Pembunuhan Nenek di Rumbai: Mantan Menantu Terekam CCTV Salami Korban Sebelum Menghabisi Nyawanya!
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, menyampaikan keterangan pada wartawan di rumah duka. (sumber: cakaplah.com)
RIAU, SabangMerauke News - Kasus pembunuhan lansia di Rumbai, Pekanbaru, memasuki fase krusial. Polisi kembali menggelar olah tempat kejadian perkara kedua demi mengunci bukti penting. Langkah ini membuka serpihan fakta baru yang sebelumnya tersembunyi di balik rumah sunyi.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol Hasyim Risahondua, memimpin pendalaman kasus. Ia menegaskan setiap detail kecil kini diperiksa ulang untuk memastikan alur kejadian jelas. “Langkah ini memastikan tidak ada fakta terlewat serta memperkuat alat bukti,” ujarnya tegas, Jumat, 1 Mei 2026.
Peristiwa bermula pada Rabu, 29 April 2026, pagi saat rumah tampak tenang tanpa tanda bahaya. Korban, Dumaris Deny Wati br Sito, 60 tahun, memilih tinggal di rumah sendirian. Keputusan sederhana itu berubah menjadi awal tragedi yang mengguncang warga sekitar Rumbai.
Sekitar pukul 11.00 WIB, suami korban, Salmon Meha, pulang dari urusan pajak kendaraan. Pintu rumah terbuka, suasana berantakan, sunyi terasa janggal di setiap sudut ruangan. Ia menemukan istrinya tertelungkup di dapur dengan bercak darah menggenang di lantai.
Kabar kematian cepat menyebar, memicu kepanikan sekaligus rasa penasaran warga sekitar lokasi. Tim Inafis segera datang melakukan olah TKP awal pada sore hari penuh ketegangan. Sidik jari, barang bukti, dan jejak pelaku mulai dikumpulkan dengan metode investigasi teliti.
Jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru untuk pemeriksaan lanjutan. Autopsi dilakukan guna memastikan penyebab kematian sekaligus memperkuat konstruksi hukum kasus. Langkah medis ini menjadi fondasi penting dalam membangun narasi kejadian sebenarnya.
Sejauh ini, empat saksi telah diperiksa untuk membantu merangkai potongan peristiwa misterius. Keterangan mereka membuka jalur analisis terkait pergerakan pelaku sebelum dan sesudah kejadian. Polisi menyebut penyelidikan bergerak cepat meski pelaku belum berhasil diamankan.
Petunjuk paling mencolok muncul dari rekaman kamera pengawas yang terpasang di rumah korban. Dalam video tersebut, seorang perempuan yang diduga mantan menantu korban terlihat di lokasi. Ia datang bersama beberapa orang lain, membangun dugaan kuat akan keterlibatan kelompok terorganisir.
Kanit Reskrim Polsek Rumbai, Iptu Dodi Vivino, mengonfirmasi analisis rekaman tersebut. “Identitas pelaku sudah diketahui dan sedang kami kembangkan untuk penangkapan,” katanya. Pernyataan itu menandai fase perburuan intensif yang kini terus berlangsung tanpa jeda.
Rekaman memperlihatkan interaksi awal antara korban dan terduga pelaku berlangsung normal. Namun, suasana berubah drastis ketika seorang pria datang membawa benda keras mencurigakan. Serangan brutal terjadi cepat, meninggalkan jejak kekerasan yang terekam jelas dalam video.
Setelah korban tak berdaya, pelaku terlihat membawa tas berisi barang dari dalam rumah. Indikasi pencurian menguat seiring laporan hilangnya perhiasan, uang, dan telepon genggam. Motif ekonomi kini menjadi salah satu fokus utama penyidik dalam membedah kasus ini.
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, turut memberikan keterangan resmi. “Barang hilang termasuk cincin, uang 400 dolar Singapura, serta handphone korban,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kasus ini mendapat perhatian serius dari pimpinan kepolisian daerah setempat.
Fakta lain mengemuka ketika diketahui rumah korban pernah mengalami percobaan pembobolan sebelumnya. Peristiwa itu terjadi pada awal April 2026 dan memicu pemasangan kamera pengawas tambahan. Tanpa disadari, kamera tersebut justru menjadi saksi kunci tragedi berdarah di kemudian hari.
Tim penyidik kini juga mendalami kemungkinan keterlibatan orang dekat dalam lingkaran korban. Hubungan keluarga menjadi salah satu jalur investigasi yang dinilai memiliki potensi motif kuat. Pendekatan ini dilakukan dengan hati-hati mengingat sensitivitas hubungan personal dalam kasus.
Sementara itu, anak korban berinisial A turut diperiksa untuk melengkapi rangkaian informasi. Dalam pemeriksaan awal, ia mengaku tidak mengetahui kejadian tragis yang menimpa ibunya. Sikap diamnya menjadi perhatian penyidik yang terus menggali keterangan tambahan lebih dalam.
Olah TKP kedua menjadi langkah strategis untuk memverifikasi ulang seluruh temuan lapangan. Setiap sudut rumah diperiksa kembali guna menemukan detail kecil yang mungkin terlewat sebelumnya. Proses ini memperlihatkan keseriusan aparat dalam membongkar kasus hingga ke akar terdalam.
Polisi juga melibatkan tim teknis seperti Inafis dan DVI dalam mendukung proses investigasi. Pendekatan ilmiah digunakan untuk memastikan setiap bukti memiliki kekuatan hukum yang solid. Langkah ini sekaligus menghindari kesalahan interpretasi dalam penentuan tersangka nantinya.
Selain fokus pada pelaku, perhatian juga diberikan pada kondisi psikologis keluarga korban. Tim khusus diterjunkan untuk memberikan pendampingan trauma akibat peristiwa mengejutkan ini. Pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam penanganan kasus dengan dampak emosional tinggi.
Rencana pemakaman korban dijadwalkan Sabtu, 2 Mei 2026 dengan suasana duka mendalam keluarga. Warga sekitar turut merasakan kehilangan dan berharap pelaku segera ditangkap tanpa kompromi. Kasus ini meninggalkan luka sosial sekaligus ketakutan yang merambat di lingkungan sekitar.
Hingga kini, motif pasti pembunuhan masih terus didalami melalui kombinasi bukti dan keterangan. Polisi memastikan proses penyelidikan berjalan maksimal tanpa mengabaikan satu detail pun. “Kami terus bekerja maksimal untuk mengungkap kasus ini secara tuntas,” tegas Hasyim.
Di balik rumah sederhana itu, jejak kekerasan membuka cerita kelam yang belum sepenuhnya terjawab. Setiap potongan bukti menjadi kunci menuju identitas pelaku yang masih dalam bayang-bayang. Publik kini menunggu akhir cerita, saat keadilan benar-benar menemukan jalannya tanpa kompromi. R-02

