Bukittinggi Membara! 16 Damkar Turun, Puluhan Ruko Hangus Dalam 2 Jam Mencekam
Musibah kebakaran di pusat pertokoan Tarok Jalan Sutan Syahrir, Bukittinggi, Jumat sore, 1 Mei 2026. (antarafoto)
SUMBAR, SabangMerauke News - Kebakaran besar terjadi di Bukittinggi pada Jumat sore, 1 Mei 2026. Api yang menghanguskan puluhan bangunan memicu kepanikan massal warga kota. Api muncul pukul 15.45 WIB di kawasan Tarok, cepat merambat melahap ruko, warung, rumah warga. Sebanyak 16 armada dan 100 personel Damkar dikerahkan memadamkan kobaran yang sulit dikendalikan.
Langit kota berubah kelabu ketika asap hitam membumbung tinggi dari jantung aktivitas perdagangan Bukittinggi. Warga berlarian menyelamatkan barang berharga sambil berteriak panik melihat api melompat antarbangunan.Kemacetan panjang mengunci ruas Jalan Sutan Syahrir dan Hafiz Jalil akibat kerumunan warga yang memadati lokasi.
Kepala DPKP Bukittinggi, Joni Feri, mengungkap tim bergerak cepat usai menerima laporan kebakaran. “Total 100 personel kami kerahkan dari berbagai daerah untuk memadamkan api,” ujar Joni Feri, Jumat sore. Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas daerah menjadi kunci untuk menghadapi kebakaran besar berskala kota tersebut.
Api menjalar ganas dari warung semi permanen menuju deretan ruko bertingkat tiga di sekitarnya. Material bangunan padat dan saling berdempetan membuat api mudah meloncat tanpa hambatan berarti. Kondisi gerimis tidak mampu meredam kobaran, justru menambah tantangan bagi petugas di lapangan.
Sebanyak empat rumah semi permanen, sepuluh warung, dan tujuh ruko tiga lantai dilaporkan hangus. Beberapa toko besar seperti Klinik Tasqi dan toko perlengkapan anak turut dilalap api yang brutal. Warga hanya mampu menyelamatkan sebagian kecil barang sebelum api menguasai seluruh bangunan.
Petugas Damkar sempat menghadapi kendala serius akibat kekurangan pasokan air selama operasi berlangsung. “Kami sempat kehabisan air karena kejadian sebelumnya, lalu ambil tambahan dari Tabek Gadang,” kata Joni Feri. Ia menyebut kondisi tersebut memperlambat pemadaman saat api sedang berada pada fase paling agresif.
Bantuan datang dari berbagai daerah sekitar Sumatera Barat yang mengirim armada dan personel tambahan. Unit dari Agam, Payakumbuh, Padang Panjang, hingga Kabupaten Solok bergabung dalam operasi pemadaman tersebut. Kolaborasi ini membentuk garis pertahanan untuk mencegah api merambat lebih luas ke kawasan padat.
Petugas berjibaku lebih dari dua jam sebelum akhirnya api berhasil dikendalikan sekitar pukul 18.00 WIB. Proses pendinginan dilakukan intensif guna mencegah munculnya titik api baru yang bisa memicu kebakaran ulang. Meski api padam, aroma hangus dan puing bangunan masih memenuhi udara hingga malam hari.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, terlihat langsung memantau proses pemadaman di lokasi kejadian. Ia berusaha menenangkan warga terdampak yang kehilangan tempat usaha dan tempat tinggal dalam hitungan menit. Kehadirannya memberi sedikit ketenangan di tengah situasi kacau dan penuh ketidakpastian tersebut.
“Fokus utama sekarang memastikan api benar-benar padam dan warga aman,” ujar Ramlan Nurmatias di lokasi. Ia juga meminta seluruh instansi bergerak cepat membantu korban yang terdampak kebakaran besar ini. Pemerintah kota menyiapkan lokasi evakuasi sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Peristiwa ini menjadi kebakaran kedua dalam satu hari yang mengguncang Bukittinggi secara beruntun. Sebelumnya, kebakaran terjadi di kawasan Bukit Apit yang menghanguskan satu rumah permanen warga. Rentetan kejadian ini membuat petugas Damkar bekerja tanpa jeda menghadapi tekanan situasi darurat.
Kerugian akibat kebakaran diperkirakan mencapai miliaran rupiah berdasarkan data sementara petugas lapangan. Pendataan masih berlangsung karena banyak bangunan belum bisa diakses akibat kondisi pasca kebakaran. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, meski sejumlah warga mengalami syok akibat kejadian tersebut.
Polresta Bukittinggi kini melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran yang terjadi. Dugaan awal mengarah pada sumber api dari salah satu warung sebelum menyebar ke bangunan lain. Namun, hasil resmi masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut dari tim investigasi terkait.
Suasana lokasi berubah sunyi setelah api padam, menyisakan puing dan arang hitam berserakan. Beberapa warga duduk terpaku menatap sisa bangunan yang dulu menjadi sumber penghidupan keluarga. Kisah kehilangan terasa nyata, membungkus kota dengan duka yang sulit diabaikan begitu saja.
Peristiwa ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran di kawasan padat perkotaan. Bangunan rapat, instalasi listrik kompleks, serta aktivitas perdagangan meningkatkan risiko kebakaran besar. Langkah mitigasi menjadi kebutuhan mendesak agar kejadian serupa tidak terulang kembali. R-02

