Hadir di Pemakaman Balita Korban Pemerkosaan, Kapolres Rohil Janji Usut Tuntas!
Kapolres Rokan Hilir, Kapolres Rohil AKBP, Isa Imam Syahroni, didampingi Wakil Bupati Rohil, Jhony Charles, menabur bunga di atas pusara bocah 4 tahun yang tewas karena kekerasan seksual. (polres rohil)
RIAU, SabangMerauke News - Pemakaman bocah korban dugaan pemerkosaan di Kecamatan Bagan Sinembah memantik duka mendalam dan menyayat, Sabtu pagi, 2 Mei 2026. Sejumlah pejabat di Kabupaten Rohil datang untuk menghantar kepergian bocah berusia 4 tahun tersebut.
Kapolres Rohil AKBP, Isa Imam Syahroni, tiba sekitar pukul 10.30 WIB bersama rombongan pejabat. Di dalam rombongan pejabat itu terlihat Wakil Bupati Rohil, Jhony Charles, sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Rohil dan Polres Rohil. Juga tampak Kapten Inf Khairul, Danramil setempat.
“Ini duka mendalam. Kami berjanji mengusut tuntas kasus ini tanpa kompromi,” ujar AKBP Isa Imam Syahroni dalam sambutannya di sela-sela acara pemakaman. Suaranya tegas bercampur lirih menyaksikan keluarga korban menangis.Ia menegaskan kehadiran aparat sebagai simbol negara yang hadir di tengah warga yang menghadapi tragedi memilukan.
Tanah merah menimbun peti kecil, menggambarkan akhir perjalanan hidup yang belum sempat berkembang jauh. Warga sekitar berdiri diam, sebagian menunduk, sebagian lain menahan isak saat doa dipanjatkan bersama. Suasana terasa berat, seolah desa kecil itu kehilangan sesuatu yang tak tergantikan dalam sekejap waktu.
Korban sebelumnya sempat dirawat setelah mengalami demam berkepanjangan sejak Senin, 27 April 2026 lalu. Orang tua awalnya membawa anak ke bidan, diagnosis mengarah dehidrasi tanpa tanda mencurigakan serius. Namun, kondisi terus memburuk meski obat penurun panas diberikan secara rutin selama beberapa hari.
Perubahan mengejutkan muncul saat korban dirawat di puskesmas pada Rabu, 29 April 2026, malam hari. Darah terlihat pada pampers korban, memicu kepanikan dan pemeriksaan medis lanjutan secara cepat. Dokter menemukan luka serius pada organ intim yang mengindikasikan trauma akibat benda tumpul.
“Temuan medis menunjukkan adanya kekerasan serius pada bagian sensitif korban,” kata Isa Imam Syahroni. Pernyataan tersebut memperkuat dugaan awal terkait tindak kekerasan seksual yang dialami korban kecil. Korban kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan intensif dalam kondisi sudah sangat kritis.
Upaya medis dilakukan maksimal di RS Awal Bros Bagan Batu selama beberapa jam menegangkan tersebut. Namun nyawa korban tidak tertolong, meninggal Jumat, 1 Mei 2026 sekitar pukul 03.35 WIB dini hari. Kabar duka menyebar cepat, mengguncang warga dan memicu perhatian luas di berbagai kalangan masyarakat.
Pemakaman menjadi titik emosional, mempertemukan duka keluarga dengan tuntutan keadilan dari warga sekitar. Banyak warga datang tanpa undangan resmi, menunjukkan empati mendalam terhadap tragedi yang terjadi. Beberapa terlihat membawa bunga, sebagian hanya berdiri diam sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap korban.
Kasat Reskrim Polres Rohil, AKP Kris Tofel, yang juga hadir pada pemakaman itu, mengatakan penyelidikan tetap berjalan meski suasana duka menyelimuti keluarga dan lingkungan sekitar. “Kami fokus mengumpulkan bukti dan memastikan pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujar Kris Tofel.
Penyelidikan mengarah pada sosok pria berinisial S (45 tahun), yang masih merupakan kakek korban. Kecurigaan muncul setelah pemeriksaan saksi mengungkap pola interaksi mencurigakan dalam beberapa hari terakhir. Pelaku awalnya membantah, namun akhirnya mengakui perbuatan setelah pemeriksaan intensif oleh penyidik.
Pengakuan itu membuka fakta kelam, tindakan dilakukan saat korban dimandikan dan hendak ditidurkan malam. Keterangan saksi lain memperkuat, korban sering tidur bersama pelaku di kamar belakang rumah keluarga. Temuan ini mempertegas dugaan kekerasan berulang yang berujung pada luka fatal dan kematian korban.
“Gerak-gerik pelaku sempat mencurigakan saat laporan dibuat di kantor polisi,” kata Suherman, Koordinator SUMBER. Ia mengaku tidak menyangka pelaku ikut mendampingi keluarga saat pelaporan awal kasus dilakukan. Suherman menilai kejadian ini menjadi pelajaran keras bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap lingkungan sekitar.
Barang bukti berupa kasur, pakaian, serta perlengkapan lain diamankan untuk kepentingan proses hukum yang berjalan. Polisi juga menunggu hasil autopsi sebagai dasar ilmiah untuk memperkuat konstruksi perkara dalam penyidikan lanjutan. Koordinasi dilakukan dengan laboratorium forensik guna memastikan detail penyebab kematian korban secara pasti.
Kapten Inf Khairul memberikan dukungan moral kepada keluarga korban berduka tersebut. Ia menyebut kejadian ini mengguncang rasa aman warga dan memerlukan perhatian serius dari semua elemen masyarakat. “Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Perlindungan anak harus menjadi prioritas bersama,” ujarnya.
Pemakaman bukan sekadar akhir perjalanan, tetapi awal tuntutan keadilan bagi korban yang tak bersuara lagi. Warga berharap proses hukum berjalan transparan dan memberikan hukuman setimpal kepada pelaku kejahatan. Kasus ini menjadi pengingat keras tentang ancaman nyata yang bisa datang dari lingkaran terdekat keluarga.
Di tengah tanah yang masih basah, doa terus mengalir dari mulut warga yang berdiri mengelilingi makam. Sebagian menyalakan lilin, sebagian lain menggenggam tangan keluarga korban sebagai bentuk empati mendalam. Kesedihan menyatu dengan harapan, agar keadilan benar-benar hadir menggantikan luka yang tersisa panjang. R-02

