil jerih payahnya tak lagi sia-sia.
Namun upaya itu tak berhenti di sana.
Viola juga membuka peluang lain. Ia mengajak warga yang memiliki keterampilan membuat kue atau makanan ringan untuk menitipkan hasil olahan mereka di “Tentang Rasa”. Sebuah ruang yang ia bangun bukan sekadar sebagai tempat jual beli, tetapi sebagai wadah bertemunya harapan.
Bagi Viola, “Tentang Rasa” bukan hanya tentang makanan. Ia adalah tentang cerita, tentang perjuangan pelaku usaha kecil, tentang tangan-tangan sederhana yang terus berusaha bertahan, dan tentang mimpi-mimpi kecil yang ingin tetap hidup.
Di tengah geliat ekonomi lokal Kepulauan Meranti, kehadiran “Tentang Rasa” perlahan memberi warna. Ia menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekonomi dari akar rumput dan dari dapur-dapur rumah warga, dari tangan-tangan ibu rumah tangga, hingga dari hasil laut yang dikumpulkan dengan penuh harap.
Viola percaya, usaha tak semata soal untung dan rugi. Lebih dari itu, ia adalah jalan untuk saling menguatkan.
Dari mengajak ibu rumah tangga berkarya di dapur mereka sendiri, membuka ruang kerja bagi warga sekitar, hingga menciptakan ekosistem usaha yang tumbuh bersama—semua dilakukan dengan satu tujuan sederhana yakni memberi manfaat.
“Bagi kami, yang penting adalah bagaimana sebuah usaha bisa bermanfaat, memberi peluang bagi banyak orang, dan membawa dampak baik,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan yang masih membayangi, apa yang dilakukan mungkin belum mampu menjawab seluruh persoalan. Namun setidaknya, di antara gelombang kesulitan yang datang bertubi-tubi, masih ada tangan-tangan yang memilih untuk saling menggenggam. Dan dari sana, harapan itu perlahan kembali menemukan jalannya.
Di tengah upaya yang terus dirajut dari hari ke hari, donasi yang terkumpul tak dibiarkan mengendap begitu saja. Viola Natassa telah menyiapkan langkah berikutnya yakni langkah yang mungkin sederhana, namun menyentuh kebutuhan paling dasar manusia.
Ia berniat mengubah kepedulian itu menjadi paket-paket sembako, termasuk menyediakan satu ton beras untuk dibagikan kepada warga terdampak di Desa Sesap dan sekitarnya. Saat ini, ia tengah berupaya mencari pemasok beras lokal dengan kualitas terbaik, agar bantuan yang diberikan bukan sekadar ada, tetapi juga layak dan bermanfaat.
Di balik rencana itu, tersimpan pemahaman sederhana bahwa di tengah krisis, yang paling dibutuhkan bukan hanya harapan, tetapi juga kepastian bahwa hari ini mereka masih bisa makan.
Bagi Viola, apa yang ia bangun melalui “Tentang Rasa” tak pernah berhenti pada urusan cita rasa makanan. Lebih dari itu, ia ingin usahanya menjadi ruang untuk ikut merasakan—menyerap kegelisahan, memahami kesulitan, dan hadir di tengah orang-orang yang selama ini hidup di pinggiran, jauh dari sorotan.
Ia tak berbicara tentang perubahan besar. Ia tahu batasnya. Namun justru dari kesadaran itulah, langkah-langkah kecil menjadi begitu berarti.
“Kita memang belum bisa melakukan hal besar, tapi hal kecil seperti saat ini sudah sangat berarti. Semoga dengan sentuhan ini masyarakat di sana bisa kembali tersenyum…” tuturnya lirih.
Di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian di Kabupaten Kepulauan Meranti, niat itu menjadi secercah cahaya. Bukan untuk menyelesaikan semua persoalan, tetapi cukup untuk menghangatkan bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang mau berbagi, dan masih ada harapan yang bisa dijaga, meski dari hal-hal yang paling sederhana.
Sebelumnya diberitakan, Akiat, seorang warga Suku Akit yang sejak lama menggantungkan hidup sebagai pekerja panglong arang, menuturkan kisahnya dengan nada lirih. Baginya, penutupan panglong arang bukan sekadar penghentian aktivitas usaha, tetapi seperti memutus satu-satunya jalan hidup yang ia kenal selama ini.
Di balik kebijakan yang digulirkan demi menyelamatkan lingkungan, ada realitas yang tak bisa dihindari. Akiat dan ratusan warga lain hidup dari pekerjaan yang sama yakni menebang bakau, mengangkutnya, lalu menjualnya ke panglong arang. Bagi mereka, ini bukan pilihan, melainkan satu-satunya kemampuan yang dimiliki.
“Kerjaan lain tak semua orang bisa. Kerja di kilang sagu, di kebun, itu tak semua diterima. Kami ini hanya tahu kerja ini,” katanya.
Penghasilan yang didapat pun jauh dari kata cukup. Dalam sehari, Akiat mengaku hanya mampu mengumpulkan sekitar 300 kilogram kayu, dengan harga jual yang sangat rendah.
“Harga jualnya hanya Rp 270 perak saja perkilo dan dalam sehari hanya dapat Rp 70 ribu. Kalau dibilang cukup, ya tidak cukup. Tapi itulah yang kami punya,” ucapnya pelan.
Kini, sejak panglong ditutup dan garis polisi dipasang, kehidupan mereka berubah drastis. Tak ada lagi tempat menjual kayu, tak ada lagi penghasilan harian. Untuk bertahan hidup, Akiat terpaksa mencari alternatif lain yang jauh dari cukup.
“Kadang kami cari sibut, seharian dapat dua kilo, harganya Rp50 ribu. Itu pun susah. Tak cukup untuk kebutuhan,” tuturnya.
Di rumah, kebutuhan terus berjalan. Anak-anak butuh makan, butuh susu, butuh biaya sekolah. Sementara bantuan pemerintah, menurutnya, tidak bisa diandalkan untuk jangka panjang.
“Bantuan itu kan tak tiap hari. Bisa dua bulan, tiga bulan sekali. Kami butuh kerja, bukan sekadar bantuan. Dengan adanya penutupan ini pengangguran semakin bertambah di Kepulauan Meranti dan kemiskinan semakin meningkat,” tegasnya.
Ia pun menyinggung program bantuan seperti makanan bergizi gratis yang hanya menyasar anak sekolah. Sementara mereka yang di rumah tetap harus berjuang sendiri.
“Anak yang tak sekolah, kami yang di rumah, tak dapat apa-apa. Kalau begini terus, kami mau makan apa?” katanya.
Dalam kondisi serba sulit itu, Akiat mengaku masih berusaha bertahan di jalur yang benar. Namun ia tak menutup mata bahwa tekanan hidup bisa membawa siapa saja pada pilihan yang tak diinginkan.
"Ujung-ujungnya kami mati kelaparan, untung saja kami tidak mencuri karena kami masih menunggu kebijakannya pemerintah pusat dan pemerintah pusat. Kami hanya berharap jangan sampai ke sana,” ujarnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bagi Akiat, persoalan ini bukan semata soal larangan atau penegakan hukum. Ia memahami bahwa menjaga lingkungan itu penting. Ia pun tak menolak aturan. Namun yang ia harapkan adalah kehadiran negara yang utuh;bukan hanya melarang, tetapi juga memberi jalan keluar.
“Kalau memang dilarang, kami terima. Tapi sediakan kami pekerjaan. Itu saja. Jangan hanya melarang tanpa solusi,” katanya.
Kini, hari-hari di Desa Sesap berjalan dalam ketidakpastian. Tungku-tungku arang yang dulu menyala kini padam. Aktivitas yang dulu menjadi denyut ekonomi desa perlahan menghilang. Dan di balik sunyinya panglong arang, tersimpan kegelisahan panjang masyarakat kecil yang masih menunggu apakah akan ada jalan baru, atau mereka harus bertahan dalam gelap yang tak pasti.
Namun yang lebih sunyi, justru datang dari dalam rumah-rumah warga.
Dapur-dapur yang selama ini bergantung pada penghasilan harian dari panglong, kini juga terancam ikut kehilangan “asapnya”. Tak ada lagi nasi yang bisa dimasak di pagi hari dengan rasa tenang. Tak ada lagi kepastian bahwa esok anak-anak akan tetap makan seperti biasa.
Bagi sebagian orang, penutupan panglong mungkin sekadar kebijakan. Tapi bagi mereka yang hidup dari sana, itu adalah garis batas antara bertahan dan terpuruk. Ketika sumber penghasilan berhenti, dapur pun ikut berhenti.
Dan di balik pintu-pintu rumah sederhana itu, kesedihan tidak lagi perlu diucapkan. Ia hadir dalam diam dan dalam piring yang kosong, dalam tungku yang dingin, dan dalam harapan yang perlahan memudar.
Andi, warga Suku Akit lainnya, menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang merasakan dampak paling nyata dari penutupan itu. Baginya, hidup yang sebelumnya sudah sulit, kini terasa semakin berat, seolah tak lagi punya pijakan.
“Kami ini sebenarnya sudah susah. Tapi sejak panglong ditutup, kami jadi semakin susah,” ujarnya lirih.
Ia menatap jauh, seakan menghitung kebutuhan yang tak pernah berhenti datang. Harga beras yang terus naik, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan harian yang tak bisa ditunda—semuanya kini harus dihadapi tanpa kepastian penghasilan.
“Harga beras sudah berapa sekarang. Anak sekolah, belum lagi kebutuhan lain. Mau tak mau, kami tetap cari siput. Walaupun entah sampai kapan bisa bertahan seperti ini,” katanya.
Bagi Andi, mencari siput bukanlah pilihan yang layak, melainkan keterpaksaan. Hasilnya tak seberapa, tenaganya terkuras, dan harapannya pun tipis. Namun di situlah satu-satunya jalan yang tersisa, setidaknya untuk hari ini.
Meski demikian, Andi menegaskan bahwa dirinya tidak menolak kebijakan pemerintah. Ia menghargai keputusan yang diambil, apalagi jika itu demi kepentingan yang lebih besar seperti menjaga lingkungan. Namun, ia berharap pemerintah juga melihat sisi lain yang tak kalah penting yakni nasib mereka yang kini kehilangan pegangan.
“Kami hargai keputusan pemerintah. Tapi pemerintah juga harus tahu, kami ini rakyat yang sudah tak punya usaha. Kami hanya bergantung dari kerja di tempat orang,” katanya.
Kini, hari-hari Andi dan warga lainnya berjalan dalam ketidakpastian. Mereka tetap bangun pagi, tetap mencari cara untuk bertahan, meski hasilnya tak pernah pasti. Di balik kesederhanaan hidup mereka, ada harapan yang terus disimpan bahwa suatu hari nanti, akan ada jalan keluar yang benar-benar membuka harapan, bukan sekadar menutup yang sudah ada. (R-01)

