Pilot Sibuk Ngonten, Dua Jet Tempur Korsel Tabrakan di Udara! Biaya Miliaran Melayang
Ilustrasi Dua jet tempur Korea Selatan bertabrakan di udara setelah pilot sibuk mengambil foto dan video. Foto : AI
Kores Selatan, SABANGMERAUKE NEWS - Dua jet tempur Korea Selatan bertabrakan di udara setelah pilot sibuk mengambil foto dan video.
Insiden udara serius terjadi di Daegu saat dua jet tempur bertabrakan saat menjalankan misi penerbangan militer.
Otoritas menyebut kecelakaan dipicu aktivitas pilot yang merekam foto dan video menggunakan ponsel pribadi.
Peristiwa ini langsung memicu kritik terhadap disiplin operasional dan standar keselamatan dalam penerbangan militer.
Kedua pilot dilaporkan selamat tanpa cedera meski pesawat mengalami kerusakan signifikan pada beberapa bagian penting.
Kerusakan meliputi sayap kiri pesawat utama serta stabilisator ekor pesawat pendamping dalam insiden tersebut.
Biaya perbaikan ditaksir mencapai 880 juta won atau sekitar Rp10,2 miliar membebani anggaran militer.
Investigasi Seoul’s Board of Audit and Inspection mengungkap aktivitas perekaman menjadi pemicu utama kecelakaan udara tersebut.
Pilot wingman diketahui berupaya mengabadikan momen penerbangan terakhir bersama unit militernya saat itu.
Kebiasaan mengambil foto dalam misi disebut lazim terjadi pada periode tersebut tanpa pengawasan ketat.
“Saya ingin mengabadikan penerbangan terakhir bersama unit,” ujar pilot wingman dalam laporan investigasi resmi.
Ia mengaku melakukan manuver mendadak agar pesawatnya terlihat jelas dalam rekaman video tersebut.
Manuver itu membuat jarak antar pesawat menjadi sangat dekat hingga akhirnya tidak terhindarkan tabrakan.
Pilot pesawat utama sempat mencoba menghindari tabrakan dengan menurunkan ketinggian secara cepat dan agresif.
Namun upaya tersebut gagal karena jarak antar jet sudah terlalu dekat akibat perubahan posisi mendadak.
Benturan akhirnya terjadi dan menyebabkan kerusakan struktural pada kedua pesawat tempur jenis F-15K.
Pasca insiden, angkatan udara menonaktifkan pilot wingman dari tugas operasional militer aktif.
Pilot tersebut kemudian keluar dari dinas militer dan beralih bekerja di maskapai penerbangan komersial.
Militer sempat menuntut ganti rugi penuh atas biaya perbaikan pesawat yang mengalami kerusakan.
Namun dewan audit memutuskan tanggung jawab tidak sepenuhnya dibebankan kepada pilot wingman tersebut.
Denda akhirnya dikurangi menjadi sepersepuluh dari tuntutan awal setelah mempertimbangkan berbagai faktor penting.
Dewan menilai institusi militer turut lalai karena tidak mengatur penggunaan kamera pribadi secara tegas.
“Angkatan udara juga memiliki tanggung jawab atas kurangnya regulasi penggunaan perangkat pribadi,” tulis dewan audit.
Selain itu, pilot dinilai memiliki rekam jejak baik selama bertugas sebelum insiden terjadi.
Ia juga dianggap berhasil mencegah kerusakan lebih parah dengan mengendalikan pesawat hingga mendarat aman.
Insiden ini menjadi peringatan keras terhadap risiko distraksi di kokpit pesawat militer modern.
Penggunaan perangkat pribadi tanpa aturan ketat dinilai berpotensi memicu kecelakaan serius serupa di masa depan.
Otoritas kini didesak memperketat regulasi keselamatan untuk mencegah insiden akibat kelalaian manusia kembali terjadi.(R-03)

