Amerika Habiskan 100 Miliar Dolar Berperang dengan Iran, Pentagon Ungkap Angka 25 Miliar Dolar
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Menteri Iran mengklaim biaya perang Amerika Serikat (AS) telah membengkak jauh melampaui angka resmi yang disampaikan Pentagon. Dalam pernyataan terbarunya, Teheran menyebut total biaya konflik itu telah mencapai sekitar 100 miliar dolar AS, atau setara lebih dari Rp1.700 triliun.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang secara terang-terangan menuding pemerintah AS tidak transparan dalam mengungkap beban keuangan perang. Ia bahkan menyebut Pentagon telah “berbohong” terkait angka biaya yang dipublikasikan kepada publik.
Menurut Araghchi, angka yang disampaikan Amerika Serikat sejauh ini sangat meremehkan dampak ekonomi sesungguhnya dari konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 tersebut. Ia menilai, perhitungan resmi hanya mencakup biaya langsung militer, tanpa memasukkan dampak tidak langsung yang jauh lebih besar.
“Spekulasi berisiko yang dilakukan pihak tertentu telah merugikan Amerika hingga 100 miliar dolar AS, empat kali lipat dari yang diklaim,” ujar Araghchi dalam pernyataannya.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa beban tersebut pada akhirnya ditanggung oleh masyarakat Amerika sendiri. Araghchi mengklaim, setiap rumah tangga di AS kini harus menanggung biaya tambahan sekitar 500 dolar AS per bulan akibat konflik tersebut, dan jumlah itu terus meningkat seiring berlanjutnya perang.
Tak hanya itu, ia juga mengkritik kebijakan luar negeri Washington, terutama terkait dukungan terhadap Israel. Dalam pernyataannya, Araghchi menyindir bahwa kebijakan “Israel First” justru merugikan kepentingan nasional Amerika Serikat sendiri.
Di sisi lain, pemerintah AS melalui Pentagon sebelumnya telah merilis angka resmi terkait biaya perang. Dalam kesaksiannya di hadapan Kongres, pejabat Pentagon Jules Hurst menyebut bahwa operasi militer yang dinamakan “Operation Epic Fury” sejauh ini telah menghabiskan sekitar 25 miliar dolar AS.
Angka tersebut menjadi estimasi resmi pertama yang dipublikasikan sejak konflik pecah. Namun, perbedaan mencolok antara klaim Iran dan data Pentagon memunculkan perdebatan mengenai transparansi dan metode perhitungan biaya perang.
Konflik ini sendiri bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut kemudian memicu respons balasan dari Teheran terhadap sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk.
Situasi semakin memanas ketika Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia—sempat ditutup, menyebabkan gangguan signifikan terhadap distribusi minyak dan gas global. Dampaknya pun terasa hingga ke pasar internasional, memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui mediasi Pakistan, yang menghasilkan gencatan senjata pada 8 April 2026. Namun, gencatan tersebut belum menghasilkan perdamaian permanen.
Pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad pada 11–12 April juga belum mencapai kesepakatan konkret. Bahkan, Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu yang jelas, atas permintaan pihak Pakistan.
Di tengah situasi tersebut, perbedaan klaim biaya perang menjadi sorotan penting. Sejumlah pihak menilai bahwa angka yang lebih besar seperti yang diklaim Iran kemungkinan mencakup biaya tidak langsung, seperti dampak ekonomi, logistik, serta beban sosial yang ditanggung masyarakat.
Sementara itu, angka resmi Pentagon kemungkinan hanya menghitung pengeluaran militer langsung, seperti biaya operasi, logistik tempur, dan persenjataan.
Perbedaan pendekatan dalam menghitung biaya ini kerap terjadi dalam konflik berskala besar, di mana dampak ekonomi sering kali jauh lebih luas dibandingkan biaya militer semata.
Di Amerika Serikat sendiri, isu biaya perang mulai menjadi perhatian publik. Seiring berjalannya waktu, tekanan terhadap pemerintah meningkat, terutama terkait transparansi anggaran dan dampaknya terhadap ekonomi domestik.
Beberapa laporan juga menunjukkan bahwa konflik ini telah memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi dan harga energi, yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dengan kondisi yang masih belum stabil dan belum adanya kesepakatan damai permanen, biaya perang diperkirakan akan terus bertambah. Hal ini menambah kompleksitas konflik yang tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga pada ekonomi global.
Pernyataan Iran yang menyebut angka 100 miliar dolar AS pun semakin mempertegas bahwa perang modern tidak hanya diukur dari kemenangan militer, tetapi juga dari beban ekonomi yang ditimbulkannya.
Perbedaan klaim antara Iran dan Amerika Serikat ini menunjukkan bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam konflik internasional tetap menjadi isu krusial, terutama ketika dampaknya meluas hingga ke masyarakat sipil. (R-03)

